communicationdomain

MEDIA RICHNESS

Posted on: December 18, 2010

Media Richness Theory

(Teori Kesempurnaan Media)

by: A.C.S.

Latar Belakang Teori

Media Richness Theory atau teori kesempurnaan media muncul berdasarkan teori yang ada sebelumnya yaitu Contingency Theory.

 

Latar Belakang Tokoh

Tokoh yang merumuskan teori ini adalah dua orang yang ahli dalam organisasi yaitu Richard. L. Daft dan Robert. H. Lengel. Daft telah mengarang lebih dari 12 judul buku dan bukunya yang paling laris adalah Organization Theory and Design. Sedangkan Rpbert. H. Lengel adalah seorang konsultan organisasi yang telah mengangani konsultasi berbagai macam organisasi.

 

Asumsi Teori

Teori ini berasumsi bahwa jika  tingkat kerancuan pesan dalam organisasi cukup tinggi, kita harus memilih jenis media komunikasi mana yang sesuai dengan hal tersebut.

Teori kesempurnaan media menempatkan media paada suatu rangkaian berdasar pada “kesempurnaan” mereka. Kesempurnaan digambarkan sebagai potensi media tersebut dalam menyampaikan informassi (Daft dan Lengel, 1984:196). Sebagai contoh, percaakaapan face to face adalah media yang paling kaya. Pengirim menerima umpan balik segera atas seberapa baik penerima dalam mendengar dan memahami pesan tersebut. Ketika bahasa tubuh, ekspresi wajah, atau isyarat lisan penerima menandakan adanya kebingungan atau merasa tidak tertarik dengan pembicaraan yang memperjelas pesan, atau meminta umpan balik pada si penerima.

 

Tingkat kesempurnaan media ini, ditentukan oleh beberapa faktor berikut..

  • Kemampuan feedback (feedback capability)

Kemampuan untuk memfasilitasi feedback yang segera

  • Macam isyarat komunikasi yang dimanfaatkan

Tidak hanya informasi yang secara verbal saja yang disampaikan. Namun juga informasi yang bersifat non-verbal (ekspresi wajah, gerak tubuh, dll).

  • Variasi Bahasa

Kemampuan untuk memfasilitasi pembicaraan termasuk beberapa bahasa yang natural.

  • Fokus personal pada sumber

Kemampuan media untuk mengantarkan perasaan personal dan emosi dari pihak-pihak yang berkomunkasi.

 

Menurut tori kesempurnaan media ini, jika tingkat kerancuan pesaan tinggi (sulit dipahami) dalam organisasi, makqa gunakanlah media komunikasi yang paling kaya yaitu komunikasi face to face. Komunikasi face to face disebut kaya karena dapat memungkinkan terjadinya feedback yang segera, selain itu informasi yang disampaikan pun tidak hanya informasi yang bersifat verbal, namun juga non-verbal. Berbeda dengan media komunikiasi yang disebut miskin seperti e-mail atau surat-menyurat yang tidak menghasilkan feedback dengan segera dan informasi yang disampaikannya pun hanya bersifat verbal (tulisan) saja.

Pesan yang memiliki tingkat kerancuan rendah (dapat dengan mudah dipahami) dapat dikomunikasikan dengan media yang miskin atau tidak sempurna seperti surat menyurat yang bersifat tertulis. Teori ini juga mengatakan jika menggunakan media komunikasi yang miskin akan membawa organisasi ke arah penurunan mutu keluarannya (output).

 

Aplikasi Teori

Teori ini mmasih banyak dipakai dalam organisasi. Misalnya, dalam menyampaikan sebuah pesan dalam sebuah organisasi antara manajer dengan anak buahnya. Jika tingkat kerancuan pesan, atau tingkat kepentingan pesan yang tinggi, tidak mungkin seorang manajer menginformasikan hal tersbut pada anak buahnya dengan menggunakan media komunikasi yang miskin seperti e-mail atau sms. Tentunya, manajer tersebut akan menyampaiakn hal tersebut secara faxce to face misalnya pada sebuah rapat agar semua anak buahnya dapat mengetahui informasi ini secara lebih dalam dan tidak akan terjadi salah persepsi karena bila jika ada hal yang tidak dimengerti atau kurang jelas, mereka dapat dengan segera menanyakannya pada manajer mereka (karena terjadi feedback yang segera).

 

Evaluais dan Keterkaitan Teori

Teori ini diciptkan taahub 1986. Jauh sebelum teknologi canggih seperti sekarang ada. Jika dikaitkan dengan hal tersebut, mungkin teori ini sudah tidak relevan. Karena, ada beberapa orang yang ternyata dapat beradptasi menggunakan media yang disebut miskin seperti e-mail atau sms untuk dapat berkomunikasi juga secara efektif. Begitu juga dalam berkomunikasi dalam organisasi. Beberapa orang yang saya taanyai, ternyata lebih senang mengirim e-mail daripada harus berkomunikasi secara face to face karena e-mail jauh lebih mudah dan praktis. Apakah mutu organisasi mereka menurun? Ternyata tidak. Karena mereka memang sudah terbiasa menggunakan tersebut. Padahal, dalam media richness theory, e-mail adalah salah satu media yang termasuk media yang miskin.

Tetapi jiak merujuk hakikat komunikasi yaitu kesamaan makana atau kesamaan persepsi antara orang yang berkomunikasi, maka teori ini masih cukup relevan dnegan keadaan sekarang. Karena, media richness theory dapat membuat kesamaan persepsi antara orang yang berkomuniikasi dengan adanya feedback yang segera.

Media Richness Theory berkaitan dengan contingency theory. Karena, media richness theory merupakan teori yang dibuat berdasarkan contingency theory. Contingency Theory berasumsi bahwa tidak ada cara yang terbaik dalam memimpin suatu organisasi. Karena, banyak faktor yang mempengaruhinya. Media Richness Theory membantu contingency Theory untuk membuat kepemimnpinan seseorang lebih baik jika memilih media komunikasi yang tepaat dalam menyampaikan suatu pesan. Tentu saja dengan melihat tingkat kerancuan pesan tersebut.

Selain contingency Theory, Media rIchness juga berhubungan dengan Social Presnce Theory atau teori kehadiran sosial. Seperti Media Richness, teori ini juga memilik rangkaina tingkat kehadiran social tinggi hingga rendah. Face to face communiacation merupakan dengan tingkat kehadiran social yang tertinggi dan media cetak adalah media cetak adalah media dengan tingkat kehadiran sosial terendah.

 

Sumber:

Griffin Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. Singapore: McGraw-Hill.

 

Wood, Julia T. (1997). Communication in Our Lives. Belmont CA: Wadsworth P C.

 

1 Response to "MEDIA RICHNESS"

teori ini kalo di pake untuk mengetahui peningkatan penjualan produk, gimana ya?? nyambung ngga??
jadi, apakah efektif atw ngga’ penggunaan teknologinya dalam peningkatan penjualan produk….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: