communicationdomain

KOMUNIKASI NONVERBAL

Posted on: December 17, 2010

by: A.C.S.

 

Inti utama proses komunikasi adalah penyampaian pesan oleh komunikator di satu pihak dan penerimaan pesan oleh komunikan di pihak lainnya. Kadar yang paling rendah dari keberhasilan komunikasi diukur dengan pemahaman komunikan pada pesan yang diterimanya. Pemahaman komunikan terhadap isi pesan atau makna pesan yang diterimanya merupakan titik tolak untuk terjadinya perubahan pendapat, sikap, dan tindakan.

Pesan komunikasi secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua ketegori, yakni pesan verbal dan pesan nonverbal. Pesan verbal adalah pesan yang berupa bahasa, baik yang diungkapakan melalui kata-kata maupun yang dituangkan dalam bentuk rangkaian kalimat tulisan. Pesan nonverbal adalah pesan yang berupa isyarat atau lambang-lambang selain lambang bahasa.

Komunikasi nonverbal lebih tua daripada komunikasi verbal. Kita lebih awal melakukannya, kerena hingga usia kira-kira 18 bulan, kita secara total bergantung pada komunikasi nonverbal seperti sentuhan, senyuman, pandangan mata, dan sebagainya. Maka, tidaklah mengherankan ketika kita ragu pada seseorang, kita lebih percaya pada pesan nonverbalnya. Orang yang terampil membaca pesan nonverbal orang lain disebut intuitif, sedangkan yang terampil mengirimkannya disebut ekspresif.

Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima.

Sebagaimana kata-kata, kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal. Melainkan terikat oleh budaya, jadi dipelajari, bukan bawaan. Sedikit isyarat nonverbal yang merupajan bawaan. Kita semua lahir dan mengetahui bagaimana tersenyum, namun kebanyakan ahli sepakat bahwa di mana, kapan, dan kepada siapa kita menunjukkan emosi ini dipelajari, dan karenanya dipengaruhi oleh konteks dan budaya. Kita belajar menatap, memberi isyarat, memakai parfum, menyentuh berbagai bagiann tubuh orang lain, dan bahkan kapan kita diam. Cara kita bergerak dalam ruang ketika berkomunikasi dengan orang lain didasarkan terutama pada respons fisik dan emosional terhadap rangsangan lingkungan. Smentara kebanyakan perilaku verbal kita bersifat eksplisit dan diproses secara kognitif, perilaku nonverbal kita bersifat spontan, ambigu, sering berlangsung cepat, dan di luar kesadaran dn kendali kita. Karena itulah Edward T. Hall menamai bahasa nonverbal ini sebagai “bahasa diam” (silent language) dan “dimensi tersembunyi” (hidden dimension). Disebut diam dan tersembunyi, karena pesan-pesan nonverbal tertanam dalam konteks komunikasi. Selain isyarat situasional dan relasional dalam transaksi komunikasi, pesan nonverbal memberi kita isyarat-isyarat kontekstual. Bersama isyarat verbal dan isyarat kontekstual, pesan nonverbal membantu kita menafsirkan seluruh makna pengalaman komunikasi.

Tidak ada struktur yang pasti, tetap, dan dapat diramalkan mengenai hubungan antara komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Keduanya dapat berlangsung spontan, serempak, dan nonsekuensial. Akan tetapi, kita dapat menemukan setidaknya tiga pebedaan pokok antara komunikasi verbal dan nonverbal, diantaranya yaitu :

  1. Perilaku verbal adalah saluran tunggal, perilaku nonverbal bersifat multisaluran.
  2. Pesan verbal terpisah-pisah, sedangkan pesan nonverbal sinambung.
  3. Komunikasi nonverbal mengandung lebih banyak muatan emosinal daripada komunikasi verbal.

Dalam komunikasi interpesonal, pesan nonverbal memiliki fungsi-fungsi : (1) Repetisi, yakni mengulang kembali gagasan yang sudah dinyatakan secara verbal. Misalnya, setelah kita menjelaskan penolakan kita, kita menggelengkan kepala berkali-kali, (2) Substitusi, yakni menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya, tanpa sepatah katapun Anda berkata, Anda dapat menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-angguk, (3) Kontradiksi, yakni menolak pesan verbal atau memberikan makna terhadap pesan verbal. Misalnya, Anda memuji prestasi kawan Anda dengan mencibirkan bibir Anda, “Hebat, kau memang hebat,” (4) Komplemen, yakni melengkapi dan memperkaya makna pesan verbal. Misalnya, air muka Anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata, (5) Aksentuasi, yakni menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalkan, Anda mengungkapkan betapa jengkelnya Anda dengan memukul meja.

Pesan nonverbal dapat berupa pesan kinesis, pesan prosemik, pesan artifaktual, pesan paralinguistik, dan pesan sentuhan serta bau-bauan.

Pesan kinesis adalah pesan nonveral denagn menggunakan gerakan tubuh yang terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural. Pesan fasial berupa ekspresi wajah (air muka) dalam menyampaikan makna tertentu; pesan gestural berupa gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan; sedangkan pesan postural berkenaan denagn keseluruhan anggota badan. Postur TNI ketika berdiri di hadapan atasannya akan berbeda dengan postur anak sekolah ketika berhadapan dengan gurunya.

Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Jarak tempat di antara dua orang yang sedang berkomunikasi dapat menginformasikan kepada kita, bagaimana tingkat keakraban diantara keduanya dan bagaimana tingkat keformalan komunikasinya. Jarak duduk antara Anda dan kekasih Anda ketika berbicara di malam Minggu akan berbeda dengan jarak duduk Anda dengan Dosen “Killer” Anda yang membuat Anda tidak lulus ujian.

Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan (tubuh, pakaian, dan kosmetik). Pakaian tertentu berhubungan denagn perilaku tertentu. Pada umumnya, pakaian kita pergunakan untuk menyampaikan identitas kita, untuk mengungkapkan kepada orang lain “Siapa Kita”.

Pesan Paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan cara mengungkapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan dengan cara yang berbeda. Pesan paralinguistik terdiri dari, antara lain, nada, kualitas suara, volume, kecepatan, dan ritme.

Pesan sentuhan dan bau-bauan (tactile and olfactory message) termasuk pesan nonverbal nonvisual dan nonvokal. Pesan ini hanya dapat ditangkap melalui indera peraba dan indera penciuman.

Kesimpulannya, pesan nonverbal sangat berpengaruh terhadap keefektifan komunikasi interpersonal. Pesan nonverbal akan mampu mengungkapkan hal yang tidak bisa atau tidak mau diungkapkan dengan pesan verbal. Sigmund Freud melukiskan, bagaimana pesan nonverbal dapat mengungkapkan kejujuran dan isi hati kita dengan sebait syair (Rakhmat, 1996:294):

Tidak ada manusia yang dapat menyimpan rahasia.

Jika bibirnya diam, ia berceloteh dengan ujung-ujung jarinya;

Rahasia membersit dari pori-pori kulitnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: