communicationdomain

Pemimpin dan Kepemimpinan

Posted on: December 18, 2010

by: A.C.S.


1. Pengertian dan Arti Penting

1.1 Pemimpin (Leader)

Peran kepemimpinan dan pemimpin itu sendiri merupakan satu dari sekian banyak peran dengan posisinya dalam suatu kelompok (Shaw, 1979;272). Peran yang dimainkan oleh seorang pemimpin merupakan peran sentra, oleh sebab itu keberadaan pemimpin, merupakan faktor terpenting dalam suatu kelompok. Maju mundurnya suatu kelompok sangat tergantung atas kemampuan sang pemimpin mengelola dan menggembleng para anggotanya untuk mencapai tujuan kelompoknya.

Sebelum melangkah lebih jauh, dalam melihat segi pemimpin ini, terlebih dahulu diajukan pemikiran yang berkaitan dengan pengertian pemimpin itu sendiri dan kepemimpinannya. Masalah untuk mendefinisikan pemimpin dan kepemimpinan telah diajukan jauh sebelumnya oleh Carter (1953) yang mengidentifikasikan berbagai pandangan dan tinjauan mengenai leadership atas beberapa literature. Ia menemukan lima pola pendefinisian yang dilakukan oleh para author (pakar) di bidang ini. Pola Pertama, pemimpin didefinisikan sebagai seorang yang menjadi focus dalam tingkah laku kelompok. Definisi ini menekankan polarisasi para anggota kelompok di sekitar pemimpin. Kedua, pendekatan ini mendefinisikan kepemimpinan dari terminologi tujuan kelompok (Group goals). Pemimpin dalam konteks ini didefinisikan adalah orang (seorang) yang memiliki kemampuan memimpin kelompok yang mengarah ke tujuan-tujuan kelompok. Kebanyakan orang menyetujui definisi ini, akan tetapi Carter, mengatakan ditemukan suatu kesulitan untuk mengidentifikasikan group goals (tujuan-tujuan kelompok tersebut).

Pendekatan ketiga, mendefinisikan pemimpin adalah seorang yang dipilih oleh anggota-anggota kelompok. Pendefinisian ini menimbulknan kepemimpinan dan pemimpin tergantung atas pilihan sosiometrik para anggota kelompok.

Pendekatan keempat, yang diajukan Cattell (1951) dalam hubungan dengan teorinya yang dikenal dengan “Group syntality theory”. Sesuai dengan itu, ia mendefinisikan pemimpin adalah sebagai seorang yang mampu mendemonstrasikan pengaruhnya atas sintalitas kelompok (group syntality). Sedangkan pendekatan kelima yang disenangi Carter sendiri, mengatakan bahwa pemimpin adalah seseorang yang berusaha dalam perilaku kepemimpinan, atau seseorang yang terikat dengan perilaku kepemimpinan.

Dari kelima pendekatan yang diajukan diatas, suatu kesimpulan umum yang dapat diberikan sehubungan dengan pengertian pemimpin tersebut, bahwa pengertian pemimpin mengacu pada orang (individu bersangkutan) dengan segala kemampuannya, sedangkan pengertian kepemimpinan mengacu pada gambaran personal seorang pemimpin, atau tingkah laku, sifat dan sebagainya. Atau, kalau boleh dipertegas, pemimpin itu adalah kata benda, sedangkan kepemiminan adalah kata sifat.

 

1.2 Kepemimpinan

1.2.1. Batasan (umum) Kepemimpinan

 

Sebagaimana diketahui bahwa antara istilah pemimpin dan kepemimpinan itu tidak dapat dipisahkan, karena setiap pemimpin dengan sendirinya pula (baik sadar maupun tidak sadar) membawa kepemimpinan itu sendiri dalam tindakan kesehariannya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pengertian pemimpin mengacu kepada kemampuan individu tersebut. Suatu usaha yang dilakukan seorang pemimpin, tidaklah akan efektif jika tidak diikuti dengan kepemimpinan tersebut.

Jika dilihat dari pola-pola pendekatan yang dilakukan parapakar tentang pengertian kepemimpinan tersebut, sebagaimana juga dengan usaha membatasi pengertian pemimpin, dapat dilihat. Pendekatan pertama memandangnya dari seorang yang dijadikan focus dalam tingkah laku dalam kelompok, di situlah kepemimpinan itu muncul. Pendekatan kedua mengutamakan dari seseorang yang mengarahkan dan mengerahkan kemampuannya ke tujuan0tujuan kelompok, dalam hal ini kepemimpinan itu tumbuh dan berkembang. Pendekatan ketiga kepemimpinan yang dikukuhkan oleh anggota kelompok, melalui pilihan sosiometrik dan sebagainya. Pendekatan keempat dari sudut sintalitas kelompok dan pendekatan kelima mengacu kepada seseorang yang terikat dengan perilaku kepemimpinan itu sendiri.

Jika kita ambil sari semua pendekatan dan definisi yang diajukan para pakart dalam bidang ini dapatlah ditetapkan definisi kepemimpinan tersebut sebagai berikut, Kepemimpinan adalah “suatu usaha yang dilakukan seserang dalam hubungan antar manusia untuk mempengaruhi orang lain, melalui proses komunikasi yang diarahkan ke pencapaian tujuan.” Dari batasan ini factor-faktor terpenting yang terkandung dalam pengertian tersebut adalah:

 

(a). Pendayagunaan pengaruh

(b). Hubungan antar manusia

(c). Proses komunikasi, dan

(d). Pencapaian suatu tujuan.

 

Dalam menjalankan fungsi kepemimpinan, seorang pemimpin tidak dapat begitu saja      menjalankannya tanpa kekuasaan dan wewenang (otoritas) yang dimiliki pemimpin tersebut. Dan dapat disebutkan kepemimpinan tersebut belumlah efektif sebagaimana dikehendaki. Hal ini disebabkan, karena kekuasaan merupakan sumber untuk mempengaruhi orang lain. Dan kekuasaan tersebut merupakan kapasitas atau kesanggupan untuk mempengaruhi. Sedangkan otoritas atau wewenang merupakan hak untuk mempengaruhi para pengikut.

Kembali kepada pengertian kepemimpinan, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, jika dikembangkan lagi dalam pembagian unsur-unsur tersebut dapat dikembangkan sebagai berikut.

1 .Perilaku seseorang pada waktu mengarahkan kegiatan-kegiatan kelompok ke suatu tujuan  bersama.

2. Suatu tipe huungan khusus kekuasaan yang dicirikan oleh pengamatan anggota kelompok bahwa, anggota keelompok yang lain mempunyai hak untuk menentukan pola-pola perilaku anggota kelompok yag disebutkan pertama dalam hubungannya dengan kegiatannya selaku anggota kelompok.

3. Pengaruh antar personal yang dilakukan dalam suatu situasi melalui proses komunikasi ke arah pencapaian suatu tujuan yang sudah ditetapkan (disepakati).

4. Pemrakarsa dan pemeliharaan struktur pengharapan (ekspektasi) dan interaksi.

 

Berikut ini dipaparkan beberapa persamaan tentang konsep kepemimpinan dari berbagai literature. Adapun persamaan-persamaan tersebut, antara lain;

 

  • Suatu gejala kelompok yang mencakup interaksi antara tiga atau lebih individu.
  • Prosses pengaruh sebagai akibat upaya pemimpin untuk mempengaruhi para pengikutnya.

 

Jika dalam bagian ini pembicaraan kepemimpinan mengaitkan diri dengan pemimpin, hal ini merupakan perwujudan dari keterkaitan antara kedua pengertian tersebut. Apabila kita tarik unsure-unsur dari definisi di atas mengenai kepemimpinan, unsure-unsur tersebut adalah

  • Hubungan antar manusia
  • Penggunaan pengaruh
  • Proses komunikasi
  • Pencapaian suatu tujuan

 

Hubungan antar manusia erjadi apabila dua orang atau lebih berinteraksi hingga berlangsung proses saling mempengaruhi. Seorang pemimpin mendasarkan pengaruhnya pada beberapa sumber kekuasaan, yaitu:

  • Kekuasaan sah
  • Kekuasaan imbalan
  • Kekuasaan paksaan
  • Kekuasaan informasi
  • Kekuasaan koneksi
  • Kekuasaan ahli
  • Kekuasaan “referent” (teladan)

 

Suatu interaksi yang saling mempengaruhi antar para anggota kelompok (pengikut-pengikut), akan menghasilkan tingkah laku. Dan tingkah laku ini akan mengarahkan ke tujuan yang telah ditetapkan bersama, sehingga memungkinkan tujuan tersebut dicapai. Dengan demikian, setiap pemimpin dengan kepemimpinannya menggunakan kekuasaan dan wewenangnya sebagaimana mestinya, adalah bertujuan untuk mempengaruhi para anggota untuk bertingkah laku guna tercapainya tujuan kelompok.

 

1.2.2. Pendekatan Berdasarkan Tingkah Laku

Dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pakar psikologi industri tentang pendekatan berdasarkan tingkah laku pemimpin, ditemukan bahwa tingkah laku pemimpin dapat dibagi ke dalam gaya utama. Kedua gaya tersebut adalah sebagai berikut:

 

a.         Berorientasi pada tugas

Disini, pemimpin menekankan pentingnya penyelesaian tugas dengan cara mengatur penugasan kerja, pengambilan keputusan dan penilaian hasil kerja. Pengawasan merupakan factor penting dalam gaya ini, oleh karena itu pengawasan dilakukan dengan ketat. Penggunaan kekuasaan lebih dipentingkan oleh sang pemimpin dengan menggunakan kekuasaan yang bersumber pada imbalan, paksaan dan keabahan dalam usahamempengaruhi tingkah laku dan hasil karya para anggotanya.

 

b.         Berorientasi pada pengikut

Indikasi orientasi ini antara lain sikap terbuka, ramah dari sang pemimpin serta usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan para anggota. Pemimpin yang bergaya dan orientasi demikian itu, berusaha mendelegaskan pengambilan keputusan, serta b erusaha membantu para anggota untuk memuaskan kebutuhan mereka dengan menciptakan iklim dan lingkungan yang supportif. Sumber kekuasaan yang banyak (sering) digunakan dalam orientasi ini, adalah sumber kekuasaan referent dan ahli atau axpert.

 

Ditampilkannya kedua orientasi di atas, dengan asumsi, bahwa kedua bentuk oriientasi tersebut, akan menentukan gaya kepemimpinan seorang pemimpin dalam mempengaruhi para anggotanya untuk mencapai tujuan kelompok.

2. Fungsi Kepemimpinan Dalam Kelompok

Sebagian ahli komunikasi kelompok terdahulu berasumsi bahwa diskusi mau tidak mau harus dilakukan di bawah pengaraan seorang pemimpin yang terampil dapat membantu para anggota kelompok dalam usaha memecahkan masalah.

Menurut Covey dalam (Kris Yuliani H 2002: 6) ada tiga peranan pemimpin dalam kelompok/organisasi antara lain:

  • Pathfinding (pencarian alur), mengandung sistem nilai dan visi dengan kebutuhan pelanggan melalui suatu perencanaan strategis yang disebut the strategic pathway (jalur strategi).
  • Aligning (penyelarasan), upaya memastikan bahwa struktur, sistem dan operasional organisasi atau kelompok memberi dukungan pada pencapaian visi dan misi dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat.
  • Empowerment (pemberdayaan), suatu semangat yang digerakkan dalam diri orang-orang yang mengungkapkan bakat, kecerdikan dan kreativitas laten, untuk mampu mengerjakan apapun dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang disepakati untuk mencapai nilai, visi dan misi bersama dalam melayani kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat.

 

Menurut Sondang (1999: 47-48), lima fungsi kepemimpinan yang dibahas secara singkat adalah sebagai berikut:

(1) pimpinan selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian tujuan,

(2) wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi,

(3) pimpinan selaku komunikator yang efektif,

(4) mediator yang handal, khususnya dalam hubungan ke dalam, terutama dalam menangani situasi konflik,

(5) pimpinan selaku integrator yang efektif, rasional, objektif dan netral.

 

Menurut William R. Lassey dalam bukunya Dimension of Leadership, menyebutkan dua macam fungsi kepemimpinan, yaitu kepemimpinan, yaitu :

 

1. Fungsi menjalankan tugas

Fungsi ini harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Yang tergolong fungsi ini adalah :

  • Kegiatan berinisiatif, antara lain usul pemecahan masalah, menyarankan gagasan – gagasan baru, dan sebagainya.
  • Mencari informasi, antara lain mencari klasifikasi terhadap usul – usul atau saran serta mencari tambahan informasi yang diperlukan.
  • Menyampaikan data atau informasi yang sekiranya ada kaitannya dengan pengalamannya sendiri dalam menghadapi masalah yang serupa.
  • Menyampaikan pendapat atau penilaian atas saran – saran yang diterima.
  • Memeberikan penjelasan dengan contoh – contoh yang lebih dapat mengembangkan pengertian.
  • Menunjukkan kaitan antara berbagai gagasan atau saran-saran dan mencoba mengusulkan rangkuman gagasan atau saran menjadi satu kesatuan.
  • Merangkum gagasan-gagasan yang ada kaitannya satu sama lain menjadi satu dan mengungkapkan kembali gagasan tersebut setelah didiskusikan dalam kelompok.
  • Menguji apakah gagasan-gagasan tersebut dapat dilaksanakan dan menilai keputusan-keputusan yang akan dilaksanakan.
  • Membandingkan keputusan kelompok dengan standar yang telah ditetapkan dan mengukur pelaksanaannya dengan tujuan yangb telah ditetapkan.
  • Menentukan sumber-sumber kesulitan, menyiapkan langkah-langkah selanjutnya yang diperlukan, dan mengatasi rintangan yang dihadapi untuk mencapai kemajuan yang diharapkan.

 

2. Fungsi pemeliharaan.

Fungsi ini mengusahakan kepuasan, baik bagi pemeliharaan dan pengembangan kelompok untuk kelangsungan hidupnya. Yang termasuk fungsi ini antara lain :

  • Bersikap ramah, hangat dan tanggap terhadap orang lain, mau dan dapat memujiorang lain atau idenya, serta dapat menerima dan menyetujui sumbangan fikiran orang lain.
  • Mengusahakan kepada kelompok, mengusahakan setiap anggota berbicara dengan waktu yang dibatasi, sehingga anggota kelompok lain berkesempatan untuk mendengar.
  • Menentukan penggunaan standar dalam pemilihan isi, prosedur dan penilaian keputusan serta mengingatkan kelompok untuk meniadakan keputusann yang bertentangan dengan pedoman kelompok.
  • Mengikuti keputusan kelompok, menerima ide orang lain, bersikap sebagai pengikut/pendengar sewaktu kelompok sedang berdiskusi dan mengambil keputusan
  • Menyelesaikan perbedaan-perbedaan pendapat dan bertindak sebagai penengah untuk mengkompirmasikan pemecahan masalah.

 

Disamping kedua pendapat tersebut tentang fungsi kepemimpinan, pendapat lain mengemukakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah memberikan pendapat yang terakhir mengatakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah menciptakan struktur untuk pencapaian tujuan, mempertahankan dan mengamankan integritas organisasi dan medamaikan perbedaan yang terjadi dalam kelompok menuju ke arah kesepakatan bersama.

 

Robinson dalam (Ginting 1999: 26-27). Para ahli mengemukakan bahwa peranan yang perlu ditampilkan pemimpin adalah:

(1) mencetuskan ide atau sebagai seorang kepala,

(2) memberi informasi,

(3) sebagai seorang perencana,

(4) member sugesti,

(5) mengaktifkan anggota,

(6) mengawasi kegiatan,

(7) memberi semangat untuk mencapai tujuan,

(8) sebagai katalisator,

(9) mewakili kelompok,

(10) member tanggung jawab,

(11) menciptakan rasa aman dan

(12) sebagai ahli dalam bidang yang dipimpinnya.

 

Sebagai pemimpin kelompok, seseorang harus berperan mendorong anggota beraktivitas sambil memberi sugesti dan semangat agar tujuan dapat tercapai. Peranan pemimpin kelompok yang sangat perlu dilaksanakan oleh seorang pemimpin kelompok yaitu:

(1). Membantu kelompok dalam mencapai tujuannya

(2). Memungkinkan para anggota memenuhi kebutuhan

(3). Mewujudkan nilai kelompok

(4). Merupakan pilihan para anggota kelompok untuk mewakili pendapat mereka dalam   I       interaksi dengan pemimpin kelompok lain

(5) Merupakan seorang fasilitator yang dapat menyelesaikan konflik.

 

3.  Berbagai Perspektif Tentang Kepemimpinan

3.1 Perspektif Bakat

Dalam sebuah kelompok, sekecil apapun, yang anggotanya hanya 3 orang saja, pasti memiliki ketua atau pemimpin dalam kelompok tersebut. Kalaupun bukan  disebut  pemimpin, tapi orang tersebut adalah orang yang berpengaruh dalam hal perkataan ataupun tindakannya yang mampu menggerakan kemana arah dan tujuan kelompok tersebut.

Dalam kelompok bermain, biasanya pemimpin ini hanya akan tampil saat kelompok tersebut akan melakukan sesuatu, misal: geng anak smp yang bingung menentukan kemana mereka akan pergi hang out di akhir minggu, lalu biasanya salah satu dari mereka akan mengajukan saran dan bahkan membuat semua anggota tersebut menyetujui akan saran dia, dan akhirnya kelompok tersebut menyetujui tempat yang akan mereka kunjungi di akhir pekan ini.

Itu hanya sebagian kecil bahkan atau contoh sederhana sebuah kepemimpinan dalam sebuah kelompok, berbeda dengan pemimpin sebuah kelompk yang sifatnya formal, seperti seorang ketua OSIS, tugasnya tidak semudah pemimpin kelompok di contoh sebelumnya, seorang ketua osis memiliki agenda kerja selama setahun masa ya dengan tetap berjalan dalam rambu-rambu Ad dan ART yang ditetapkan serta tanggap dengan situasi dan keadaan sekolahnya, jikalau ia harus mengambil tindakan insidentil yang bertujuan untuk memepertahankan kelangsungan organisasi yang dipimpinnya.

Beberapa pemimpin lahir karena sudah dianugerahi oleh bakat sejak kecil yang kemudian diasah dan akhirnya menjadi seorang pemimpin yang baik. Ada juga maeupakan hasil dari pembelajaran terus menerus dan juga karena adanya kesempatan yang diberikan.

Jika dijabarkan dalam pengertian bahasa atau dalam pengertian yang umum kita pahami, adalah kelebihan / keunggulan alamiah yang melekat pada diri kita dan menjadi pembeda antara kita dengan orang lain. Kamus Advance, misalnya, mengartikan talent dengan “natural power to do something well.” Dalam kamus Marriam-Webster’s, dikatakan “natural endowments of person.” Dalam percakapan sehari-hari kita sering mengatakan si anu berbakat di nyanyi, di bisnis, di IT dan seterusnya.

Sedangkan kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap orang bawahan, kolega, maupun atasan pimpinan itu sendiri.

3.2 Perspektif Gaya

Para ahli yang berkecimpung dalam psikologi sosial, seperti Lewin, Lippit dan White, dalam hubungan ini tertarik untuk menentukan gaya-gaya kepemimpinan yang erat kaitannya dengan tingkah laku pemimpinnya dalam hubungannya (interaksi) dengan para anggota kelompok. Dengan melihat gaya-gaya kepemimpinan ketiga author di atas, melihat akibat dari gaya-gaya yag berlainan tersebut terhadap iklim sosial dan produktivitas. Ketiga gaya tersebut, sebagaimana sudah umum diketahui, adalah gaya kepemimpinan otoriter, gaya kepemimpinan demokratis, dan gaya kepemimpinan Laissez Fraire. Berikut ini akan dipaparkan penjelasan satu persatu dari gaya-gaya kepemimpinan yang disebutkan diatas.

 

1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian

Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Mencerminkan gambaran  manusia yang negative, pesimis dan mengecilkan hati. Pemimpin tipe ini mengeksploitir ketergantungan pengikutnya dengan cara menentukan kebijaksanaan kelompok tanpa mengkonsultasikan dahulu pada anggota kelompok. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. Lebih kepada mendikte tugas pada kelompok, menetapkan prosedur dalam mencapainya, menguji dan mengkritik anggota secara subjektif serta menganut sikap yang mngambil jarak dan formal. Perjalanan komunikasi dalam kelompok pada dasarnya dilakukan melalui pemim pin; para anggota tidak dianjurkan untuk berkomunikasi secara langsung satu sama lain

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic

Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Pandangan seorang pemimpin yang demokratis terhdap orang lain lebih optimis dan positif dibanding pemimpin otoriter. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire

Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi. Pemimpin non-direktif menjauhi usaha mendominasi kelompok dan mendorong anggota-anggota kelompok untuk lebih bertanggung jawab. Namun, pemimpin non-direktif melakukan hal ini dengan cara berkomunikasi dengan anggota kelompok. Bisa dikatakan, kemana arah kelompok ini akan berjalan ditentukan oleh anggotanya, bukan oleh pemimpinnya.

Berikut ini akan disajikan sebuah bagan yang memperlihatkan rentang gaya kepemimpinan di atas, dengan mengetengahkan indikasi masing-masing gaya tersebut.

Perhatian pokok dari ahli komunikasi kelompok adalah penyelidikan, bukan dukungan, meskipin adakalanya gaya kepemimpinan atau prosedur harus ditentukan peringkatnya sehingga suatu sikap mau tidak mau harus diambil. Salah satu bahaya dalam mendukung suatu strategi kepemimpinan tertentu adalah kemunkinan bahwa hal tersebut tidak akan bekerja sebagaimana mestinya dalam situasi yang telah ditetapkan untuk itu. Adanya kesadaran yang semakin berkembang tentang fakta ini mengakibatkan terjadinya pengembangan pendekatan situasi terhadap kepemimpinan.

 

3.3 Perspektif Fungsional

Pendekatan fungsional terhadap kepemimpinan menyadari kesukaran untuk mengidentifikasi seorang anggota kelompok tertentu sebagai pemimpin kelompok. Oleh sebab itu pendekatan fungsional membahas masalah tersebut dengan mengalihkan perhatian dari individu yang disebut pemimipin kea rah tingkah laku yang ditunjukkan oleh semua anggota kelompok. Tingkah laku yang membimbing, mempengaruhi, mengarahkan atau mengendalikan orang lain, dianggap merupakan fungsi-fungsi kepemimpinan, dan fungsi-fungsi kepemimpinan dapat dan seringkali dikemukakan oleh banyak anggota kelompok, jadi bukan hanya pada mereka yang mendapat predikat sebagai “pemimpin”.

Pendekatan fungsional terhadap kepemimpinan lebih menarik perhatian banyak ahli ilmu sosial daripada pendekatan pembawaan, karena dalam hal tertentu, lebih empiris. Di antara berbagai hal lain, pendekatan tersebut lebih memungkinkan para ahli ilmu sosial untuk menangani tingkah laku dalam kelompok yang sebenarnya telah berperan dalam mempengaruhi orang lain, terlepas dari apakah dilakukan atau tidak oleh pemimpin yang diangkat, pendekatan tersebut juga menyajikan kepada peneliti suatu definisi yang lebih operasional tentang kepemimpinana.

Mengingat bahwa pendekatan fungsional menuntut identifikasi dari kegiatan-kegiatan atau tingkah laku kepemimpinan yang berpengaruh dalam suatu kelompok, si peneliti diharuskan mengembangkna sistem-sistem klasifikasi yang akan memungkinkan mereka membedakan antara tindakan yang berpengaruh dalam suatu kelompok dengan yang tidak berpengaruh. Sejumlah kategori tingkah laku yang pada umumnya berpengaruh kemudian dikenal sebagai fungsi-fugsi kepemimpinan.

3.4 Perspektif Situasional

Karya Lewin dan kawan-kawannya selama ini telah menarik sejumlah besar perhatian terhadap gaya kepemimpinan. Penelitian yang dilakukan Preston dan Heintz, Gordon, Selvin, Likert, dan lain-lain dalam bidang ilmu ini cenderung menegaskan suatu seneralisasi bahwa anggota-anggota kelompok akan lebih puas dan produktif di bawah kondisi yang melibatkan tingkah laku kepemimpinan yang lebih dekat dengan pola demokratis daripada dengan pola otoriter atau laissez faire. Walaupun demikia, Lewin juga telah mempengaruhi perlkembangan dari pendekatan yang selama kurang 10 tahun terakhir memerlukan suatu penelitian dan interpretasi ulang terhadap literature mengenai gaya kepemimpinan.

Pendekatan situasional terhadap kepemimpinan mengemukakan bahwa efektivitas dari seperangkat cirri pembawaan dalam kepemimpinan, maupun dari suatu gaya kepemimpinan, atau dari suatu tingkah laku atau fungsi kepemimpinan tertentu dapat dipahami secara baik dengan cara hati-hati meneliti konteks dari kejadian tersebut. Pendekatan situasional tumbuh dari semakin meningkatnya kesadaran bahwa posisi kepemimpinan dalam suatu kelompok tidak dapat diihat sebagai suatu peranan yang homogeny, yang memotong silang berbagai situasi kelompok yang terlepas dari factor-faktor seperti persepsi-persepsi dan pola hubungan pemimpin dengan pengikut. Sudut pandang ini diperkuat oleh studi-studi yang jelas-jelas mengungkapkan bahwa yang menjadi pemimpin di dalam kelompok sering tergantung pada sifat dari tugas kelompok. Selanjutnya, gaya kepemimpinan yang dipilih oleh seseorang untuk dianutnya, sangat dipengaruhi oleh persepsinya tentang kredibilitas bawahannya. Pilihan ini juga didukung oleh penemuan bahwa kepribadian para anggota kelompok mempengaruhi gaya kepemimpinan yang diinginkan para anggota kelompok maupun kepuasan anggota terhadap pengalaman kelompok mereka.

Menurut kaum “situasionalis”, untuk memahami gejala kepemimpinan seseorang harus memperhitungkan hubungan yang ada di antara pemimpin atau pemimpin-pemimpin kelompok para pengikutnya, serta situasi dimana mereka berada. Situasi sehubungan dengan ini termasuk juga factor-faktor seperti besarnya kelompok, tugas kelompok, cara kelompok terstruktur, norma-norma kelompok, sumber daya dari setiap anggota kelompok serta latar belakang sejarah kelompok.

Pentingnya situasi dalam menentukan tingkah laku dan efektivitas kepemimpinan lebih lanjut didukung oleh hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan akibat-akibat terhadap produktivitas dan pengambilan keputusaan dari berbagai jaringan atau jaringan kerja komunikasi.

3.5 Perspektif Kontingensi

Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristis watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan fariabel-fariabel situasional.

Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi / variable situasional dengan watak atau tingkah laku dan criteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987).

Fiedler (1967) beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan dan sesuai situasi yang dihadapinya. Menurutnya ada tiga factor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiganya ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin, ketiga faktor tersebut adalah:

  • Hubungan antara pemimpin dan bawahan, yaitu sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan untk mengikuti petunjuk pemimpin.
  • Struktur tugas yaitu sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.
  • Kekuatan posisi, yaitu sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin, karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat.

Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan model-model sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variable situasional.

Saat ini, gaya kepemimpinan kontingensi (situasional) sangat populer karena lebih rasional, fleksibel dan bisa dipelajari serta diterapkan pada hampir segala situasi. Namun, akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk menengok kembali pada “trait” atau karakter istimewa yang harus dimiliki oleh seseorang, misalkan kharisma.

4. Kepemimpinan dan Kredibilitas

Bagaimanapun juga figure seorang pemimpin dalam melaksanakan kewajibannya selaku pemimpin, sangat berpengaruh terhadap bawahannya. Pengaruh ini mencuat pada setiap anggota kelompok dengan menempatkan kredibilitas kepemimpinan seorang pemimpin. Banyak kajian-kajian yang menelaah mengenai kredibilitas pemimpin yang menjadi karakteristik yang mesti dipenuhi dan dituntut oleh para anggotanya, seperti yang diajukan oleh aristoteles sebagaimana yang ditransfer oleh Cooper, 1932; menekankan segi etos seorang pemimpin. Kredibilitas seorang pemimpin sangat ditentukan oleh etos yang dimiliki pemimpin tersebut. Begitu juga dengan kejujuran (Griffin, 1968;Griffin dan Barnes, 1976), juga menekankan segi kharisma, citra, dan prestise. Masing-asing istilah ini mengacu pada pengertian sikap yang biasa dari Parson kepada orang lain yang sangat berarti pada persepsi masing-masing anggota kelompok  terhadap pemimpinnya.

Ada tiga karakteristik yang ikut menentukan seorang pemimpin mendapat penghargaan dari anggotanya, yaitu:

  • Keahlian
  • Reabilitas dan dependenbilitas
  • Dinamis

Keahlian, mengacu pada intelegensi dan kekuatan yang bersifat keahlian yang dimiliki seorang pemimpin.

Reabilitas dan depenbilitas, berhubungan dengan kehendak baik seorang pemimpin dalam mempengaruhi anggota kelompoknya.

Dinamis, berhubungan dengan seseorang yang beraktivitas, terbuka dan berantusias yang tinggi.

Sejalan dengan itu, suatu penelitian yang dilakukan Hovland, Jannis, dan Kelley (1953), mereka tertarik pada penerimaan masyarakat terhadap seseorang sebagai sumber kredibilitas. Dalam hal ini ia menemukan kredibilitas tersebut termasuk dalam tiga pengertian, yaitu:

  • Kualifikasi
  • Rasa aman
  • Dinamis

Sedangkan McCrosky (1966) mengidentifikasikan lima dimensi sikap para audiens terhadap tukang pidato (orator), yaitu:

  • Kompeten
  • Karakter
  • Intense
  • Kepribadian
  • Dinamis

Dengan melihat pembahasan mengenai kredibilitas ini, dapatlah ditarik suatu garis tegas, bahwa kredibilitas berkaitan dengan kewibawaan seorang pemimpin. Sebagian besar hasil penelitian di bidang ini yang mengidentifikasikasn beberapa dimensi kredibilitas dapat dijadikan sandaran untuk penelaahan teori-teori kepemimpinan.

Seorang pemimpin yang diakui memiliki kredibiloitas tinggi dalam kelompok tersebut akan dengan mudah mempengaruhi para anggota kelompoknya untuk bertingkah laku guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Dengan kredibilitas yang diakui pula seorang pemimpin dapat menggunakan sumber kekuasaan yang tidak menonjolkan ke”aku”annya untuk mengatur hubungan atau interaksi dengan para anggota atau sesame anggota kelomppok.

5. Karakteristik Kepemimpinan Yang Efektif Dalam Kelompok

Efektivitas kepemimpinan berdasarkan konsekuensi tindakan pemimpin sebagai pengikut dan komponen lainnya dalam kelompok. Berbagai jenis hasil yang digunakan kinerja dan pertumbuhan kelompok tersebut, kesiapannya untuk menghadapi tantangan, kepuasan pengikut terhadap pemimpin, komitmen pengikut terhadap tujuan kelompok, kesejahteraan dan perkembangan psikologis para pengikutnya, bertambahnya status pemimpin dalam kelompok dan kemajuan pemimpin ke posisi wewenang yang lebih tinggi dalam organisasi. Untuk mengukur efektivitas pemimpin adalah seberapa jauh unit organisasi tersebut berhasil mencapai tugas pencapaian sasarannya. Contoh ukuran kinerja yang objektif mengenai pencapaian kinerja adalah keuntungan, margin keuntungan, peningkatan penjualan, pangsa pasar, biaya yang bekaitan dengan anggaran pengeluaran dan sebagainya. Sedangkan ukuran subyektifnya adalah tingkat efektifitas yang dihasilkan oleh pemimpin tertinggi, para pekerja atau bawahan.

Sikap para pengikut terhadap pemimpin adalah indikator umum lainnya dari pemimpin yang efektif. Seberapa baik pemimpin memenuhi kebutuhan pengikut? Apakah pengikut menyukai menghormati dan menghargai pemimpinnya? Sikap pengikut biasanya diukur dengan kuesioner atau wawancara. Perilaku pengikut juga indikator tidak langsung dari ketidakpuasan terhadap pemimpin.

Efektivitas pemimpin biasanya diukur berdasarkan kontribusi pemimpin pada kualitas proses kelompok yang dirasakan oleh para pengikut atau pengamat dari luar. Apakah pemimpin mampu meningkatkan efektifitas kohesivitas kelompok, kerjasama anggota? Apakah pemimpin dapat memperbaiki kualitas kerja? Dan perkembangan psikologis para pengikutnya?

Sangat sulit untuk mengevaluasi pemimpin yang efektif karena terdapat banyak alternatif ukuran efektifitas dan tidak jelas ukuran mana yang paling relevan. Beberapa peneliti berusaha mengkombinasikan beberapa ukuran menjadi satu kriteria gabungan, tapi pendekatan ini membutuhkan penilaian subyektif tentang bagaimana memberikan bobot pada penilaian ke setiap ukuran. Kriteria ganda biasanya menyulitkan ketika ukuran tersebut memiliki korelasi negatif yang artinya terdapat pertukaran antar kriteria. Dimana bila yang satu naik maka yang lainnya menurun. Namun ada satu kriteria yang bisa kita gunakan untuk mengukur efektivitas pola kepemimpinan seseorang, terutama dalam menciptakan suasana yang positif psikologi dalam sebuah perusahaan, sehingga akan meningkatkan kinerja karyawan yaitu emosi positif seorang pemimpin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Yusuf, Yusmar. 1989. Dinamika Kelompok. Bandung: CV. ARMICO

Goldberg, Alvin. 1895. Komunikasi Kelompok. Jakarta: UI-PRESS

Mar’at. 1985. Pemimpin dan Kepemimpinan.jakarta: GHALIA INDONESIA

Hopper, Robert. 1976. Human Massage Systems. New York: HARPER & ROW

West, Richard. 2007. Communication Theory. New York: McGraw-Hill

Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi.


1 Response to "Pemimpin dan Kepemimpinan"

nanti kasih pot not makalah. ya….?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: