communicationdomain

Hiperrealitas

Posted on: December 18, 2010

Hiperrealitas

(Realitas Semu)

by: A.C.S.


Apakah itu hiperrealitas?

•      Hiperrealitas, menurut ensiklopedia online, Absolute Astronomy[1] adalah “sebuah konsep dalam filosofi post-modernisme dan semiotika.”

•      Hiperrealitas, seperti yang dikuotasikan dari buku Dunia yang Dilipat[2] adalah “pengalaman transformasi dalam cara manusia melihat diri sendiri secara ontologis diantara objek-objek kebudayaan ciptaannya,” juga “dalam cara manusia membangun citra diri dan menyusun makna kehidupannya secara diskursif melalui objek-objek dan media-media (massa) dalam suatu ruang dan waktu yang membatasinya.”

•      Dua tokoh hiperrealitas terkemuka, Jean Baudrillard dan Umberto Eco, mempunyai pandangan yang berbeda mengenai definisi hiperrealitas itu sendiri.

Jean Baudrillard mempunyai konsepsi yang diadaptasi dari pemikiran McLuhan[3] bahwa perkembangan teknologi informasi yang semakin mutakhir tidak hanya dapat memperpanjang fungsi organ pada manusia, tapi (lebih hebat lagi) mampu menghasilkan duplikasi dari manusia, mampu membuat fantasi atau fiksi ilmiah menjadi nyata, mampu mereproduksi masa lalu, atau ‘melipat’ dunia sehingga tak lebih dari sebuah layar kaca, disket atau memory bank.

Jean Baudrillard juga mengungkapkan dua istilah, yakni: Simulasi dan Simulacra dalam menjelaskan konsep hiperrealitas itu sendiri.

Simulasi adalah suatu proses dimana representasi (gambaran) atas suatu objek justru menggantikan objek itu sendiri, dimana representasi itu menjadi hal yang lebih penting dibandingkan objek tersebut. Analoginya, bila suatu peta merepresentasikan (menggambarkan) suatu wilayah, maka dalam simulasi, justru peta-lah yang mendahului wilayah. Di dalam wacana simulasi, manusia mendiami suatu ruang realitas dimana perbedaan antara yang benar dan palsu menjadi tipis (manusia hidup dalam suatu ruang khayal yang nyata). Misalnya discovery channel pada televisi, sebenarnya hampir sama nyatanya dengan pelajaran IPA di sekolah, karena sama-sama menawarkan informasi mengenai kehidupan flora dan fauna pada anak-anak.

Ada 4 hierarki/tahap dalam simulasi: (Baudrillard, 1983)

1.      Ketika suatu tanda dijadikan refleksi dari suatu realitas. Misal: seni adalah wujud dari realitas.

2.      Ketika suatu tanda sudah menutupi dan menyesatkan realitas itu sendiri. Misal: Gaul itu adalah dengan menonton MTV.

3.      Ketika suatu tanda menutupi ketiadaan dari suatu realitas. Misalnya: Disneyland, yang sebenarnya hanya ada dalam khayalan anak-anak namun dibuat menjadi nyata untuk menutupi ketiadaan Disneyland tersebut.

4.      Dan akhirnya tanda tersebut menjadi sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan realitas, dan ini lah yang disebut Baudrillard sebagai Simulacra. Misalnya: Dunia The Matrix dalam film yang dibintangi Keanu Reeves.

Simulacra ini memungkinkan manusia untuk mendiami satu ruang yang sarat akan duplikasi dan daur ulang dari berbagai fragmen dunia yang berbeda-beda pada waktu yang sama. Misalnya masyarakat Bandung yang mengkonsumsi kopi ala starbucks di tempat perbelanjaan Cihampelas Walk; atau remaja SMA yang saling berkenalan dalam dunia friendster. Nah, seperti Shopping Malls, Televisi, dan Friendster itu lah yang merupakan miniatur dari dunia yang dilipat, seperti yang sudah disebutkan diatas.

Sedangkan Umberto Eco menggunakan istilah-istilah seperti copy, replica, replication, imitation, likeness, dan reproduction untuk menjelaskan apa yang disebutnya dengan hiperrealitas. Menurut Eco, hiperrealitas adalah segala sesuatu yang merupakan replikasi, salinan atau imitasi dari unsur-unsur masa lalu yang dihadirkan dalam konteks masa kini sebagai bentuk dari nostalgia[4]. Jadi, ia melihat fenomena hiperrealitas sebagai persoalan pen-jarak-kan (distanction), yakni obsesi menghadirkan masa lalu yang telah musnah, hilang, terkubur dalam rangka melestarikan bukti-buktinya dengan menghadirkan replika, tiruan, salinan, atau imitasinya. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu tersebut dihadirkan dalam konteks masa kini, maka ia kehilangan kontak dengan realitas. Jadi seakan-akan replika dari masa lalu ini terlihat lebih nyata dari kenyataannya. Sehingga menciptakan suatu kondisi dimana adanya peleburan antara salinan (copy) dengan aslinya (original).

Umberto Eco mencontohkan hiperrealitas ini ketika ia mengunjungi Amerika dan sekan-akan mengejek bahwa dengan teknologi mutakhirnya, Amerika mampu membuat tiruan atas masa lalu dengan persis dan bahkan melebihi yang sebenarnya terjadi. Misalnya ketika ia mengunjungi Disneyland dan Disneyworld, ia menyebut itu sebagai kota yang benar-benar palsu. Ia menemukan bahwa dalam dua tempat itu segala sesuatu terlihat lebih besar, bersinar, dan begitu menghibur dibandingkan kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika ia bertamasya dengan perahu yang melewati sungai buatan disney, ia melihat sekumpulan ikan-ikan kecil animasi yang tampak begitu nyata. Namun di lain hari ketika ia bertamasya di sungai Missisipi, ia justru dikejutkan dengan adanya banyak aligator ganas. Ia menyebutkan bahwa, “Disneyland mengatakan pada kita bahwa teknologi dapat memberi kita realitas dibandingkan dengan alam yang sesungguhnya.”[5]

Ia juga mencontohkan bahwa Museum Lilin di New Orleans juga merupakan bentuk reproduksi dari masa lalu, dimana terdapat patung-patung lilin yang menyerupai tokoh-tokoh sejarah Louisiana. Namun, menurut Eco museum lilin masih menyajikan sesuatu yang hampir nyata, sementara Disneyland kebanyakan menjual komoditi asli dan melampaui kenyataan yang sebenarnya.

 

Hiperrealitas Dalam Wacana Kapitalisme

Perkembangan yang mutakhir dari teknologi informasi, komoditi, dan tontonan, menjadikan itu semua menjadi tiang-tiang penopang dalam wacana kapitalisme[6] sehingga memungkinkan manusia masa kini untuk melihat dirinya sendiri sebagai refleksi dari citra-citra yang disebarkan dari komoditi dan tontonan tersebut.

Dalam kapitalisme, ada yang disebut dengan diferensiasi, yakni proses membangun identitas berdasarkan perbedaan, produk dan gaya hidup. Melalui diferensisasi inilah proses peremajaan (pembaharuan) dijadikan ideologi dalam kapitalisme (dalam bentuk komoditi), misalnya: handphone nokia seri terbaru, salon kecantikan, shopping Malls, dsb. Dalam sistem komoditi total kapitalisme, manusia tidak lagi bertindak sebagai subjek yang mengontrol objek, namun dikontrol oleh sistem objek-objek yang menyebabkan manusia kehilangan kesadaran dan memiliki gairah konsumsi yang tinggi (Jean Baudrillard). Akibatnya terbentuklah budaya konsumerisme, dimana produk-produk/komoditi tersebut menjadi satu medium untuk membentuk personalitas, gaya, citra, gaya hidup dan cara diferensiasi status sosial yang pada gilirannya menjadi penopang dunia realitas semu.

 

Hiperrealitas dalam Kaitannya dengan Kritik Ekonomi Sosial Marx

Kritik Marx berangkat dari kenyataan bahwa konflik kelas yang timbul antara kaum borjuis (pemilik modal) dan kaum proletariat (pekerja) adalah sebagai akibat dari relasi produksi kapitalisme yang bermuatan konflik. Dalam kritik ini, konflik sosial muncul sebagai akibat dari konflik kepentingan dalam penguasaan alat produksi. Dalam wawasan Marxisme, perjuangan kelas pekerja diartikan sebagai perjuangan untuk menguasai alat produksi dan membebaskan diri dari alienasi yang disebabkan karena adanya model kepemilikan. Namun Marx terlalu menekankan pada relasi produksi, padahal saat ini, dalam era kapitalisme mutakhir, persoalan tidak lagi berupa ketidakadilan sosial di balik relasi produksi komoditi, namun sudah berkembang menjadi persoalan moral yang muncul di balik rekayasa konsumer lewat komoditi.

Lalu kemudian para pendukung mazhab Frankfurt[7] mencoba untuk mengangkat tema ini. Menurut mereka, budaya komoditi adalah suatu cara dalam memanipulasi masyarakat melalui suatu bentuk yang mereka sebut sebagai administrasi total, dimana terdapat bentuk pengaturan massa, sehingga menjadikan mereka massa yang pasif. Namun sayangnya para pengikut mazhab Frankfurt hanya menjelaskan fenomena ini pada tingkat sosial, melalui pemikirannya tentang administrasi masyarakat melalui komoditi. Mereka gagal melihat administrasi sebagai bentuk pengendalian melalui tanda (sign) dan simbol-simbol sosial.

Kemudian Jean Baudrillard mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan Marx dan pendukung mazhab frankfurt. Ia menggunakan pendekatan ekonomi-politik Marx dan pendekatan semiotika struktural. Baudrillard ingin memperlihatkan bahwa kritik-kritik terhadap kapitalisme itu sendiri telah melampaui yang dibayangkan Marx, yakni melampaui persoalan-persoalan ideologis ketidakadilan atau konflik kelas yang tersembunyi di balik relasi produksi komoditi. Marx tidak pernah membayangkan bahwa pada kapitalisme mutakhir, komoditi telah dikuasai oleh permainan tanda-tanda dan simbol-simbol sosial. Menurut Baudrillard, dalam bukunya For a Critique of the Political Economy Sign, perubahan status komoditi ini disebabkan struktur tanda tersebut merupakan jantung dari komoditi masa kini, sehingga menjadikannya medium total, sebagai sistem komunikasi yang mengatur pertukaran sosial (administrasi sosial melalui tanda sosial).

Lalu dalam bukunya Baudrillard Live, ketika melihat komoditi sebagai suatu fenomena hiperrealitas, Baudrillard melihat bahwa yang terjadi saat ini adalah berkembangnya wacana sosial-kebudayaan menuju ke arah kondisi hyper. Kondisi hyper ini dapat dilihat dalam ekonomi pasar bebas, dimana ekonomi kemajuan lebih banyak digunakan untuk menciptakan kebutuhan semu bagi konsumer, semata agar ekonomi (kapitalisme) dapat terus beputar, yang pada gilirannya hanya menghasilkan kesejahteraan semu. Lalu kecenderungan hyper ini juga terlihat pada fenomena perkembangan media, dimana perkembangan teknologi media mutakhir (seperti televisi, multimedia dan internet) telah memungkinkan untuk diciptakannya satu rekayasa realitas, yaitu satu realitas yang tampak nyata, padahal semuanya hanya sebuah halusinasi image yang tercipta lewat teknologi elektronik. Di dalamnya, antara realitas dan halusinasi atau antara kebenaran dan rekayasa kebenaran bercampur aduk di dalam media.

 

 

Referensi

Piliang, Yasraf. Dunia yang Dilipat; Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra, Bandung, 2004.

Eco, Umberto, Tamasya dalam Hiperrealitas (Terjemahan dari Travel-in-Hyperreality), Picador, London, 1987.

 

 

 


[1] http://www.absoluteastronomy.com/encyclopedia/h/hy/hyperreality.htm

[2] Piliang, Yasraf. Dunia yang Dilipat; Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra,  2004, Bab 7, Hal. 197.

[3] Pemikiran McLuhan ini tertuang dalam bukunya, Understanding Media, The Extensions of Man yang meramalkan bahwa perkembangan teknologi informasi akan membawa fungsi teknologi sebagai perpanjangan manusia menuju perpanjangan tahap akhirnya. Misalnya database komputer yang memperpanjang fungsi otak manusia untuk menyimpan memori.

[4] Eco, Umberto, Tamasya dalam Hiperrealitas (Terjemahan dari Travel-in-Hyperreality, Picador, London, 1987), Hal 7.

[5] Dikuotasikan dari situs http://www.transparencynow.com/eco.htm

[6] Kapitalisme : Sebuah sistem ekonomi yang didalamnya instrumen produksi dan objek konsumsi merupakan kepemilikan dan kekuasaan pribadi

[7] Beberapa pendukung mazhab Frankfurt: Adorno, Horkheimer, Marcuse dan Habermas

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: