communicationdomain

DRAMATISM

Posted on: December 18, 2010

DRAMATISM THEORY

(TEORI DRAMATISME)

Berdasarkan Penelitian Kenneth Burke

by: A.C.S.

 

ABSTRACT

Life is drama. The dramatistic pentad of act, scene, agent, agency, and purpose is the critic’s tool to discover a speaker’s motive. The ultimate motive of rhetoric is the purging of guilt. Without audience identification with the speaker, there is no persuasion. (Rhetorical and semiotic traditions).

Keywords: retorical, drama, language as a symbolic.

 

Karl Elliot benar-benar menantikan bagian ini dari rutinitas paginya. Ia duduk dengan secangkir kopi dan surat kabar pagi. Ia memberikan satu jam penuh bagi dirinya untuk membaca semua berita hari ini dan menikmati kopinya. Ini merupakan bagian yang paling ia sukai dalam satu hari, dan ia bangun lebih pagi untuk memastikan bah wa ia mempunyai cukup waktu setelah berolahraga dan sebelum pergi ke kantor. Tetapi hari ini ia merasa tidak  senang. Ia melihat headline surat kabar dengan perasaan sebal. Ia sudah muak membaca mengenai para pengusaha yang tidak punya akal sehat. Hari ini ia membaca mengenai Martha Stewart. Artikel itu menyebutkan bahwa Stewart menghasilkan lebih banyak uang ketika ia berada di dalam penjara daripada ketika ia sedang diluar, meskipun sekarang keadaanyya tidak begitu buruk.

Karl mengangkat wajahnya dari surat kabar ketika pasangannya, Max masuk ke dalam ruang sarapan. Karl bertanya, “Max, apa kamu sudah membaca tentang Martha Stewart? Ia malah menghasilkan uang sebanyak 5 juta dolar saat ia sedang di dalam penjara! Di mana hukumannya kalau begitu caranya? Benar-benar omong kosong. Wantita itu buakn siapa-siapa melainkan seorang pembohong yang serakah.”

Max mengangkat bahunya dan tertawa. Ia telah biasa melihat Karl begitu terbawa suasana permasalahan yang sedang hangat. Max tidak melihat persoalan Martha Stewart sebagai sesuatu yang penting. Ia menyambar secangkir kopi dan pergi ke kantor. Karl kembali membaca surat kabar tersebut.

Artikel itu menggambarkan tuduhan terhadap Stewart dan argumennya mengenai mengapa ia tidak bersalah. Pembelaannya menyatakan bahwa ia memiliki sebuah kesepakatan yang telah ada sejak dulu dengan pialangnya perihal menjual bagian saham ImClone, yang didirikan dan dijalankan oleh teman baiknya Samuel Waksal. Hanya merupakan suatu kebetulan belaka bahwa ia mampu untuk melepaskan hamper 4000 lembar saham sebelum perusahaan hancur dan saham tersebut menjadi tidak berharga

Karl tersenyum pada dirinya sendiri, berpikir bahwa setidaknya Stewart tidak berhasil lolos dengan cerita yang begitu lemah. Ia tidak percaya bahwa Stewart bisa saja telah berbicara dengan teman baiknya, Samuel Waksal, dan tidak mendapatkan bocoran untuk menjual saham-saham yang dimilikinya. “ternyata itu cara orang kaya menjadi lebih kaya lagi,” piker Karl. Karl berpikir sangat menyedihkan bahwa semua pemegang saham kecil di

IMClone harus kehilangan uang sementara Stewart malah menghasilkan lebih banyak uang lagi di penjara.

Karl melihat bahwa ia sudah sedikit terlambat, jadi ia memasukkan surat kabarnya ke dalam tasnya dan pergi bekerja. Sesampainya di kantor, beberapa orang sedang berbicara mengenai Martha Stewart. Koleganya Diane setuju dengannya dan mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa dana pension yang ia investasikan sedang mengalami kerugian di bursa saham. Karl memandang Diane dan tersenyum “Kamu benar,” katanya. “Semua orang di seluruh negeri ini mengalami kerugian karena nmelemahnya pasar saham. Begitupun seharusnya Stewart.” Kolega lainnya, Randy, tidak setuju dengan hal ini, menyatakan bahwa kita seharusnya selalu memaafkan kesalahan semacam ini. Ia berpikir bahwa Stewarts sudah cukup mendapatkan hukuman,

Ketika Karl berkendaran pulang ke rumah dari tempat kerjanya malam itu, ia mendengar komentator berita di radio mengatakan bahwa maria Stewart adalah ikon yang disukai oleh orang Amerika untuk dibenci. Ia kini sedang menuai kebencian public yang telah menumpuk karena ia telah lama menjadi symbol kesempurnaan. Cerita radio tersebut berlanjut mengatakan bahwa Amerika Serikat sangat suka menciptakan public figure dan lebih suka lagi melihat mereka jatuh. Komentator menyatakan bahwa opini public mengenai Stewart terlihat semakin meningkat, semenjak ia megalami masa tahanannya. Tampaknya rakyat Amerika bersedia untuk memaafkannya.

Cerita itu menyimpulkan bahwa Amerika adalah bangsa yang menyukai kemunculan kembali seorang public figure. Karl tidak setuju. Ia berpikir bhawa Martha Stewart patut un

tuk tidak dimaafkan karena tindakan ilegalnya, bukan karena orang Amerika suka melihat seseorang yang berkuasa dipaksa berlutut di panggung public. Selain itu Karl tidak dapat menghargai perilaku Stewart selama investigasi mengenai penjualan sahamnya. Stewart hanya diam saja. Karl berpendapat bahwa jika Anda melakukan hal yang salah, Anda harus cukup besar hati untuk mengakuinya. Meskipun ia menjalani masa hukumannya, ia masih tetap saja mendapatkan keuntungan yang besar. Karl menganggap itru sebagai sesuatu yang memuakkan.

 

SEKILAS TEORI

Teori Burke membandingkan kehidupan dengan sebuah pertunjukkan dan menyatakan bahwa sebagaimana dalam sebuah karya teatrikal, kehidupan membutuhkan adanya seorang actor, sebuah adegan, beberapa alat untuk terjadi adegan itu, dan sebuah tujuan. Teori ini memungkinkan seorang kritikus retoris untuk menganalisis motif pembicara dengan mengidentifikasi dan mempelajari elemen-elemen ini. Selanjutnya, Burke percaya, rasa bersalah adalah motif utama bagi pembicara, dan Dramatisme menyatakan bahwa seorang pembicara akan menjadi paling sukses ketika mereka memberikan khalayaknya cara untuk menghapuskan rasa bersalah mereka.

 

LATAR BELAKANG TEORI

Beberapa ahli retorika mungkin akan menganalisis masalah Martha Stewart dan respons Karl dengan menggunakan Dramatisme (Dramatism), posisi teoretis yang berusaha untuk memahami tindakan kehidupan manusia sebagai drama. Kenneth Burke dikenal sebagai penggagas Dramatisme, meskipun ia sendiri tidak mengunakan istilah tersebut. Burke, yang meninggal pada tahun 1993 pada usia 96 tahun, merupakan orang yang hebat, dan tidak seperti teoretikus lain, Burke tidak pernah memperoleh gelar sarjana, apalagi gelar doctor. Ia adalah seorang otodidak dalam bidang

 

kritik sastra, filsafat, komunikasi, sosiologi, ekonomi, teologi, dan linguistic. Ia mengajar selama hampir 20 tahun di berbagai universitas, termasuk Harvard, Princeton, dan Universitas Chicago.

Keluasan minatnya dan mungkin kurangnya pelatihan formal pada salah satu bidang disiplin ilmu tersebut membuatnya menjadi salah seorang teoretikus yang paling interdisipliner yang kita pelajari. Ide-idenya telah diterapkan secara luas dalam berbagai area termasuk sastra, teater, komunikasi, sejarah, dan sosiologi. Tidak diragukan bahwa salah satu alas an mengapa ide-ide Burke dibaca secara luas dan sangat dapat diterapkan berkaitan dengan fokusnya pada sistem symbol-salah satu cara utama dari pertukaran intelektual dan usaha ilmiah bagi para peneliti yang bekerja dalam bidang humaniora. Dramatisme memberikan fleksibilitas pada para peneliti untuk mempelajari sebuah objek kajian dari berbagai macam sudut pandang.

1945. Tahun dimana, Kenneth Duva Burke memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978). Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959.

Dramatisme, sebagaimana terlihat dari namanya, mengonseptualisasikan kehidupan sebagai sebuah drama, menempatkan suatu focus kritik pada adegan yang diperlihatkan oleh berbagai pemain. Seperti di dalam sebuah drama, adegan dalam kehidupan adalah penting dalam menyingkap motivasi manusia. Dramatisme memberikan kepada kita sebuah metode yang sesuai untuk membahas tindakan komunikai antara teks (bagaimana Karl menerima dan menghubungkan dengan apa yang ia ketahui mengenai Stewart) dan khalayak untuk teks (Karl), serta tindakan di dalam teks itu sendiri (motif dan pilihan Stewart). Sebagaimana dikatakan oleh C. Ronald Kimberling (1982), “Dramatisme secara meyakinkan memberikan sebuah pandangan kritis yang tidak dapat dihasilkan oleh metode lainnya” (hal.13). ketika Karl membaca mengenai kasis Stewart dan klaim-klaimnya, Karl seperti sedang melihatnya sebagai seorang aktir. Dalam istilah Burke, Karl memahami Stewart sebagai seorang actor dalam sebuah adegan, berusaha untuk mencapai tujuannya sebagai hasil dari motif-motif tertentu. Jadi, dia memberikan komentar mengenai motifnya ketika ia mengevaluasi tindakan Stewart menjual saham ImClone-nya beberapa saat sebelum kejatuhan pasar saham serta kemampuannya untuk mendapatkan berjuta-juta dolar ketika ia ada di dalam penjara akibat perbuatannya itu. Teori Dramatisme Burke memungkinkan kita untuk menganalisis baik pilihan retoris Stewart dalam situasi ini (bagaimana ia membingkai kasusnya dalam pernyataan hukum dan bagaimana dia membela kemampuannya mendapatkan uang ketika sedang dipenjara) dan respons Karl mengenai pilihan Stewart (penolakan terhadap penjelasan Stewart).

Drama adalah metafora yang berguna bagi ide-ide Burke untuk tiga alasan:

  1. Drama mengindikasikan cakupan yang luas, dan Burke tidak membuat klaim yang terbatas; tujuannya adalah untuk berteori mengenai keseluruhan pengalaman manusia. Metafora dramatis khususnya berguna dalam menggambarkan hubungan manusia karena didasarkan pada interaksi atau dialog. Dalam dialognya, drama menjadi model hubungan dan juga memberikan penerangan pada hubungan.
  1. Drama cenderung untuk mengikuti tipe-tipe atau genre yang mudah dikenali: komedi, musical, melodrama, dan lainnya. Burke merasa bahwa cara kita membentuk dan menggunakan bahasa yang dapat berhubungan dengan cara drama manusia ini dimainkan. Sebagaimana diamati oleh Barry Brummett (1993), “Kata-kata akan terangkai menjadi wacana berpola pada tingkat makro dari keseluruhan teks atau wacana. Burke berargumen bahwa pola berulang yang menggarisbawahi suatu teks menjelaskan bagaimana teks tersebut menggerakkan kita.
  2. Drama selalu ditunjukkan pada khalayak. Dalam hal ini, drama bersifat retoris. Burke memandang sastra sebagai “peralatan untuk hidup,” artinya bahwa literatur atau teks berbicara pada pengalaman hidup orang dan masalah serta memberikan orang reaksi untuk menghadapi pengalaman ini. Dengan demikian, kajian Dramatisme mempelajari cara-cara dimana bahasa dan penggunaannya berhubungan dengan khalayak.

 

ASUMSI DRAMATISME

Asumsi memberikan sebuah makna dari ontology teoretikus. Pemikiran Kenneth Burke begitu rumit sehingga sulit untuk merduksinya menjadi sebuah seperangkat asumsi. Beberapa asumsi berikut ini menggambarkan sulitnya memberikan label kepada ontologi Burke. Peneliti seperti Brummet (1993) telah menyebut asumsi Burke sebagai ontologi simbolis dikarenakan penekanannya pada bahasa. Walaupun begitu, Brummet mengingatkan bahwa, “Hal terbaik yang dapat dilakukan seseorang, dalam mencari inti dari pemikiran Burke, adalah untuk menemukan sebagian ontologinya, dasar bagi kebanyakan bagian. Bagi Burke, orang umumnya melakukan apa yang harus mereka lakukan, dan dunia kebanyakan adalah seperti itu adanya, karena sifat dasar dari sistem symbol itu sendiri. Komentar Brummet memberikan gambaran mengenai tiga asumsi teori Dramatisme Burke berikut ini:

  • Humans are animals who use symbols.
  • Language and symbols form a critically important system for humans.
  • Humans are choise makers.

Asumsi pertama berbicara mengenai kesadaran Burke bahwa beberapa hal yang kita lakukan dimotivasi oleh sinbol-simbol. Contohnya, ketika Karl minum kopi pagi harinya, dia memuaskan rasa hausnya, sebuah bentuk naluri hewan. Ketika ia membaca surat kabar pagi dan berpikir mengenai ide-ide yang ia temukan disana, ia dipengaruhi oleh simbol. Ide bahwa manusia adalah hewan yang menggunakan symbol menggambarkan sebuah ketegangan dalam pemikiran Burke. Seperti yang diamati oleh Brummett (1993), asumsi ini, “terombang-ambing anara kesadaran bahwa beberapa dari yang kita lakukan dimotivasi oleh sifat naluriah hewan dan beberapa oleh sifat simbolik”. Dari semua symbol yang digunakan manusia, bahasa adalah yang paling penting bagi Burke, dan ini membawa kita kepada asumsi yang kedua.

Dalam asumsi kedua (mengenai pentingnya bahasa), posisi Burke cukup mirip dengan prinsip relativitas linguistic yang dikenal sebagai Hipotesis Sapir-Whorf (Sapir, 1921; Whorf, 1956). Sapir dan Whorf menyatakan bahwa sangat sulit untuk berpikir mengenai konsep atau objek tanpa adanya kata-kata bagi mereka. Jadi, orang dibatasi (dalam batasan tertentu) dalam apa yang mereka pahami oleh karena batasan bahasa meraka. Bagi Burke, seperti halnya Edward Sapir dan Benjamin Whorf, ketika orang menggunakan bahasa, mereka juga digunakan oleh bahasa tersebut. Ketika Karl mengatakan kepada Max bahwa Stewart adalah seorang pembohong yang serakah, ia memilih symbol yang ingin ia gunakan, tetapi pada saat yang bersamaan pendapat dan pemikirannya dibentuk dengan mendengar dirinya sendiri menggunakan simbol ini. Selain itu, ketika bahasa dari suatu budaya tidak mempunyai symbol untuk motif tertentu, maka pembicara yang menggunakan bahasa tersebut juga cenderung untuk tidak memiliki motif tersebut. Jadi, karena bahasa tidak mempunyai banyak symbol yang mampu mengekspresikan banyak nuansa pendapat mengenai perilaku dan motivasi Stewart, diskusi kita sering kali terpolarisasi. Ketika Karl berbicara dengan koleganya Diane dan Randy, diskusinya terfokus pada apakah Stewart bersalah atua tidak. Tidak banyak terdapat pilihan diantaranya, dan Burke berargumentasi bahwa hal ini dalah hasil langsung dari sistem symbol kita. Coba pikirkan kembali kontroversi yang pernah hangat dibicarakan (seperti implikasi moral dari cloning, penelitian pencangkokan sel, kasus Terri Schiavo, invasi ke Irak, dan lainnya). Anda mungkin mengingat diskusi tersebut sebagai proposisi hanya/atau (either/or)-posisi yang dapat dipilih hanya benar atau salah. Respons

Burke akan hal ini adalah bahwa symbol membentuk pendekatan hanya/atau kita terhadap masalah yang kompleks.

Burke menambahkan bahwa kata-kata, pemikiran, dan tindakan memiliki hubungan yang sangat dekat satu dengan lainnya. Penjelasan Burke mengenai hal ini adalah bahwa kata-kata bertindak seperti “layar terministik (terministic screens)” menuju kepada “ketidakmampuan yang terlatih (trained incapacities,” yang berartibahwa orang tidak mampu melihat di balik hal ke mana kata-kata mereka menuntun mereka (Burke, 1965). Contohnya, walaupun telah melakukan usaha-usaha pendidikan, para petugas kesehatan public Amerika Serikat tetap mengalami kesulitan untuk membujuk orang memikirkan mengenai penyalahgunaan alcohol dan obat tidur ketika menganggap “penyalahgunaan obat” sebagai penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti heroin dan kokain (Brummet, 1993). Kata “penyalahgunaan obat” adalah “layar terministik,” yang menyeleksi dan membuang beberapa makna dan memasukkan yang lainnya. Untuk Burke, bahasa memiliki kehidupannya sendiri, dan “apa pun yang dapat kita lihat atau rasakan sudah ada dalam bahasa, diberikan kepada kita oleh bahasa, dan bahkan diproduksi sebagai kita oleh bahasa” (Nelson, 1989, hal. 169; penekanan seperti aslinya). Penjelasan ini sedikit berlawanan dengan asumsi terakhir Dramatisme.

Asumsi kedua menyatakan bahwa bahasa memiliki pengaruh deterministic terhadap orang (Melia, 1989), tetapi asumsi yang terakhir mengatakan bahwa manusia adalah pembuat pilihan. Burke secara gigih mengatakan bahwa ontology deterministic behaviorisme harus ditolak karena hal itu bertentangan dengan apa yang dia lihat sebagi dasar utama Dramatisme: pilihan manusia. Jadi, ketika Karl membaca mengenai Martha Stewart, dia membentuk opininya mengenai perilaku Stewart melalui kehendak bebasnya. Kebanyakan dari yang telah dibahas berpijak pada konseptualisasi akan agensi (agency), atau kemampuan aktor sosial untuk bertindak sebagai hasil dari pilihannya. Seperti yang diamati oleh Charles Conrad dan Elizabeth Macom (1995), “Esensi dari agensi adalah pilihan” (hal. 11). Tetapi, Conrad dan Macom menyatakan lebih lanjut, Burke berkutat dengan konsep agensi sepanjang kariernya, terutama karena sulitnya menegosiasikan ruang di antara kehendak benas yang sepenuhnya dan determinisme yang sepenuhnya. Pemikiran Burke terus berevolusi pada titik ini, tetapi dia tetap mempertahankan agensi sebagai konsep terdepan dalam teorinya. Untuk memahami ruang lingkup Burke mengenai teori ini, kita perlu menbahas bagaimana ia membingkai pemikirannya yang relative terhadap retorika Aristotelian.

 

DRAMATISME SEBAGAI RETORIKA BARU

Dalam bukunya A Rhetoric of Motives (1950), Burke memperhatikan mengenai persuasi, dan dia menyiapkan cukup banyak diskusi mengenai prinsip tradisional retorika yang diartikulasikan oleh Aristoteles. Burke menyatakan bahwa definisi retorika adalah, intinya, persuasi, dan tulisannya mengeksplorasi cara-cara di mana persuasi dapat terjadi. Dengan melakukan hal ini, Burke mengajukan sebuah retorika baru (Nichols, 1952) yang berfokus pada beberapa isu penting, dan yang paling penting di antara kesemuanya adalah identifikasi. Tahun 1952, Marie Nichols mengatakan hal berikut ini mengenai perbedaan antara pendekatan Burke dan Aristoteles: “Perbedaan antara retorika ‘lama’ dan retorika ‘baru’ mungkin dapat dirangkum dengan cara ini: istilah kunci untuk retorika ‘lama adalah persuasi dan menekankan pada desain yang terencana, istilah kunci untuk retorika ‘baru’ adalah identifikasi dan hal ini dapat mencakup faktor-faktor yang secara parsial ‘tidak sadar’ dalam mengajukan pernyataannya” (hal 323); penekanan sesuai dengan aslinya). Tetapi tujuan Burke tidak untuk menggantikan konseptualisasi Aristoteles, melainkan lebih kepada memberikan tambahan terhadap pendekatan tradisional.

 

Sumber:

Griffin Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. Singapore: McGraw-Hill.

Wood, Julia T. (1997). Communication in Our Lives. Belmont CA: Wadsworth P C.

Littlejohn, Stephen W. 2005. Theories of Human Communication. Belmont, California: Thomson Wadsworth Publishing Company.

West, Richard. Turner, Lynn. 2007. Introducing Communication Theory. NY: Mc Graw Hill.

 

1 Response to "DRAMATISM"

ijin nyomot, ane lagi males ngetik dari buku hhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: