communicationdomain

IMPLIKASI KOMUNIKASI DALAM TEORI MUTAKHIR DAN KULTURAL

Posted on: December 18, 2010

by: A.C.S.

ABSTRACT

In an organization, human resources and other sources are combined. Here there is a coordination among leaders, members and physical facilities. Beside, correction and organization function and also adaptation to any changes, are activities conducted by the organization to reach desirable objectives.

The form of an organization is marked by distribution of job, power, responsibility and communication that purposely designed to increase its efforts in realization of certain objectives. The existence of one or some centers that are functioning to watch organization efforts control and to direct organization in reaching its objectives. Staff replacement, in this case, its members who are not working as expected might be replaced by other members. (Etzioni, 1985”4)

According to Margono Slamet (1944), to find out and to measure organization effectiveness, one can see from organization anatomy (organization system), organization structure, organization process, and individuals in the organization.

PENDAHULUAN

Manusia dilahirkan di dalam organisasi, di didik melalui organisasi, dan hamper semua manusia melewati masa hidupnya dengan bekerja untuk kepentingan organisasi. Manusia hidup dan mati di dalam organisasi (Etzioni, 1985:1).

Dalam kehidupannya, manusia terus menerus berinteraksi. Melalui proses ini, manusia menginterpretasikan lingkungannya, saling menginterpretasikan, serta berembuk tentang arti-arti bersama atau definisi tentang situasi yang dimiliki besama (Johnson, 1990:37). Blumer dalam kaitannya dengan hal tersebut menyatakan bahwa:

“Orang … tidak bertindak terhadap kebudayaan, struktur sosial atau semacamnya. Mereka bertindak terhadap situasi. Organisasi sosial masuk dalam tindakan hanya karena dalam hal dimana dia membentuk situasi dimana orang itu bertindak …” (Rose, 1962).

Selanjutnya Blumer mengatakan:

“Organisasi sosial adalah suatu kerangka dimana satuan-satuan yang bertindak itu mengembangkan tindakan-tindakannya. Segi-segi struktural seperti ‘kebudayaan’, ‘sistem-sistem sosial’, ‘stratifikasi sosial’ atau ‘peran-peran sosial’, membentuk kondisi-kondisi bagi tindakan mereka, tetapi tidak menentukan tindakan mereka.”

Berdasarkan penjelasan Blumer di atas, maka organisasi sosial cenderung relevan dengan perilaku karena diperhitungkan oleh individu dalam interpretasi subjektif mereka mengenai berbagai situasi sosial. Jadi, suatu organisasi tidak dapat bertahan dengan sendirinya, terlepas dari definisi subjektif individu. Apabila definisi seubjektif individu. Apabila definisi subjektif individu dan interpretasinya berubah dalam ukuran yang besar, hal ini akan menciptakan perubahan dalam organisasi tersebut.

Dalam pandangan George Herbert Mead (1934), tidak ada bentuk organisasi sosial yang final. Organisasi sosial memperlihatkan intelegensi manusia dan pilihannya. Dengan adanya kemampuan untuk menciptakan dan menggunakan symbol-simbol, maka individu dapat melampaui banyak batas yang muncul dari sifat biologisnya atau lingkungan fisiknya. (Johnson, 1990).

Sebagaimana halnya Weber, Mead mengemukakan bahwa organisasi-organisasi sosial dapat di dasarkan pada, baik hubungan-hubungan pribadi, maupun pada suatu komitmen terhadap suatu tujuan yang bersifat impersonal.

Suatu organisasi sosial yangdapat di dasarkan atau suatu komitmen terhadap suatu tujuan, otoritas serta hak-hak lain dan tanggung jawabnya, dialokasikan kepada individu-individu atas dasar keterampilan tekniknya yang relevan dengan tujuan bersama. Tipe organisasi inilah yang menurut yang lebih tinggi.

Berkaitan dengan Weber dan Mead, Etzioni mengatakan bahwa masyarakat modern, lebih mengutamakan rasionalitas, efektivitas dan efesiensi sebagai nilai-nilai moral yang tinggi. Peradaban modern, pada hakekatnya sangatbergantung pada organisasi-organisasi sebagai bentuk pengelompokkan sosial yang paling rasional dan efisien.

Dengan cara mengkoordinasikan sejumlah besar tindakan manusia, organisasi mampu menciptakan suatu alat sosial yang ampuh dan dapat diandalkan. Dalam suatu organisasi, terjadi penggabungan sumberdaya manusia dengan sumberdaya yang lainnya. Disini terjadi kepaduan antara pemimpin, anggota dan sarana fisik. Selain itu, koreksi atas fungsi organisasi, dan juga adaptasi terhadap berbagai perubahan, merupakan aktivitas yang dilakukan organisasi tersebut untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Bentuk dari suatu organisasi, ditandai dengan:

  1. Adanya pembagian dalam pekerjaan, kekuasaan, dan tanggungjawab komunikasi, yang sengaja direncanakan untuk lebih meningkatkan usaha dalam mewujudkan tujuan tertentu.
  2. Adanya satu atau beberapa pusat yang berfungsi mengawasi pengendalian usaha-usaha organisasi serta mengarahkan organisasi mencapai tujuannya.
  3. Penggantian tenaga; dalam hal ini tenaga atau anggota yang dianggap tidak bekerja sebagaimana yang diharapkan dapat diganti oleh tenaga atau anggota yang lain (Etzioni, 1985:4)

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan atau pun pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat didalamnya guna mencapai kesamaan makna.  Tindak komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam berbagai konteks.  Salah satunya dalam konteks organisasi.

Komunikasi merupakan suatu peruses yang vital dalam kehidupan organisasi. Komunikasi merupakan “motor” yang menggerakkan kehidupan suatu organisasi, sehingga dengan adanya komunikasi yang baik adanya orang-orang yang berada dalam suatu organisasi, efektivitas organisasi bisa dijaga dan ditingkatkan. Komunikasi merupakan syarat untuk terjadinya kerjasama dan interaksi sosial antara orang perorang atau kelompok-kelompok manusia (Soekanto, 1976). Adanya komunikasi yang baik antara orang-orang dalam organisasi, merupakan hal yang mutlak dalam menjaga dan meningkatkan efektivitas organisasi. Denyer (1972) mengemukakan bahwa komunikasi dalam organisasi merupakan proses penyampaian informasi, seperti pesan, ide, perintah, saran,dan perasaan dari seseorang kepada orang lain yang memerlukan atau dipandang perlu untuk mengetahui. Loomis (1964) mengemukakan bahwa proses komunikasi adalah proses terjadinya penyampaian informasi, keputusan, perintah, diantara para pelaku dan cara dimana pengetahuan, pendapat dan sikap dibentuk ataun diperbaiki melalui interaksi.

Untuk mengukur efektif tidaknya proses komunikasi yang terjadi didalam suatu organisasi, maka dapat diketahui indikator-indikator:

  1. Tingkat keefektifan proses komunikasi yang terjadi,
  2. Tingkat keakuratan proses komunikasi yang terjadi,
  3. Tingkat ketepatan komunikasi dalam konteks waktu,
  4. Tingkat ketersediaan saluran-saluran untuk berlangsungnya komunikasi,
  5. Tingkat kelancaran komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah,
  6. Tingkat kelancaran komunikasi yang terjadi dari bawah ke atas..

Tindak komunikasi dalam suatu organisasi berkaitan dengan pemahaman mengenai peristiwa komunikasi yang terjadi didalamnya, seperti apakah instruksi pimpinan sudah dilaksanakan dengan benar oleh karyawan atau pun bagaimana karyawan/bawahan mencoba menyampaikan keluhan kepada atasan, memungkinkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai dengan hasil yang diharapkan. Ini hanya satu contoh sederhana untuk memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam suatu organisasi, baik organisasi yang mencari keuntungan ekonomi maupun organisasi yang bersifat sosial kemasyarakatan

TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI

Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori management klasikal adalah sebagai berikut:

  • Kesatuan komando– suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan
  • Rantai skalar– garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas sampai ke bawah untuk organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh prinsip kesatuan komando, harus digunakan sebagai suatu saluran untuk pengambilan keputusan dan komunikasi.
  • Divisi pekerjaan– manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara efisien.
  • Tanggung jawab dan otoritas– perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara tanggung jawab dan otoritas harus dicapai.
  • Disiplin– ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar seturut kebiasaan dan aturan disetujui.
  • Mengebawahkan kepentingan individu dari kepentingan umum– melalui contoh peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.

Selanjutnya, untuk lebih memahami organisasi, Griffin menyadur pendekatan perspektif teori yang mendasari komunikasi organisasi. Setidaknya ada lima perspektif pendekatan ada organisasi yaitu perspektif teori Scientific Management School (SMS), Teori Human Relations School (HRS), Teori Sistem, Teori Mutakhir, dan Teori Kultural. Yang menjadi fokus pembahasan disini adalah Teori Mutakhir dan Teori Kultural.

TEORI ORGANISASI MUTAKHIR

Teori ini memberikan perhatian penting pada aspek adaptasi terhadap lingkungan atau dinamika ‘dunia luar’. Teori ini beranggapan bahwa human relation saja tidak cukup, tapi organisasi juga harus bersifat adaptif. Organisasi tidak bisa eksis jika tidak memperhatikan perkembangan lingkungan di mana organisasi itu tumbuh. Bagaimana mungkin di zaman teknologi informasi yang demikian pesat dewasa ini, organisasi masih seperti ‘katak dalam tempurung’? Bagaimana mungkin kita berpikir paling hebat dan maju sementara di sekeliling kita tumbuh pesat organisasi atau perusahaan-perusahan sejenis yang tak kalah hebat?

Orang-orang dihadapkan pada banyak pilihan, sehingga kompetisi tak terhindarkan. Ketika Wings Group berpikir bahwa hanya dengan ‘bermain harga’ maka mereka bisa memenangkan persaingan pasar consumer goods, maka pesaingnya sudah berpikir jangka panjang bahwa perceived quality lebih penting untuk membangun loyalitas konsumen. Terbukti, ketika masyarakat mulai merasakan ‘akibat’ dari membeli produk murah, mereka mulai ‘pintar’ dengan tidak cuma menuntut harga murah, tapi juga kualitas. Karena itu, Wings Group mengubah strateginya dengan membangun brand relationship dan tidak Cuma ‘menyogok’ konsumen dengan harga murah semurah-murahnya. Perceived quality dibangun, brand activation digencarkan, sehingga kini Wings Group bertransformasi dari ‘perusahaan murahan’ menjadi ‘perusahaan yang patut diperhitungkan’.

Transformasi perusahaan atau organisasi merupakan muara dari adaptasi. Dan transformasi dimulai dari mengubah persepsi organisasi terhadap organisasi itu sendiri. Di sini, teori-teori mutakhir sangat relevan, antara lain Teori Pengorganisasian Weick.

Karl Weick (pelopor pendekatan sistem informasi) menganggap struktur hirarkhi, garis rantai komando komunikasi, prosedur operasi standar merupakan mungsuh dari inovasi. Ia melihat organisasi sebagai kehidupan organis yang harus terus menerus beradaptasi kepada suatu perubahan lingkungan dalam orde untuk mempertahankan hidup. Pengorganisasian merupakan proses memahami informasi yang samar-samar melalui pembuatan, pemilihan, dan penyimpanan informasi. Weick meyakini organisasi akan bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya mengikutsertakan banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu, ketika dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada komunikasi dari pada aturan-aturan.

  • TEORI WEICK TENTANG PENGORGANISASIAN

Teori Weick tentang pengorganisasian mempunyai arti penting dalam bidang komunikasi karena ia menggunakan komunikasi sebagai basis pengorganisasian manusia dan memberikan dasar logika untuk memahami bagaimana orang berorganisasi. Menurutnya, kegiatan-kegiatan pengorganisasian memenuhi fungsi pengurangan ketidakpastian dari informasi yang diterima dari lingkungan atau wilayah sekeliling. Ia menggunakan istilah ketidakjelasan untuk mengatakan ketidakpastian, atau keruwetan, kerancuan, dan kurangnya predictability. Semua informasi dari lingkungan sedikit banyak sifatnya tidak jelas, dan aktivitas-aktivitas pengorganisasian dirancang untuk mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.

Teori komunikasi organisasi yang sifanya paling subyektif adalah teori-teori yang digolongkan dalam teori mutakhir. Ketika berbicara tentang teori mutakhir ini kita berbicara tentang teori pengorganisasian. Kita akan membahas dua teori mutakhir yang mencermikan perubahan dalam pemikiran yang selama ini dianut oleh teori organisasi. Namun sebelumnya, seperti apakah organisasi dipandang dari perspektif yang berubah ini?

  1. Organisasi dipandang lebih rumit, dan usaha-usaha untuk mereduksi organisasi menjadi unsur-unsur dan proses-proses yang sederhana dipertanyakan. Organisasi cenderung mengembangkan suatu kultur yang rumit, dan memiliki karakteristik yang khas.
  2. Gagasan mengenai suatu keteraturan hukum alamiah dan hukum sosial diganti dengan gagasan mengenai banyak perangkat keteraturan dan interaksi di antara keteraturan-keteraturan tersebut. Organisasi terdiri dari beberapa perangkat keteraturan, dengan dinamika interaksi yang timbal balik dan terjadi pada saat yang sama.
  3. Organisasi dipandang kurang meyerupai istilah mesin dan lebih mirip metafora holograf untuk menemukan dinamika organisasi yang rumit. (Lincoln, 1985) mengatakan kekuatan metafora ini (holograf) mencakup setiap bagian kecil yang memuat informasi lengkap mengenai keseluruhan.
  4. Organisasi dan keadaan masa depannya dipandang lebih sulit diperkirakan dan dikendalikan dibandingkan dengan yang dinyatakan model-model teoritis terdahulu.
  5. Perilaku organisasi lebih cocok digambarkan dengan model sebab akibat  yang rumit (complex casual model) daripada model yang menekankan hubungan sebab akibat yang sederhana.
  6. Para pemerhati organisasi menunjukkan peningkatan minat dalam memikirkan berbagai cara memandang perilaku organisasi, dan penjelasan tentang hukum-dan-contoh menjadi dasar bagi mereka yang mementingkan interpretasi-dan-kasus.

ASUMSI TEORI WEICK

Teori Weick ini mengulas tentang pengorganisasian. Konsep Organisasi menurut Weick : “organisasi adalah kata benda, kata ini juga merupakan suatu mitos. Bila anda mencari organisasi, anda tidak akan menemukannya. Yang akan anda temukan adalah sejumlah peristiwa yang terjalin bersama-sama, yang berlangsung dalam kawasan nyata, urutan-urutan peristiwa tersebut, jalur-jalurnya dan pengaturan temponya merupakan bentuk-bentuk yang seringkali kita nyatakan secara tidak tepat jika kita membicarakan organisasi”.

Jelas fokusnya adalah pengorganisasian bukannya organisasi.  Proses pengorganisasian menghasilkan apa yang dinamakan organisasi. Jadi penekanannya terletak pada aktivitas dan proses.

Lantas dalam pandangan ini apakah organisasi punya struktur? Jika dalam perspektif obyektif, struktur organisasi terberikan atau sudah ada sejak awal, maka menurut teori ini (yang notabene berperspektif subyektif) organisasi tetap punya struktur. Tapi bagaimana organisasi bertindak dan bagaimana organisasi tersebut tampil, ditentukan oleh struktur yang ditetapkan oleh pola reguler dan perilaku yang saling bertautan.

Organisasi adalah suatu sistem penyesuaian dan menopang dirinya dengan mengurangi ketidakpastian yang dihadapinya. Ini merupakan suatu sistem mengenai ”perilaku-perilaku yang bertautan”. Perilaku-perilaku ini merupakan kunci bagi berfungsinya organisasi tersebut. Perilaku dikatakan saling bertautan bila perilaku seseorang bergantung kepada perilaku orang lain.

CIRI-CIRI PENTING PENGORGANISASIAN

Bila dalam teori terdahulu struktur dipandang sebagai hierarkhi, kebijakan dan rangcangan organisasi. Sedangkan Weick memandang struktur sebagai aktivitas dan lebih spesifik lagi, sebagai aktivitas komunikasi. Struktur organisasi ditentukan oleh perilaku yang saling bertautan.

Weick mengemukakan bahwa struktur ditandai oleh perilaku pengorganisasian. Komunikasi  tidak mencerminkan proses-proses penting. komunikasilah yang merupakan proses penting. Proses ini akan menghasilkan struktur.

Sehingga suatu sistem jelas bersifat manusiawi. Manusia tidak hanya menjalankan organisasi. Manusia merupakan organisasi tersebut. Manusia menghadapi lingkungan yang rumit dan seringkali tidak menentu, yang menurut Weick dijadikan alasan untuk pengorganisasian.

Anggota organisasi tidak hanya bereaksi terhadap sesuatu, tapi juga berkreasi, menciptakan. Mereka ”membuat” lingkungan tersebut dibangun oleh masyarakat melalui interaksi dan penciptaan makna.

Pengorganisasian menurut Weick adalah suatu gramatikal yang disahkan secara mufakat untuk mengurangi ketidakjelasan dengan menggunakan perilaku-perilaku bijaksana yang bertahan. Gramatikal dapat diartikan kesesuaian atas sejumlah aturan dan konvensi atau kesepakatan. Konvensi ini membuat dasar untuk menafsirkan apa yang akan atau telah dilaksanakan organisasi. Konvensi ini membuat mereka memiliki panduan untuk melakukan tugas mereka.

Pengorganisasian membantu mengurangi ketidakpastian tentang informasi yang diperoleh para anggota organisasi ketika mereka mencoba membuat keputusan untuk keselamatan dan keberhasilan organisasi. Organisasi hadir ditengah-tengah kita karena kegiatan pengorganisasian penting untuk mencegah kerancuan dan ketidakpastian yang dihadapi manusia. Organisasilah yang harus menangani ketidakjelasan dengan memberikan makna-makna pada peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Ciri yang lain dalam perngorganisasian adalah perilaku pengorganisasian. Weick memberikan istilah ”interaksi ganda”. A berkomunikasi dengan B, dan B memberikan respon pada A dan A-B melakukan penyesuaian atau saling memberikan respon. Jenis kegiatan komunikasi yang khas ini membentuk basis pengorganisasian. Perilaku komunikasi yang saling bertautan ini menyebabkan organisasi mampu memproses informasi. Organisasi menggunakan sejumlah aturan dalam sistem, sehingga mempermudah memproses informasi. Sehingga dengan Siklus komunikasi ini (interaksi ganda) membantu mengurangi ketidakpastian yang dihadapi anggota organisasi.

PROSES PENGORGANISASIAN

Ada 3 tahap utama dalam proses pengorganisasian:

  1. 1. Tahap pemeranan

Pemeranan menghimpun sesuatu bagian dari sejumlah pengalaman untuk diperhatikan lebih lanjut. Atau tahap pemeranan secara sederhana berarti bahwa para anggota organisasi menciptakan ulang lingkungan mereka dengan menentukan dan merundingkan makna khusus bagi suatu peristiwa

  1. 2. Tahap seleksi

Seleksi memasukkan seperangkat penafsiran ke bagian yang dihimpun. Aturan-aturan atau siklus komunikasi yang digunakan untuk menentukan pengurangan yang sesuai dalam ketidakjelasan)

  1. 3. Tahap retensi

Penyimpanan segmen-segmen yang sudah diinterpretasikan untuk pemakaian masa mendatangkan. Memungkinkan organisasi untuk menyimpan informasi mengenai cara organisasi memberi respon dalam berbagai situasi. Strategi-strategi yang berhasil menjadi peraturan yang dapat diterapkan pada masa mendatang

Berbagai tahap tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya. Misalnya pengetahuan retensi dapat memandu organisasi dalam proses-proses pemeranana dan seleksi organisasi tersebut.

Dalam sistem yang dipahami Weick, benda-benda dalam keadaan berubah terus menerus (evolusi). Perubahan lebih merupakan norma dibandingkan dengan stabilitas. Proses pengorganisasian pun mengalami proses adaptasi tersebut.

Mempelajari organsisasi adalah mempelajari pengorgansisasian, dan inti perilaku tersebut adalah komunikasi. Organisasi berbicara agar menjadi tahu. Untuk mengetahui apa yang difikirkan organisasi, penting sekali memeriksa perilaku yang saling bertautan (interaksi ganda) diantara para anggota organsisasi.

Teori Weick mengenai pengorganisasian menentang cara berfikir yang diterima apa adanya dan memungkinkan kita untuk melihat pentingnya pandangan subyektif tentang dunia.

SIFAT ORGANISASI

Pandangan Weick mengenai organisasi menimbulkan pentanyaan mengenai eksistensi dan bahkan hasrat atas hadirnya suatu sistem yang rasional, tujuannya terarah, dan sistematis (berurut seacara tepat).

Menurut teori-teori terdahulu, dalam suatu organisasi yang rasional, suatu masalah dapat dilihat dan didefinisikan, pemcahannya yang dapat dibuat lebih cermat, dan pemilihan terbaik dapat dipilih. Asumsi dasarnya adalah pikiran mendahului tindakan.

Weick menegaskan bahwa organisasi berbicara pada diri mereka sendiri dengan tujuan menjernihkan lingkungan mereka dan mempelajarinya lebih jauh lagi. Organisasi memeriksa ulang langkah-langkah awal mereka yang semula dibuat sebagai pengantar agar dapat dipahami.  Weick menambahkan bahwa dalam diskusi-diskusi mutahir mengenai organisasi ”rasionalitas” dipandang:

  1. Sebagai sebuah himpunan resep yang berupa bila isu berubah
  2. Sebagai dalih untuk menarik minat sumber daya dan legitimasi
  3. Sebagai suatu proses pascatindakan yang digunakan secara retrospektif untuk menentukan alasan atas tindakan tersebut.

Weick menyajikan analogi  yang menggambarkan nilai perilaku yang mungkin tidak sesuai dengan teori-teori tradisional. Bayangkan sebuah wadah tembus pandang yang di dalamnya terdapat sejumlah lalat dan lebah. Bila wadah diletakkan di depan jendela dan seberkas sinar matahari menerpanya, perilaku lalat dan lebah berbeda. Lebah mengumpul (bergerak secara berpola) kearah sinar matahari meskipun matahari semakin terik. Sementara itu, lalat-lalat mendengung berputar-putar menabrak dinding wadah, bahkan akhirnya melarikan diri dari sengatan matahari melalui mulut wadah. Lebah-lebah tersebut kurang beruntung, mereka gagal melakukanberbagai pencarian atau berperilaku sembarangan (tidak berpola) yang sebenarnya amat diperlukan dalam kasus ini.

Kemampuan organisasi untuk bervariasi, yang dapat disebut perilaku sembarang, seringkali amat berguna untuk mempertahankan kelangsungannya. Ini tidak berarti bahwa tidak ada keteraturan. ”organisasi dapat berupa anarki, tapi anarki yang diorganisasikan. Organisasi dapat berupa rangkaian longgar, tapi longgar ada dalam suatu sistem. Organisasi dapat melakukan pengambilan keputusan sembarangan, tetapi berdasarkan batas-batas yang membentuk suatu struktur’ (Weick,1985).

IMPLIKASI BAGI KOMUNIKASI ORGANISASI

Mempelajari organisasi adalah mempelajari perilaku pengorganisasian, dan inti perilaku tersebut adalah komunikasi. Organisasi berbicara agar menjadi tahu; pembicaraan merupakan intelegensi dan kemampuan penyesuaian organisasi. Untuk mengetahui apa yang dipikirkan organisasi, penting sekali memeriksa perilaku-perilaku yang bertautan (interaksi ganda) di antara para anggota organisasi tersebut. Apa yang dibicarakan orang-orang dan yang disahkan di antara sesama mereka menghasilkan suatu lingkungan yang mengorganisasikan aktivitas mereka, terutama pikiran mereka.

Menurut Weick, orang-orang memahami sesuatu melalui pengalaman dengan bantuan pemutusan (punctuation) dan penyatuan (connection). Pemutusan berarti memotong kumpulan pengalaman menjadi satuan-satuan yang pantas, dapat dinamai dan tindakan penyatuan meliputi menentukan hubungan-hubungan, khususnya hubungan-hubungan kausal di antara komponen-komponen yang terputus.

Weick memandang pengorganisasian sebagai proses evolusioner yang bersandar pada sebuah rangkaian tiga proses:

  • Penentuan (enachment)
  • Seleksi (selection)
  • Penyimpanan (retention)

Penentuan adalah pendefinisian situasi, atau mengumpulkan informasi yang tidak jelas dari luar. Ini merupakan perhatian pada rangsangan dan pengakuan bahwa ada ketidakjelasan. Seleksi, proses ini memungkinkan kelompok untuk menerima aspek-aspek tertentu dan menolak aspek-aspek lainnya dari informasi. Ini mempersempit bidang, dengan menghilangkan alternatif-alternatif yang tidak ingin dihadapi oleh organisasi. Proses ini akan menghilangkan lebih banyak ketidakjelasan dari informasi awal. Penyimpanan yaitu proses menyimpan aspek-aspek tertentu yang akan digunakan pada masa mendatang. Informasi yang dipertahankan diintegrasikan ke dalam kumpulan informasi yang sudah ada yang menjadi dasar bagi beroperasinya organisasinya.

Setelah dilakukan penyimpanan, para anggota organisasi menghadapi sebuah masalah pemilihan. Yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan kebijakan organisasi. Misal, ”haruskah kami mengambil tindakan berbeda dari apa yang telah kami lakukan sebelumnya?”

Teori ini membuat kita mempercayai bahwa organisasi bergerak dari proses pengorganisasian ke proses lain dengan cara yang sudah tertentu: penentuan; seleksi; penyimpanan; dan pemilihan. Bukan begitu halnya. Sub-subkelompok individual dalam organisasi terus menerus melakukan kegiatan di dalam proses-proses ini untuk menemukan aspek-aspek lainnya dari lingkungan. Meskipun segmen-segmen tertentu dari organisasi mungkin mengkhususkan pada satu atau lebih dari proses-proses organisasi, hampir semua orang terlibat dalam setiap bagian setiap saat. Pendek kata di dalam organisasi terdapat siklus perilaku.

Siklus perilaku adalah kumpulan-kumpulan perilaku yang saling bersambungan yang memungkinkan kelompok untuk mencapai pemahaman tentang pengertian-pengertian apa yang harus dimasukkan dan apa yang ditolak. Di dalam siklus perilaku, tindakan-tindakan anggota dikendalikan oleh aturan-aturan berkumpul yang memandu pilihan-pilihan rutinitas yang digunakan untuk menyelesaikan proses yang tengah dilaksanakan (penentuan, seleksi, atau penyimpanan).

Contoh dari implikasi teori ini adalah misalnya transformasi perusahaan atau organisasi yang merupakan muara dari adaptasi. Dan transformasi dimulai dari mengubah persepsi organisasi terhadap organisasi itu sendiri. Di sini, teori-teori mutakhir sangat relevan, antara lain Teori Pengorganisasian Wick. Contoh penerapan teori ini adalah perusahaan-perusahaan go public bahkan go internasional. Lenovo, sebuah perusahaan komputer China, Lenovo hanya sebuah liliput dengan kultur perusahaan keluarga yang kental. Ketika Lenovo mengubah kultur perusahaan menjadi lebih terbuka, perusahaan ini bertransformasi menjadi perusahaan raksasa, bahkan sanggup ’melahap’ perusahaan raksasa lain pesaingnya dari Amerika, yakni IBM. Kini Lenovo bukan lagi ’milik China’ apalagi cuma sekadar perusahaan kecil milik keluarga. Lenovo telah menjadi ’milik dunia’ yang mampu bersaing di kancah internasional.

Demikianlah pembahasan tentang konsep-konsep dasar dari teori Weick, yaitu: lingkungan; ketidakjelasan; penentuan; seleksi; penyimpanan; masalah pemilihan; siklus perilaku; dan aturan-aturan berkumpul, yang semuanya memberi kontribusi pada pengurangan ketidakjelasan.

TEORI KULTURAL ORGANISASI

Asumsi interaksi simbolik mengatakan bahwa manusia bertindak tentang sesuatu berdasarkan pada pemaknaan yang mereka miliki tentang sesuatu itu. Mendapat dorongan besar dari antropolog Clifford Geertz, ahli teori dan ethnografi, peneliti budaya yang melihat makna bersama yang unik adalah ditentukan organisasi. Organisasi dipandang sebagai budaya. Suatu organisasi merupakan sebuah cara hidup (way of live) bagi para anggotanya, membentuk sebuah realita bersama yang membedakannya dari budaya-budaya lainnya.

Pacanowsky dan para teoris interpretatif lainnya menganggap bahwa budaya bukan sesuatu yang dipunyai oleh sebuah organisasi, tetapi budaya adalah sesuatu suatu organisasi. budaya organisasi dihasilkan melalui interaksi dari anggota-anggotanya. Tindakan-tindakan yang berorientasi tugas tidak hanya mencapai sasaran-sasaran jangka pendek tetapi juga menciptakan atau memperkuat cara-cara yang lain selain perilaku tugas ”resmi” dari para karyawan, karena aktivitas-aktivitas sehari-hari yang paling membumi juga memberi kontribusi bagi budaya tersebut.

Pendekatan ini mengkaji cara individu-individu menggunakan cerita-cerita, ritual, simbol-simbol, dan tipe-tipe aktivitas lainnya untuk memproduksi dan mereproduksi seperangkat pemahaman.

Corporate culture (Deal & Kennedy, 1982) membahas bagaimana kandungan budaya—nilai-nilai, lambang, dan ritual—dapat berpengaruh terhadap kinerja keseluruhan perusahaan.  Masih pada 1982, Peters & Waterman menyajikan In Search of Excellent; di dalamnya mereka membahas sifat-sifat organisasi yang telah mencapai keunggulan. Mereka mengidentifikasi tema-tema utama yang dapat diterapkan pada organisasi yang sedang dikaji. Tema-tema ini dapat dipandang bersifat kultural dalam arti mewakili nilai-nilai organisasi. Memasuki 1990an, perusahaan-perusahaan menghadapi persaingan global dan kemungkinan perubahan nilai para anggota dan client.

KONSEP BUDAYA ORGANISASI

Perspektif budaya secara luas yang diterapkan pada situasi organisasi meliputi:

  1. Perspektif holistik, memandang budaya sebagai cara-cara terpola mengenai berpikir, menggunakan perasaan, dan bereaksi.
  1. Perspektif variabel, berpusat pada pengekspresian budaya. Menurut Smircich  dan Calas (1987) menyatakan bahwa budaya dapat diujui sebagai sebuah variabel atau suatu metafora dasar (root metaphor). Bila dipandang sebagai sautu variabel eksternal, budaya adalah sesuatu yang dibawa masuk ke dalam organisasi. Bila dibatasi sebagai suatu variabel internal, penekanannya diletakkan pada wujud-wujud budaya (ritual, kisah, dll) yang dikembangkan dalam organisasi.
  1. Perspektif kognitif, memberi penekanan pada gagasan konsep, keyakinan, nilai-nilai, dan norma-norma, ’pengetahuan yang diorganisasikan’ yang ada dalam pikiran orang-orang untuk memahami realitas. Sackmann (1991) mengikuti tradisi perspektif kognitif dalam konsepnya sendiri mengenai budaya dalam organisasi. Ia menggabungkan perangkat-perangkat pembangun kognitif yang mempengaruhi persepsi, pikiran, perasaan, dan tindakan dengan suatu perspektif pengembangan yang memperhatikan pembentukan dan perubahan kognisi-kognisi budaya. Kognisi menjadi pegangan bersama dalam proses interaksi sosial.

Secara umum, bila orang-orang berinteraksi selama beberapa waktu, mereka membentuk suatu budaya. Setiap budaya mengembangkan harapan-harapan yang tertulis maupun yang tidak tertulis tentang perilaku (aturan dan norma-norma) yang mempengaruhi anggota-aggota budaya itu.

Tetapi orang tidak hanya dipengaruhi budaya tersebut, mereka menciptakan budaya. Setiap organisasi memiliki satu atau lebih budaya yang memuat perilaku-perilaku yang diharapkan—tertulis atau tidak tertulis–.

Implisit dalam konsep budaya adalah suatu apresiasi tentang cara organisasi dibentuk oleh perangkat-perangkat khas nilai, ritus, dan kepribadian. Louis (1985) menyatakan bahwa budaya suatu kelompok dapat digolongkan sebagai ”seperangkat pemahaman atau makna yang dimiliki bersama oleh kelompok orang. Makna tersebut pada dasarnya diakui secara diam-diam oleh para anggotanya, jelas relevan bagi kelompok tertentu, dan khusus untuk kelompok tersebut”. Dengan demikian, budaya meliputi interaksi selama beberapa waktu, harapan-harapan perilaku, membentuk dan dibentuk, sifat-sifat khas yang memisahkan sebuah budaya dengan budaya lainnya, dan seperangkat makna/logika yang memungkinkan aksi kelompok.

Bagaimana budaya organisasi didefinisikan? Salah satu caranya adalah dengan menganggap organisasi itu terbuat dari ”benda”, atau artifak-artifak budaya (cultural artifacts), kisah-kisah, dan ritual. Bila budaya organisasi dianggap sebagai suatu pembentukan pemahaman, maka budaya organisasi ini diidentifikasi melalui proses pembentukan pemahaman, dan perlaku-perilaku simbolik menjadi fokus perhatian.

Mendengarkan apa yang dikatakan orang menjadi sesuatu yang perlu agar dapat melihat apa makna pengalaman mereka. Dalam hal ini Smircich berpendapat bahwa budaya bukan sekedar sesuatu yang dimiliki organisasi (artifak, struktur), tetapi juga sesuatu yang merupakan organisasi (proses, pemahaman).

Budaya organisasi bukan milik manajemen tapi milik semua anggota organisasi. Analisis budaya tidak menekankan pada apa yang harus terjadi dari perspektif manajemen tapi apa yang benar-benar terjadi. Budaya organisasi dapat eksis dalam setiap organisasi yang dapat berarti berbagai kelompok. Besar kecilnya organisasi tidak dipersoalkan, yang penting aktivitas pengorganisasian. Budaya bukan anugerah yang harus diterima begitu saja. Budaya harus ditemukan melalui pandanganorang-orang yang membentuknya. Budaya bukan sesuatu yang konkrit, tapi merupakan perilaku-perilaku yang muncul—yang mebentuk dan menyokong pola-pola yang dapat disebut budaya.

Dapatkah budaya dikelola? Jawabannya sangat tergantung pada definisi seseorang mengenai budaya, sifat proses atau perubahannya, dan kondisi yang mendasari perubahan atau proses pengelolaannya. Kaum pragmatis budaya umumnya memandang budaya sebagai suatu kunci ke arah komitmen, produktivitas, dan kemampuan memperoleh manfaat. Mereka menyatakan bahwa budaya dapat–seharusnya dan pernah–di kelola.

Adapula yang tergabung dalam para pencinta budaya menganggap budaya tidak dapat dikelola, budaya muncul begitu saja. Para pemimpin tidak menghasilkan budaya, para anggota budayalah yang menciptakan budaya. Budaya adalah suatu ekspresi kebutuhan manusia yang paling mendalam, suatu alat pencerahan pengalaman manusia dengan makna (Martin, 1985).

IMPLIKASI BAGI KOMUNIKASI ORGANISASI

Peranan komunikasi dalam budaya organisasi dapat dilihat secara berlainan bergantung pada bagaimana budaya dikonsepsikan.

Bila budaya dianggap sebagai sebuah himpunan artifak simbolik yang dikomunikasikan kepada anggota organisasi untuk pengendalian organisasi, maka komunikasi dapat diartikan sebagai sebuah sarana yang memungkinkan perolehan hasilnya.

Bila budaya ditafsirkan sebagai pembentukan pemahaman, proses komunikasi itu sendiri menjadi pusat perhatian utama karena proses inilah yang merupakan pembentukan makna tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Griffin Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. Singapore: McGraw-Hill.

Devito, A. Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia Kuliah Dasar ed.5. Jakarta: Professional Books.

Uchjana, Onong. 2007. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: