communicationdomain

Analisis Efek Film Wall-E

Posted on: December 18, 2010

WALL-E

Directed by: Andrew Stanton

Sinopsis

Mengambil setting di kota New York, sebuah robot berjalan- jalan sendirian untuk mengambil sampah dan membuatnya menjadi tumpukan-tumpukan berbentuk kubus. Terlihat sebuah kota yang kering, penuh dengan tumpukan sampah dan kadang kadang badai angin yang mematikan selalu tiba apabila matahari sudah terbenam.

inilah opening sebuah film animasi dari PIXAR yang baru premiere pada bulan Agustus di Bioskop bioskop di Indonesia ini menyihir kita semua begitu melihatnya, dengan efek dan animasi yang benar benar bagus.

Dari beberapa robot WALL-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth-Class), hanya ada satu robot saja yang tertinggal di dunia. Robot kecil ini diprogram untuk melakukan pembersihan global dengan cara mengolah sampah menjadi sebuah kubus yang disusun kembali menjadi sebuah bangunan.

Wall-e tinggal sendirian di kota yang mirip New York dan dalam waktu berabad abad, Wall-e mempunyai keingintahuan yang sangat besar dan mengumpulkan beberapa barang barang yang dianggapnya menarik, ia juga menyimpan spare part dari beberapa rekannya yang sudah rusak untuk menggantikan spare part di tubuhnya. Wall-e hanya ditemani oleh seekor kecoa yang menjadi binatang peliharaan sekaligus sahabatnya.

Suatu hari, ketika sedang melaksanakan tugasnya, Wall-e menemukan tanaman yang tumbuh disepatu boot yang sudah tua. Hingga pada suatu hari, sebuah pesawat luar angkasa mendarat dan menurunkan sebuah robot yang dikirim untuk mencari sumber kehidupan di bumi. Robot itu bernama EVE. EVE adalah robot cantik yang dikirim untuk mencari informasi apakah bumi sudah siap dihuni lagi.

Wall-e jatuh cinta kepada EVE pada pandangan pertama, namun EVE hanya peduli dengan tujuan dan perintah yang diberikan kepadanya, ketika ia melihat tanaman yang menjadi tujuannya datang ke bumi, EVE langsung menyimpan tanaman itu dan menjadi kapsul yang tidak aktif.

Wall-e melakukan segala cara untuk melindungi badan EVE ketika ia tidak aktif, sampai pada saat EVE dijemput oleh kapal ruang angkasa yang membawanya ke AXIOM, Wall-e yang terus melindungi EVE, terbawa ke luar angkasa dan terkagum kagum dengan keadaan di luar angkasa.

AXIOM selama 700 tahun terus berorbit diluar angkasa dengan membawa manusia- manusia yang mengalami kegemukan, karena jarang berolahraga dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang sering disediakan oleh robot robot yang melayani mereka, mereka tidak berjalan, hanya duduk setiap hari di kursi yang disediakan, peran ibu yang penting bagi anak yang baru lahir digantikan oleh robot. Bahkan untuk mengganti baju pun dilakukan dengan bantuan teknologi. Kapten kapal McCrea-pun mendelegasikan tugasnya kepada Autopilot.

EVE memberikan temuannya kepada Kapten McCrea dan sang kapten menerima pesan wasiat bahwa apabila ada kehidupan di Bumi, maka umat manusia yang di luar angkasa itu akan segera pulang. Sang kapten yang belum pernah pulang ke bumi selama 700 tahun, merasa sangat heran dengan adanya tanaman tersebut, lalu ia melihat keadaan bumi dari pandangan mata EVE, dan EVE melihat apa yang Wall-e lakukan ketika EVE dalam keadaan non aktif, kapten McCrea sangat kaget dengan kehancuran lingkungan bumi, segera setelah ia melihat dan mempelajari keadaan bumi, ia jatuh cinta dan langsung memutuskan untuk kembali ke bumi

Konflik mulai terjadi ketika server pesawat induk tidak mau para manusia untuk meninggalkan pesawat tersebut. Wall-e yang mengalami kerusakan ketika dikejar kejar oleh Auto, dibawa oleh EVE ke Bumi untuk diperbaiki, kerusakan pada memory Wall-e mengakibatkan Wall-e kehilangan ingatannya tentang apa yang dialami olehnya selama 700 tahun ini. Namun, seperti kisah kartun, selalu ada happy ending. Wall-e kembali sadar dan bisa mengingat ingat apa yang dia alami. Kaum manusia kembali ke bumi dan memulihkannya sedangkan Wall-e mendapatkan angan angannya, yaitu memegang tangan EVE, sebagai tanda cinta.

 

Analisis Efek film.

Ada tiga dimensi efek komunikasi massa, yaitu: kognitif, afektif, dan behavioral. Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar, dan tambahan pengetahuan. Efek efektif berhubungan dengan emosi, perasaan, dan attitude (sikap). Sedangkan efek konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu.

Kognitif

Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif. Dalam efek kognitif ini dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitif. Melalui media massa, kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita kunjungi secara langsung.

Setelah menonton film ini, diharapkan khalayak mendapatkan informasi mengenai permasalahan terbesar di dunia ini. Yaitu SAMPAH. Dengan judul WALL-E (Waste Allocation Load Lifter – Earth Class) ini, PIXAR mencoba menyajikan beberapa tayangan berbeda yang menghibur serta mendidik kita untuk senantiasa bisa berpikir serius tentang permasalahan di dunia ini, terutama tentang pencemaran lingkungan.

Khalayak yang tadinya tidak tau mengenai bahayanya membuang sampah sembarangan, menjadi tau betapa pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Hal yang kecil itu bisa menjadi besar. Siapa sangka bungkus permen kecil yang kita buang sembarangan setiap harinya dapat menyebabkan Bumi kita benar-benar mengalami kerusakan, sampai-sampai tidak bisa lagi dijadikan tempat tinggal.

Selain itu, khalayak yang menonton film ini juga mendapatkan informasi bahwa konsekuensi dari teknologi yang berkembang adalah kemudahan. Namun, akibatnya sangat parah kepada lingkungan. Sebenarnya teknologi hadir untuk meringankan beban manusia, bukan untuk menghilangkan beban itu sama sekali.

Film ini juga menginformasikan kepada khalayak bahwa untuk memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidup, bukanlah dengan dimanjakan oleh teknologi yang sangat canggih, bukan hanya dengan hidup bersantai-santai dengan meninggalkan semua kegiatan di Bumi kita ini, kemudian segala sesuatunya dilayani oleh robot canggih. BUKAN!. Kebahagiaan yang sesungguhnya akan timbul apabila kita memanfaatkan potensi-potensi yang diberikan oleh Sang Kholik temasuk merawat Bumi yang telah disediakan sebagai tempat tinggal kita. Jangan terlena oleh Teknologi. Jangan mau dibodohi oleh teknologi.

Afektif

Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada Efek Kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan hanya sekedar memberitahu kepada khalayak agar menjadi tahu tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, setelah mengetahui informasi yang diterimanya, khalayak diharapkan dapat merasakannya.

Respons kita terhadap sebuah film, akan dipengaruhi oleh suasana emosional kita. Film sedih akan sangat mengharukan apabila kita menontonnya dalam keadaan sedang mengalami kekecewaan. Adegan-adegan lucu akan menyebabkan kita tertawa terbahak-bahak bila kita menontonnya setelah mendapat keuntungan yang tidak disangka-sangka. Nah, ditengah suasana dan isu Global Warming saat ini, setelah mendapatkan informasi mengenai dampak yang timbul akibat sikap tak acuh terhadap lingkungan dan terlalu terlena dengan teknologi,akan membuat khalayak merasa tersindir, dan juga merasa ngeri.

Film Wall-e benar benar memberikan gambaran yang mengerikan bagi umat  manusia dimasa depan apabila ancaman ancaman ini tidak segera diatasi. Manusia disini diibaratkan adalah pemikiran dan robot diibaratkan adalah teknologi, seandaikan manusia dan robot bisa bersatu dan menjaga bumi ini dan kalau konsep pembangunan diarahkan untuk lebih bersahabat dengan alam mungkin permasalahan lingkungan tidak akan pernah terjadi, serta keserakahan manusia bisa diredam dan keseimbangan didalam hati manusia bisa dijaga, apakah wajah bumi kita akan penuh dengan sampah dan polusi 20 tahun lagi dan bumi hanya ditemani oleh robot? Gimana gak merinding?

Film ini juga dapat menimbulkan rasa bersalah terhadap apa yang selama ini kita lakukan. Membuang sampah sembarangan ternyata membuat bumi kita ini tersiksa, dan pada akhirnya kita tidak dapat lagi mendiami bumi kita tercinta ini karena sampah yang menumpuk. Sungguh membuat bulu kuduk berdiri.

Selain efek perasaan ngeri, merasa bersalah dan merinding, film ini juga menimbulkan perasaan iba terhadap Wall-e. khalayak juga ikut merasakan kesedihan ketika demi memperjuangkan kehidupan di Bumi, Wall-e sampai kehilangan ingatannya. Tubuhnya yang sudah tua menjadi rusak, bahkan Wall-e lupa kepada cinta pertamanya, EVE. Tidak jarang juga penonton tertawa terbahak-bahak karena film ini juga mengandung unsur komedi.

Behavioral

Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Setelah mendapatkan informasi mengenai dampak dari sikap tak acuh terhadap kebersihan lingkungan, kemudian merasa ngeri, tentu khalayak kemudian akan mulai meninggalkan kebiasaan buruk mereka yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan mulai menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya.

Siapa yang menginginkan bumi kita ini dipenuhi oleh sampah-sampah sampai tidak ada lagi area yang bisa dijadikan tempat tinggal? Tentu tidak ada. Yang kita harapkan pastilah air sungai yang jernih, padang rumput yang hijau dan udara yang bersih untuk anak cucu kita, dan bukan untuk robot tentunya. Karena bukan tidak mungkin apa yang terjadi di film ini dapat juga terjadi di masa depan. Dan memang selayaknya manusia lah yang bertanggung jawab untuk membersihkan bumi. Menanaminya dengan tanaman, menjaganya agar tak tercemar kembali. Sebuah robot saja peduli terhadap lingkungan, kenapa manusia yang jauh lebih sempurna tidak peduli?

Selain itu, khalayak juga menjadi sadar bahwa sekali lagi, teknologi diciptakan untuk meringankan beban manusia, bukan menghilangkannya sama sekali. Manusia harus tetap bekerja, tetap memanfaatkan angoota tubuh dan kemampuan yang diberikan Sang Kholik, jangan mau dibodohi oleh teknologi. Memangnya siapa yang mau dimanjakan oleh para robot yang melayani setiap saat, tetapi akibatnya untuk berjalan pun harus duduk di sebuah mesin penggerak dan lupa bagaimana caranya berdiri dan berjalan. Mau kita kemana-kan nikmat hidup yang telah Allah berikan?. Karena hal itu-lah setelah menonton film ini, khalayak menjadi tergerak untuk tidak menggantungkan hidup kepada teknologi. Pada akhirnya, khalayak menjadi lebih bersyukur dan memanfaatkan sebaik mungkin potensi-potensi yang dimiliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: