communicationdomain

BAGAIMANA KHALAYAK MENGOLAH PESAN KAMPANYE?

by: A.C.S.

Cara khalayak menanggapi pesan-pesan kampanye juga akan menentukan apakah mereka akan menerima atau menolak pesan-pesan tersebut. Setidaknya ada tiga teori yang dapat menjelaskan bagaimana khalayak mengolah dan meresponi berbagai stimulus yang menerpa mereka , yakni information-integrategration theory (teori integrasi informasi), social judgment theory (teori pertimbangan sosial) dan likehood model (model kemungkinan elaborasi).

 

Teori Integrasi Informasi (Information-Integration Theory)

Teori integrasi informasi adalah salah satu dari sedikit teori komunikasi yang secara khusus memusatkan pembahasannya pada ‘cara’ mengumpuljan dan mengorganisaasikan informasi tentang orang, peristiwa, gagasan atau objek lainnya yang membentuk sikap terhadap objek atau konsep tersebut. Disini konstruk sikap menjadi sangat penting karena adanya pada prinsipnya semua studi tentang persuasi ditujukan untuk melakukan perubahan sikap. Sikap diartikan sebagai informasi akumulatif tentang berbagai peristiwa, orang atau objek lainnya yang sebelumnya telah mengalami proses evaluasi. Setiap perubahan sikap dipandang sebagai proses penambahan informasi atau perubahan penilaian terhadap kebenaran informasi.

Menurut teori ini sistem sikap individu daoat dipengaruhi oleh informasi yang diterima dan diintegrasikan ke dalam sistem informasi sikap tesebut. Semua informasi memiliki potensi untuk mempengaruhi sikap ditentukan oleh dua variable yakni valence dan weight. Valence atau cvalensi adalah derajat yang menunjukkan apakah suatu informasi dipandang sebagai kabar baik (goodnews) atau buruk (badnews). Jadi setiap informasi akan dievaluasi dengan menggunakan skala positif-negatif. Mulai dari sangat positif hingga sangat negatif. Jika informasi tertentu mendukung dan sesuai dengan sikap dan keyakinan yang dipegang seseorang, maka ia akan dipandang positif, demikian sebaliknya.

Variable kedua adalah weight atau bobot pesan yang dikaitkan dengan kredibilitas sumber yang menyampaikan informasi tersebut. Jika seseorang menganggap suatu informasi tertentu sebagai kebenaran maka ia akan memberikan bobot yang tinggi terhadap informasi tersebut. Jika sebaliknya maka informasi tersebut akan diberi nilai yang rendah. Jadi valence menunjukkan bagaimana suatu informasi akan memepengaruhi sikap, sementara weight menentukan seberapa besar pengaruh tersebut akan timbul. Bila bobot yang diberikan pada informasi tersebut rendah maka derajat pengaruh informasi tersebut akan kecil terlepas dari valensi yang ada.

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa Valensi berkaitan dengan bagaimana informasi dipengaruhi sikap seseorang, sedangkan Bobot Penilaian berkaitan dengan sejauhmana informasi tersebut mempengaruhi sikap seseorang. Dengan demikian, walaupun suatu informasi memiliki tingkat valensi yang tinggi, apabila tidak didukung oleh bobot penilaian yang tinggi pula, akan menghasilkan efek yang kecil pada sikap seseorang (Littlejohn,1996:137-138).

Selanjutnya, pendekatan integrasi informasi memusatkan pada cara-cara orang mengakumulasikan dan mengorganisasikan informasi tentang orang, objek, situasi atau gagasan tertentu untuk membentuk sikap terhadap sebuah konsep. Sikap sudah menjadi sebuah satuan penting dalam penelitian tentang persuasi karena arti pentingnya dalam perubahan sikap. Sebuah sikap adalah sebuah predisposisi untuk bertindak dengan suatu cara yang positif atau negatif terdapat sesuatu.

Sebuah sikap merupakan sebuah akumulasi dari informasi tentang sesuatu, objek, orang, situasi atau pengalaman. Perubhan sikap terjadi karena informasi baru memberikan tambahan pada sikap. Sikap mempunyai korelasi dengan keyakinan dan menyebabkan seseorang memiliki perilaku tertentu terhadap objek sikap.

Menurut teori integrasi informasi ini, adanya akumulasi informasi yang diserap seseorang dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Informasi dapat merubah derajat kepercayaan seseorang terhadap suatu objek
  2. Informasi dapat merubah kredibilitas kepercayaan seseorang yang sudah dimiliki seseorang.
  3. Informasi dapat menambah kepercayaan baru yang telah ada dalam struktur sikap.

Sebuah sikap dipandang sebagai sebuah akumulasi dari informasi tentang suatu objek, orang, situasi, maupun pengalaman. Jadi, perubahan sikap terjadi karena informasi baru memberikan tambahan pada sikap, atau perubahan sikap terjadi karena informasi tersebut telah merubah penilaian seseorang mengenai valensi dan bobot informasi lain. Namun, informasi apapun biasanya tidak akan membawa pengaruh yang terlalu besar terhadap sebuah sikap karena sikap tersebut memuat bebarapa yang bisa menangkal informasi tersebut. Gary L. Kreps dalam bukunya Organizational Communication mengatakan:

Information is construct that is very closely related to meaning whereas meaning is the process of making “sense” of message and information is the “sense” that we make in creating meanings. The meanings that we create have informations value for us, to the extent that they help us understand, interpret, and predict phenomena. ( informasi adalah suatu proses pemaknaan pesan dan informasi adalah makna yang kita gunakan untuk membentuk suatu pengertian. Pengertian mengandung nilai informasi yang memungkinkan kita untuk mengerti, menginterpretasikan dan memprediksi suatu fenomena) (kreps,1990:27)

Makna penting pengorganisasian komunikasi yang menghubungkan kepentingan antara organisasi dengan lingkungan luarnya sebagaimana dikemukakan oleh Kreps yaitu, bahwa “ external communication shannels carry message between the organization and the organization’s relevant environment. Message are both sent to and received from the organization’s relevant environment. External message are set to attemp to influence the way environment representatives behave in regard to the organization.. (Media komunikasi eksternal menjembatani pesan antara organisasi dengan lingkungan sekitar dan pesan tersebut bertujuan untuk mempengaruhi bagaimana lingkungan sekitar bersikap terhadap organisasi) (Kreps, 1990:21).

 

Teori Pertimbangan Sosial (Social Judgment Theory)

Teori ini dikembangkan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog dari Oklahoma University AS (Barker, 1987). Secara ringkas teori ini menyatakan bahwa perubahan sikap seseorang terhadap objek sosial dan isu tertentu merupakan hasil proses pertimbangan (judgement) yang terjadi dalam diri orang tersebut terhadap pokok persoalan yang dihadapi.

Proses ”mempertimbangkan” isu atau objek sosial tersebut menerut Sherif berpatokan pada kerangka rujukan (reference points) yang dimiliki seseorang. Kerangka rujukan inilah yang pada gilirannya menjadi ”jangkar” untuk menentukan bagaimana seseorang memosisikan suatu pesan persuasif yang diterimanya. Lebih jauh Sherif menegaskan bahwa tindakan memosisikan dan menyortir pesan yang dilakukan oleh alam bawah sadar kita terjadi sesaat setelah proses persepsi. Di sini kita menimbang setiap gagasan baru yang menerpa kita dengan cara membandingkannya dengan sudut pandang kita saat itu.

Lalu apa rujukan yang menjadi sudut pandang seseorang dalam menilai suatu pesan?Menurut Sherif ada tiga rujukan yang digunakan seseorang untuk merespons suatu stimulus yang dihadapi. Ketiganya merupakan bagian yang saling terkait. Yang pertama disebut latitude of acceptance (rentang atau wilayah penerimaan) yang terdiri dari pendapat-pendapat yang masih dapat diterima dan ditoleransi. Bagian kedua disebut latitude of rejection (rentang penolakan) yang mencakup pendapat atau gagasan-gagasan yang kita tolak karena bertentangan dengan kerangka rujukan kita (sikap dan keyakinan), dan yang terakhir disebut latitude of noncommitment (rentang ketidakterlibatan) yang terdiri dari pendapat atau pesan-pesan persuasif yang tidak kita tolak dan tidak kita terima. Dalam rentang ketidakterlibatan ini kita tidak memiliki opini apa-apa sehingga bersifat netral terhadap pokok permasalahan yang ada.

Disamping ketiga konsep pokok diatas, masih ada satu konsep penting lainnya dari teori ini yang disebut ego-involevement yakni derajat yang menunjukkan arti penting suatu isu bagi seseorang. Meskipun tiga konsep ‘latitude’ yang dikemukakan teori pertimbangan sosial sudah cukup memadai dalam menjelaskan bagaimana seseorang akan bereaksi terhadap pesan-pesan persuasive, namun derajat penting-tidaknya suatu stimulus (ego-involvement) akan turut menentukan sejauhmana seseorang dapat dipengaruhi. Dengan kata lain makin berarti suatu isu bagi seseorang maka semaki  kecil kemungkinan orang tersebut dapat dipengaruhi.

Dalam teori ini juga dijelaskan adanya dua macam efek yang timbul akibat proses menilai atau mempertimbangkan pesan yakni efek asimilasi (assimilation effect) dan efek kontras (contrast effect). Efek asimilasi terjadi ketika seseorang menempatkan sebuah pesan persuasif dalam rentang penerimaan dan pesan-pesan tersebut mendekati pernyataan patokan (kerangka tujuan) yang ada. Karena pesan tersebut mendekati pernyataan patokan, maka pesan tersebut akan diasimilasi atau dianggap mirip dengan patokan yang ada dan dijadikan satu kelompok. Asimilasi ini merupakan efek gelang karet, dimana setiap pernyataan baru dapat ‘ditarik’ mendekati pernyataan patokan sehingga tampak menjadi lebih dapat diterima daripada keadaan sebenarnya. Orang yang menjadi sasaran persuasi akan menilai pesan atau pernyataan tersebut tampak sejalan dengan patokannya.s

Pernyataan yang berada dalam rentang penolakan akan tampak semakin berbeda (kontras) dan bertentangan dengan pernyataan patokanr perbedaan maka sebuah pesan yang sebenarnya ‘normal’ dan dapat ditoleransi ,enjadi pesan yang seolah-olah bertentangan sepenuhnya dengan patokan yang ada. Akhirnya pesan tersebut kita tolak.

Contoh berikut semakin memperjelas kita tentang efek kontras. Anggaplah disebuah ruang eksperimen terdapat tiga buah ember. Ember pertama berisi air dingin dan ember kedua berisi air hangat, sementara ember ketiga berisi air dalam suhu normal. Seorang sukarelawan memasukan tangan kanan pada ember pertama dan tangan kiri pada ember kedua. Setelah duapuluh detik, kedua tangan tersebut dimasukkan secara bersamaan ke dalam ember ketiga. Maka perbedaan yang kontras. Tangan kanan merasa air itu panas, sementara tangan kiri merasa air itu dingin. Disini Sherif memiliki hipotesis bahwa efek kontras akan terjadi bila kita berada dalam kondisi ”panas” kemudian menerima pesan yang tidak sama dengan patokan kita yang ”panas” tersebut. Seperti pada contoh diats, bahkan pesan yang ”normal” sekalipun akan menjadi lebih ”dingin” bila diukur dengan patokan yang digunakan.

 

Teori Elaboration Likehood Model

Elaboration likelihood model (ELM) atau model kemungkinan elaborasi merupakan salah satu teori persuasi yang paling popular dewasa ini. Berbeda dengan teori pertimbangan sosial yang menyatakan bahwa seseorang membuat keputusan berdasarkan referensi atau patokan, teori elaborasi kemungkinan menjelaskan bahwa keputusan dibuat bergantung pada jalur yang ditempuh dalam memroses sebuah pesan. Jika seseorang secara sungguh-sungguh mengolah pesan-pesan persuasive yang diterimanya dengan semata-mata berfokus pada isi pesan yang diterimanya melainkan lebih memperhatikandaya tarik penyampai pesan, kemasan pruduk atau aspek peripheral lainnya maka ia dipandang menggunakan jalur pinggiran (peripheral route).

Teori ini untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Richard E Petty dan John T. Cacioppo, pakar komunikasi persuasif dari Ohio State University AS, pada tahun 1980. Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa orang dapat memproses pesan persuasive dengan cara yang berbeda. Pada suatu situasi ini kita menilai sebuah pesan secara mendalam, hati-hati dan dengan pemikiran yang kritis, namun pada situasi lain kita menilai pesan sambil lalu saja tanpa mempertimbangkan argument yang mendasari isi oesan tersebut (Griffin, 2003).

Kemungkinan untuk memahami pesan persuasive secara mendalam bergantung pada cara seseorang memroses pesan. Pesan ini diterima dan disalurkan melalui dua jalur yang berbeda yakni central route dan peripheral route. Ketika kita memroses informasi melalui central route, kita secara aktif dan kritis memikirkan dan menimbang-nimbang isi pesan tersebut dengan menganalisis dan membandingkannya dengan pengetahuan atau informasi yang telah kita miliki. Pada umumnya orang berpendidikan tinggi atau berstatus sebagai pemuka pendapat (opinion leader) berkecenderungan menggunaka central route dalam mengolah pesan-pesan persuasif. Sementara orang berpendidikan rendah cenderung menggunakan jalur peripheral dimana faktor-faktor di luar isi pesan atau nonargumentasi lebih berpengaruh bagi yang bersangkutan dalam menentukan tindakan.


by: A.C.S.

 

PENDAHULUAN

Komunikasi Interpersonal (Interpersonal Communication) merujuk pada komunikasi yang terjadi secara langsung antara dua orang. Konteks ini sangat kaya akan hasil penelitian dan teori, dan mungkin merupakan konteks yang paling luas dibandingkan konteks lainnya. Konteks interpersonal banyak membahas tentang bagaimana suatu hubungan dimulai, bagaimana mempertahankan suatu hubungan, dan keretakan suatu hubungan (Berger, 1979; Dainton & Stafford, 2000).

Salah satu alasan mengapa peneliti dan teoritikus mempelajari relasi adalah karena relasi merupakan hal yang sangat kompleks dan beragam. Kita mungkin saat ini sedang berada dalam banyak relasi dengan orang lain, termasuk pasien-dokter, mahasiswa-dosen, orang tua-anak, supervisor-karyawan, dan sebagainya. Beronteraksi dalam tiap hubungan ini memberikan kesempatan kepada kmunikator untuk memaksimalkan fungsi berbagai macam saluran (penglihatan, pendengaran, sentuhan dan penciuman) untuk digunakan dalam sebuah interaksi. Dalam konteks ini, saluran-saluran ini berfungsi secara simultan bagi kedua partisipan interaksi: sebagai contoh, seorang anak mungkin akan menangis sambil berteriak mencari ibunya, dan ibunya akan menenangkan anaknya dengan elusan, memandang mata anaknya dan mendengarkan isakan mereka.

Konteks interpersonal sendiri terdiri atas beberapa subkonteks yang terkait. Peneliti komunikasi interpersonal telah mempelajari mengenai keluarga (Segrin & Flora, 2005), pertemanan (Chen, Dzewiecka, &Sias, 2001), pernikahan berusia panjang (Hughes & Dickson, dalam pers), hubungan dokter-pasien (Richmond, Smith, Heisel, & McCroskey, 2001), dan relasi di lingkungan kerja (Bruning, Castle, & Schrepfer, 2004). Selain itu, para peneliti juga tertarik akan banyak isu dan tema (contohnya, kompetensi, pembukaan diri, kekuasaan, gossip, kesukaan, ketertarikan, emosi dan sebagainya) berkaitan dengan hubungan-hubungan ini. Para peneliti juga mulai menaruh perhatian pada hubungan yang selama ini belum cukup diteliti, seperti hubungan gay dan lesbian, hidup bersama tanpa pernikahan, dan hubungan melalui jaringan computer (Galvin, 2004; Heinz, 2002; Peplau & Beals, 2004). Sebagaimana kita lihat, para peneliti telah menghasilkan banyak penelitian yang beraneka ragam dalam konteks komunikasi interpersonal, dan mempelajari hubungan serta apa yang terjadi di dalamnya memiliki daya tarik yang besar.

 

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Komunikasi antar pribadi mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut.

  • To learn about self, other, and world
  • To relate to others and to form relationship
  • To influence or control the attitudes and behavior of others
  • To play or enjoy one self
  • To help others

 

Salah satu fungsi komunikasi antar pribadi yang telah disebutkan diatas yaitu. To relate to others and to form relationship. Fungsi tersebut perlu didukung oleh teori-teori atau pendapat beserta contoh sehingga pernyataan atau proposisi yang telah disebutkan dapat diyakini secara ilmiah.

 

C. PEMBAHASAN

Setiap saat kita berinteraksi dengan manusia. Sebagian besar kegiatan komunikasi  yang kita lakukan adalah dalam konteks komunikasi interpersonal. Interaksi antarmanusia dilakukan dengan berkomunikasi. Tanpa komunikasi, interaksi antar manusia menjadi sesuatu hal yang muskil. Komunikasi interpersonal adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari. Komunikasi interpersonal tersebut berlangsung baik secara perorangan, kelompok maupun organisasi.

Berbicara dengan teman sekampus, menjawab pertanyaan dosen, mengirim pesan melalui SMS, menjawab e-mail dari seorang teman, memperbaiki hubungan dengan teman, putus hubungan dengan pacar, mengirim surat lamaran pekerjaan, memberikan perinta dan lain sebagainya merupakan komunikasi yang berlangsung dalam situasi komunikasi interpersonal. Memahami interaksi tersebut  merupakan bagian yang esensial dalam pokok bahasan ini.

Keahlian berkomunikasi interpersonal menjadi sesuatu yang mutlak dalam kehidupan manusia. Sebagi contoh, survey terhadap 1000 orang berumur diatas 18 tahun yang dilakukan di Amerika. Dalam survey tersebut 53% responden mengatakan ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif merupakan penyebab utama dari perceraian.

Selain itu, keahlian berkomunikasi interpersonal bagi para pekerja, manager maupun para professional juga memegang peranan penting. Sebuah studi yang dilakukan oleh Collegiate Employment Researches Institute of Michigan State University pada 500 pekerja, menyebutkan bahwa kemampuan berbicara dan menulis dengan baik, kemampuan berkomunikasi interpersonal dengan baik adalah kemampuan yang mutlak dimiliki oleh para lulusan.

 

Pengertian KAP

Dalam buku “The Interpersonal Communication Book” oleh Joseph A. Devito (1989), dijelaskan bahwa:

“Komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. (The process of sending and receiving messages between two persons, or among or small group of persons, with some effect and some immediate feedback)”

KAP mencakup aspek-aspek isi pesan dan relasi antarpribadi. Maksudnya isi pesan dipengaruhi oleh hubungan antara pihak yang berkomunikasi. Relasi antarpribadi adalah implikasi dari komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi mensyaratkan kedekatan fisik antar pihak yang berkomunikasi.

Dalam sudut pandang psikologis, KAP merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih yang memiliki tingkat kesamaan diri, misalnya mereka adalah mahasiswa komunikasi. Mereka secara individual dan serempak memperluas diri pribadi masing-masing dalam tindakan komunikasi melalui pemikiran, perasaan, keyakinan, atau dengan kata lain melalui proses psikologis mereka. Proses ini berlangsung terus menerus selama keduanya masih terlibat dalam komunikasi. Nantinya proses psikologis dari setiap individu pasti mempengaruhi komunikasi antarpribadi yang pada gilirannya juga mempengaruhi relasi antarpribadi.

Memahami komunikasi interpersonal secara mendalam, diperlukan pemahaman tentang karakteristik, bentuk dan fungsinya.

 

  • Karakteristik Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang (dyadic primacy), dua orang dalam suatu kelompok (dyadic coalitions) maupun hubungan antara dua orang dimana anda mempunyai kesadaran sebagai bagian dari sebuah hubungan (dyadic consciousness). Sebagai contoh : hubungan antara ibu dan anak, dua orang sahabat, sepasang kekasih, pegawai dengan atasannya dst. Komunikasi interpersonal juga dapat berlangsung antara orang asing atau orang yang tidak dikenal ketika ingin menanyakan situasi sekitarnya. Jadi tidak selalu terjadi antara dua orang yang kenal akrab.

 

  • Bentuk Komunikasi Interpersonal

Seringkali komunikasi interpersonal dilakukan secara langsung atau tatap muka.Berbicara dengan teman, berbagi rahasia dengan sahabat, bertukar cerita di meja makan adalah salah satu interaksi yang sering kita lakukan secara langsung. Berkat kemajuan teknologi kita dimungkinkan melakukan percakapan secara on-line. Komunikasi on-line yang utama adalah e-mail, kelompok milis dan chat-group.

Dalam e-mail kita biasanya menuliskan pesan pada sebuah program e-mail dan megirimkannya dari komputer kita melalui modem yang menyalurkan pesan melalui serangkaian jaringan komputer menuju alamat orang yang kita tuju.

Kelompok milis terdiri atas sekelompok orang yang tertarik pada topik tertentu dan berkomunikasi melalui e-mail. Secara umum kita mendaftar pada sebuah list dan berkomunikasi dengan semua anggotanya melalui alamat e-mail pada saat yang bersamaan.

Chat group, terutama MIRC, merupakan kelompok dimana anggotanya dapat berkomunikasi secara langsung dalam kelompok. Terdapat ribuan grup yang berbeda, sehingga kita dapat menemukan topic yang kita sukai. Baik chat group maupun milis memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak pernah kita temui sebelumnya. Selain itu kita juga dapat belajar aturan-aturan maupun norma-norma budaya dari grup tersebut.

Fungsi Komunikasi Interpersonal

Fungsi komunikasi interpersonal diantaranya adalah :

  1. Sebagai sarana pembelajaran. Melalui komunikasi interpersonal kita belajar untuk lebih memahami dunia luar atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini. Walaupun sebagian besar informasi tersebut kita dapatkan melalui media massa, informasi tersebut dapat kita bicarakan melalui komunikasi interpersonal.
  2. Mengenal diri sendiri dan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal kita dapat mengenal diri kita sendiri. Dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada orang lain, kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Persepsi diri kita sebagian besar merupakan hasil interkasi kita dengan orang lain.
  3. Komunikasi interpersonal membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk sosial, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.
  4. Melalui komunikasi interpersonal kita dapat mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan.
  5. Melalui komunikasi interpersonal kita dapat mengakrabkan diri kita dengan orang lain.
  6. Bermain dan mencari hiburan. Dalam berkomunikasi tidak selamanya kita selalu berusaha mempengaruhi orang lain. Kita berkomunikasi juga untuk memperoleh kesenangan. Bercerita tentang film yang kita tonton, melontarkan lelucon, membicarakan hobi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperolah hiburan.

Fungsi KAP yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah point ke-3 fungsi komunikasi interpersonal tersebut diatas. To relate to others and to form relationships. Saya ulangi, komunikasi interpersonal membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk sosial, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.

Fungsi komunikasi interpersonal tersebut dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu :

  1. Fungsi tersebut dapat dilihat sebagai motivasi untuk melakukan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, kita melakukan komunikasi interpersonal untuk memenuhi kebutuhan dalam membentuk suatu hubungan.
  2. Fungsi tersebut dapat dilihat sebagai hasil yang ingin dicapai dari komunikasi interpersonal. Dengan demikian, kita melakukan komunikasi interpersonal untuk mengenal diri kita sendiri lebih baik, mengenal orang lain secara lebih baik pula, maupun untuk membuat hubungan yang lebih bermakna dan memperolah pengetahuan tentang dunia luar.

 

Hubungan Interpersonal

Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. “Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting,” tulis Anita Taylor et al. (1977:187). “Banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik di antara partisipan komunikasi. Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan yang jelek.”

Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan; kita juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Bukna hanya menentukan “content” tetapi juga “relationship”.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini. isinya sama: menanyakan nama, tetapi kadar hubungan interpersonal di dalamnya berbeda.

Sebutkan nama kamu !

Siapa nama Anda?

Bolehkah saya tahu siapa nama Bapak?

Sudi kiranya Bapak berkenan menyebutkan nama Bapak!

Kalimat-kalimat yang kita gunakan, sekali lagi, bukan hanya menyampaikan isi, tetapi juga mendefnisikan hubungan interpersonal.

Pandangan bahwa komunikasi mendefinisikan hubungan interpersonal telah dikemukakan Ruesch dan Bateson (1951) pada tahun 1950-an. Gagasan ini dipopulerkan di kalangan komunikasi oleh Watzlawick, Beavin dan Jackson (1976) dengan buku mereka Pragmatics of Human Communivation. Mereka melahirkan istilah baru untuk menunjukkan aspek hubungan dari pesan komunikasi ini – metakomunikasi. Mereka  menulis, “Every communication has content and a relationship aspect such that the latter classifies the former and is therefore metacommunications” (1976:154). Perlahan-lahan studi komunikasi interpersonal bergeser dari isi pesan pada aspek relational. Ada yang menyebutkan focus ini sebagai paradigm baru dalam penelitian komunikasi. Kini, kaum komunikolog menggeserkan perhatian “from the individual as the unit of analysis to the relationship as the unit of analysis (Parks and Wilmot, 1975:9). Gerarld R. Miller dalam kata pengantar yang dituliskan untuk buku Explorations in interpersonal Communication menyatakan:

Understanding the interpersonal communication process demands an understanding of the symbiotic relationship between communication and relational development: communication influences relational development, and in turn (simultaneously), relational development influences the nature of communication between parties to the relationship (Miller, 1976:15).

(Memahami proses komunikasi interpersonal menuntut pemahaman hubungan simbiotis antara komunikasi dengan perkembagan relasional: Komunikasi mempengaruhi perkembagan relasional, dan pada gilirannya (secara serentak), perkembangan relational mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut).

Para psikolog pun mulai menaruh minat yang besar pada hubungan interpersonal seperti tampak pada tulisan Fordon W. Allport (1960), Erich Fromm (1962), Martin Buber (1975) mengembangkan apa yang disebut sebagai ”relationship-enchancement methods” (metode peningkatan hubungan) dalam psikoterapi. Ia merumuskan metode ini dengan tiga prinsip: Makin baik hubungan interpersonal,

  1. Makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya.
  2. Makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog), dan
  3. Makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya.

Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara komunikan.

 

PENGEMBANGAN HUBUNGAN

Barangkali tidak ada yang lebih penting bagi kita selain kontak atau hubungan dengan sesama manusia. Begitu pentingnya kontaj ini sehingga bila kita tidak berhubungan dengan orang lain dalam waktu yang lama, rasa tertekan akan timbul, rasa ragu terhadap diri sendiri muncul, dan orang merasa sulit untuk menjalani kehidupan sehari-harinya. Desmond Morris, dalam Intimete behavior (1972), mencatat bahwa kontak dengan orang lain begitu pentingnya sehingga kultur kita telah membentuk segala macam subtitusi untuk menggantikan ketiadaan hubungan ini. Orang seringkali mengunjungi profesional seperti dokter, perawat, dan pemijat bukan karena sakit fisik, melainkan karena kebutuhan untuk kontak.

Setiap hubungan bersifat unik. Begitu juga, masing-masing dari kita membina hubungan karena alasan-alasan yang unik. Berikut beberapa alasan umum untuk mengembangkan sebagian besar hubungan: Mengurangi kesepian, mendapatkan rangsangan, mendapatkan pengetahuan-diri, dan memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan.

 

Mengurangi Kesepian

Kontak dengan sesama manusia mengurangi kesepian. Adakalanya kita mengalami kesepian karena secara fisik kita sendirian, walaupun kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Kali lain kita kesepian karena, meskipun mungkin kita bersama orang lain, kita mempunyai kebutuhan yang terpenuhi akan kontak yang dekat-kadang-kadang secara fisik, adakalanya secara emosional, dan lebih sering lagi kedua-duanya (Peplau & Periman, 1982; Rubenstein & Shaver, 1982).

Sementara orang, dalam upaya mengurangi kesepian, berusaha melingkungi dirinya dengan banyak kenalan. Kadang-kadang ini membantu, tetapi seringkali malah membuat rasa sepi makin parah. Satu hubungan yang dekat biasanya malah lebih baik. Kebanyakan diri kita mengetahui hal ini, dan itulah sebabnya kita berusaha membina hubungan antarpribadi (Perlman & Peplau, 1981).

 

Mendapatkan Rasangan

Manusia membutuhkan stimulasi. Jika kita tidak menerima stimulasi, kita mengalami kemunduran dan bisa mati. Kontak antarmanusia merupakan salah satu cara terbaik untuk mendapatkan stimulasi ini. Kita merupakan gabungan dari banyak dimensi yang berbeda-beda, dan semua dimensi kita embutuhkan atimulasi. Kita adalah makhluk intelektual, dan karenanya kita membutuhkan stimulasi intelektual. Kita membicarakan gagasan, mengikuti kegiatan kelas, dan berdebat tentang interpretasi yang berbeda mengenai film atau novel. Dengan cara itu kita mengasah kemampuan penalaran, analitik,dan interpretasi kita. Dengan melakukannya, kita meningkatkan, mempertajam, dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ini.

Kita juga makhluk fisik yang membutuhkan stimulasi fisik. Kita butuh membelai dan dibelai,memeluk dan juga dipeluk. Selanjutnya, kita adalah makhluk emosional yang membutuhkan stimulasi emosional. Kita perlu tertawa dan menangis, dan membutuhkan harapan dan kejutan, dan mengalami kehangatan dan afeksi. Kita membutuhkan latihan untuk emosi kita selain juga untuk kemampuan intelektual kita.

 

Mendapatkan Pengetahuan-Diri

Sebagian besar melalui kontak dengan sesama manusialah kita belajar mengeni diri kita sendiri. Dalam diskusi tentang kesadaran-diri telah dijelaskan bahwa kita melihat diri sendiri sebagian melalui mata orang lain. Jika kawan-kawan kita melihat kita sebagai orang yang hangat dan pemurah, misalnya, barangkali kita juga akan memandang diri sendiri sebagai hangat dan pemurah. Persepsi-diri kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini dipikirkan orang tentang diri kita.

 

Memaksimalkan Kesenagan, Meminimalkan Penderitaan

Alasan paling umum untuk membina hubungan, dan alasan yang dapat mencakup semua alasan yang lainnya, adalah bahwa kita berusaha berhubungan dengan manusia lain untuk memaksimalkan kesenangan kita dan meminimalkan penderitaan kita. Kita perlu berbagi rasa dengan orang lain mengenai nasib baik kita serta mengenai penderitaan emosi atau fisik kita. Barangkali kebutuhan yang terakhir ini bermula di masa kanak-kanak, ketika anda berlari mendekati ibu sehingga beliau dapat mengecup luka anda atau ikut menikmati kegembiraan anda. Sekarang anda sulit untuk berlari mendekati ibu, karenannya anda mencari orana lain, umumnya kawan-kawan yang akan memberikan dukungan yang sama seperti yang pernah dilakukan ibu di waktu yang lalu.

 

TEORI-TEORI HUBUNGAN INTERPERSONAL

Berjuta-juta dolar telah dihasilkan oleh para penulis buku mengenai bagaimana untuk memulai, mengembangkan, dan mempertahankan hubungan interpersonal. Sebagaimana dapat kita lihat, berbagai hubungan kita dengan teman, keluarga, mitra/pasangan, rekan kerja, pemuka agama, dan yang lainnya dipenuhi dengan dinamika. Karena pentingnya hubungan interpersonal ini, kita akan membicarakan beberapa teori tentang hubungan interpersonal. Teori-teori ini memberikan perspektif untuk memandang proses hubungan interpersonal dan memberikan penjelasan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan interpersonal. Selanjutnya kita akan membicarakan tahap-tahap hubungan interpersonal dan tiga faktor dalam komunikasi interpersonal yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik: Percaya (trust), sikap suportif (supportiveness), dan sikap terbuka (open-mindedness).

 

TEORI KEBUTUHAN HUBUNGAN INTERPERSONAL

Teori sistem dan komunikasi dalam hubungan Salah sastu bagian dalam lapangan komunikasi yang dikenal sebagai relational communication sangat dipengaruhi oleh teori sistem. Inti dari kerja ini adalah asumsi bahwa fungsi komunikasi interpersonal untuk membuat, membina, dan mengubah hubungan dan bahwa hubungan pada gilirannya akan mempengaruhi sifat komunikasi interpersonal.
Point ini berdasar pada gagasan bahwa komunikasi sebagai interaksi yang menciptakan struktur hubungan. Dalam keluarga misalnya, anggota individu secara sendirian tidak membentuk sebuah sistem, tetapi ketika berinteraksi antara satu dengan anggota lainnya, pola yang dihasilkan memberi bentuk pada keluarga. Gagasan sistem yang penting ini secara luas diadopsi dalam lapangan komunikasi.

Proses dan bentuk merupakan dua sisi mata uang; saling menentukan satu sama lain. Seorang Antropolog Gregory Bateson adalah pendiri garis teori ini yang selanjutnya dikenal dengan komunikasi relasional. Kerjanya mengarah pada pengembangan dua proposisi mendasar pada mana kebanyakan teori relasional masih bersandar. Pertama yaitu sifat mendua dari pesan: setiap pertukaran interpersonal membawa dua pesan, pesan “report” dan pesan “command”. Report message mengandung substansi atau isi komunikasi, sedangkan command message membuat pernyataan mengenai hubungan. Dua elemen ini selanjutnya dikenal sebagai “isi pesan” dan “pesan hubungan”, atau “komunikasi” dan “metakomunikasi”.

Pesan report menetapkan mengenai apa yang dikatakan, dan pesan command menunjukkan hubungan diantara komunikator. Isi pesan sederhana seperti “I love you” dapat dibawakan dalam berbagai cara, dimana masing-masing mengatakan sesuatu secara berbeda mengenai hubungan. Frasa ini dapat dikatakan dalam cara yang bersifat dominasi, submissive, pleading (memohon), meragukan, atau mempercayakan. Isi pesannya sama, tetapi pesan hubungan dapat berbeda pada tiap kasus.

Proposisi kedua Bateson yaitu bahwa hubungan dapat dikarakterisasi dengan komplementer atau simetris. Dalam hubungan yang komplementer, sebuah bentuk perilaku diikuti oleh lawannya. Contoh, perilaku dominan seorang partisipan memperoleh perilaku submissive dari partisipan lain. Dalam symmetry, tindakan seseorang diikuti oleh jenis yang sama. Dominasi ketemu dengan sifat dominan, atau submissif ketemu dengan submissif.

Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur dalam sistem. Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki. Sistem yang mengandung serangkaian pesan submissif akan sangat berbeda dengan yang mengandung rangkaian pesan yang besifat dominasi. Dan struktur pesan yang mencampur keduanya adalah berbeda pula. Meski Bateson seorang pakar antropologi, gagasannya dengan cepat dibawa kedalam psikiatri dan diterapkan pada hubungan patologis. Beberapa peneliti komunikasi memanfaatkan kerja Bateson dan kelompoknya. Aubrey Fisher, salah satu yang dikenal baik dari kelompok ini, sebagai pemimpin teoritisi sistem.

Dalam buku Perspectives on Human Communication dia menerapkan konsep sistem kedalam komunikasi. Analisa Fisher dimulai dengan perilaku seperti komentar verbal dan tindakan nonverbal sebagai unit terkecil analisa dalam sistem komunikasi. Perilaku yang dapat diamati ini dapat dilihat atau didengar dan merupakan satu-satunya ekspresi pemikiran bagi keterhubungan individu dalam sistem komunikasi. Dari sudut pandang sistem, perilaku itu sendiri adalah apa yang dihitung, dan struktur hubungan terdiri atas pola perilaku yang tersusun ini. Dengan kata lain, hubungan kita dengan orang lain ditentukan oleh bagaimana kedua kita bertindak dan apa yang kita katakan.

Pola komunikasi dibentuk oleh sekuen tindakan. Ketika kita berkomunikasi kita bertindak dan bereaksi dalam sekuen, jadi interaksi adalah arus pesan. Fisher percaya bahwa arus bicara dengan dirinya sendiri mengatakan sedikit mengenai komunikasi, sehingga harus dipecah kedalam unit-unit yang mengandung tindakan dan respon. Fisher mengembangkan metode untuk mengetahui semua pola percakapan, yang terdiri atas pesan-pesan penyandian, sehingga pola respon dapat ditetapkan.
Unit yang paling dasar dari komunikasi dipakai Fisher adalah interact, atau rangkaian dua pesan yang bersambungan diantara dua orang. Contohnya yaitu pertanyaan dari orang pertama diikuti oleh jawaban dari orang kedua. Pertanyaan yang diikuti oleh jawaban akan berbeda dari permintaan yang diikuti persetujuan.

Permintan yang diikuti oleh penawaran adalah berbeda dari suggestion atau saran yang diikuti oleh keberatan. Interaksi dikombinasikan kedalam unit yan glebih besar disebut double interact (tiga tindakan), dan selanjutnya dikombinasi lagi kedalam triple interact (empat tindakan). Struktur dari keseluruhan interaksi merupakan rangkaian interaksi yang makin lama makin membesar. Kebanyakan kerja Fisher melibatkan pembuatan keputusan dalam kelompok kecil. Dalam risetnya dia menyandi apa yang orang katakan dalam diskusi kelompok dan menganalisa interaksi ini dalam cara yang seluruh pola, atau struktur dari diskusi dapat digambarkan. Fisher menunjukkan bagaimana interaksi berkombinasi dengan bentuk fase pemuatan keputusan kelompok.

Diantara periset yang terkenal dalam komunikasi relasional adalah Edna Rogers dan Frank Millar. Kerja Millar dan Rogers merupakan aplikasi langsung dari gagasa Bateson dan konsisten dengan teori Fisher. Secara khusus, mereka bertanggung jawab bagi pengembangan metode riset mengenai pengkode-an dan pengelompokan pola relasional. Seperti Fishe, Millar dan Rogers mengamati percakapan dan kode tindakan komunikasi dalam suatu cara yang membiarkan mereka menemukan pola yang diciptakan melalui interaksi. Dari risetnya mereka mengembangkan teori yang menunjukkan bagaimana hubungan mengandung struktur kontrol, kepercayaan, dan keakraban.

 

SELF DISCLOSURE

Self disclosure atau proses pengungkapan diri yang telah lama menjadi focus penelitian dan teori komunikasi mengenai hubungan, merupakan proses mengungkapkan informasi pribadi kita kepada orang lain dan sebaliknya. Sidney Jourard (1971) menandai sehat atau tidaknya komunikasi antar pribadi dengan melihat keterbukaan yang terjadi dalam komunikasi. Mengungkapkan yang sebenarnya mengenai diri kita kepada orang lain yang juga bersedia mengungkapkan yang sebenarnya tentang dirinya, dipandang sebagai ukuran dari hubungan yang ideal.

Ahli lain Joseph Luft (Reardon; 1987;163) mengemukakan teori self disclosure yang didasarkan pada model interaksi manusia, yang disebut Johari Window. Menurut Luft, orang memiliki atribut yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, hanya diketahui oleh orang lain, diketahui oleh dirinya sendiri dan orang lain dan tidak diketahu oleh siapapun. Jenis-jenis pengetahuan ini menunjuk pada keempat kuadran dari Johari Window. Idealnya, kuadran satu yang mencerminkan keterbukaan akan semakin membesar/meningkat.

Jika komunikasi antara dua orang berlangsung dengan baik, maka akan terjadi disclosure yang mendorong informasi mengenai diri masing-masing kedalam kuadran “terbuka”. Kuadaran 4 sulit untuk diketahui, tetapi mungkin dapat dicapai melalui kegiatan seperti refleksi diri dan mimpi.

Meskipun self-disclosure mendorong adanya keterbukaan, namun keterbukaan sendiri ada batasnya. Artinya perlu kita pertimbangkan kembali apakah menceritakan segala sesuatu tentang diri kita kepada orang lain akan menghasilkan efek positif bagi diri kita dengan orang tersebut. Bebrapa penelitian menunjukan bahwa keterbukaan yang ekstrim akan memberikan efek negative bagi hubungan.

Seperti dikemukakan oleh Shirley Gilbert (Littlejohn;1989; 161) bahwa kepuasan dalam hubungan dan disclosure memiliki hubungan kurvalinear, yaitu tingkat kepuasanmencapai titik tertinggi pada tingkat disclosure yang sedang (moderate).

 

TEORI PERTUKARAN SOSIAL

Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan mempengaruhi kontribusi orang lainnya. Thibaut dan Kelley, pencetus teori ini, mengemukakan bahwa yang mengevaluasi hubungannya dengan orang lain. Dengan mempertimbangkan konsekuensinya, khususnya terhadap ganjaran yang diperoleh dan upaya yang telah dilakukan, orang akan tetap memutuskan untuk tetap tingal dalam hubungan tersebut atau meninggalkannya (mempertahankan hubungan datau mengakhirinya). Ukuran bagi keseimbangan antara ganjaran dan upaya ini disebut comparisons level, dimana di atas ambang ukuran tersebut orang akan merasa puas dengan hubungannya. Misalnya kita beranggapan bahwa dasar dari persahabatan adalah kejujuran. Kita mengetahui bahwa sahabat kita berusaha untuk menipu, maka kita akan mempertimbangkan kembali hubungan persahabayan dengannya. Mungkin kita akan memutuskan untuk mengakhiri hubungan demi kebaikan, dengan kejujuran sebagai ambang ukuran, kita merasa bahwa ganjaran yang kita peroleh tidak sesuai dengan upaya kita untuk mempertahankan kejujuran dalam hubungan.

Sementara itu comparison level of alternatives merupakan hasil terendah/terburuk dalam konteks ganjaran dan upaya yang dapat ditolerir seseorang dengan mempertimbangkan alternative-alternatif yang dia miliki. Jika seseorang tidak banyak memiliki alternative hubungan maka dia akan memberikan standar yang cukup itu seringkali dirasakan merugikan bagi dirinya, namun karena tidak banyak memiliki alternative hubungan, dia akan berusaha mempertimbangkan hubungan tersebut. Sedangkan orang yang banyak memiliki alternative akan lebih mudah meninggalkan suatu hubungan bila dirasakan bahwa hubungan tersebut sudah tidak memuaskan lagi. Konsekuansi suatu hubungan dan konsekuaensi yang digunakan akan berubah seiring dengan perjalanan hubungan tersebut.

Roloff (1981) mengemukakan bahwa asumsi tentang perhitungan antara ganjaran dan upaya (untung-rugi) tidak berarti bahwa orang selalu berusaha untuk saling mengeksploitasi, tetapi bahwa orang lebih memilih lingkungan dan hubungan yang dapat memberikan hasil yang diinginkannya. Tentunya kepentingan masing-masing orang akan dapat dipertemukan untuk dapat saling memuaskan daripada hubungan yang eksploitatif. Hubungan yang ideal akan terjadi bilamana kedua belah pihak dapat saling memberikan cukup keuntungan sehingga hubungan menjadi sumber yang dapat diandalkan bagi kepuasan kedua belah pihak.

 

TEORI PENETRASI SOSIAL

Salah satu proses yang paling luas dikaji atas perkembangan hubungan adalah penetrasi sosial. Secara garis besar, ini merupakan ide bahwa hubungan menjadi labih akrab seiring waktu ketika patner memberitahukan semakin banyak informasi mengenai mereka sendiri. Selanjutnya, social penetration merupakan proses peningkatan disclosure dan keakraban dalam hubungan.

Gerald Miller dan rekannya secara literal mengartikan komunikasi interpersonal dalam term penetrasi. Semakin bertambah yang saling diketahui oleh masing-masing komunikator, semakin bertambah karakter interpersonal yang berperan dalam komunikasi mereka. Semakin sedikit yang mereka ketahui tiap personnya, semakin impersonal komunikasi itu. Komunikasi interpersonal karenanya merupakan beragam proses penetrasi sosial. Teori penetrasi sosial yang paling terkenal yaitu milik Altman dan Taylor.

Original Social Penetration Theory. Irwin Altman dan Dalmas Taylor mengenalkan istilah penetrasi sosial. Manurut teori mereka, karena hubungan itu berkembang, komunikasi bergerak dari level yang relatif sedikit dalam, tidak akrab, menuju level yang lebih dalam, lebih personal. Personalitas komunikator dapat diperlihatkan melalui lingkungan dengan lapisan tiga dimensi; memiliki jarak (breadth) dan kedalaman (depth). Breadth merupakan susunan yang berurutan atau keragaman topik yang merasuk kedalam kehidupan individu. Depth adalah jumlah informasi yang tersedia pada tiap topik. Pada jarak terjauh akan merupakan level komunikasi yang dapat dilihat, seperti berpakaian dan bicara. Didalamnya merupakan detil privat yang meningkat mengenai kehidupan, perasaan, serta pikiran partisipan. Karena hubungan itu berkembang, patner berbagi lebih banyak atas diri, menyediakan breadth sebaik depth, melalui pertukaran informasi, perasaan dan aktivitas.

Komunikasi kemudian dibantu oleh pemakaian level-level. Pada saat level tertentu tercapai, dibawah kondisi yang memungkinkan sepasang patner berbagi dalam meningkatkan breadth pada level tersebut. Contohnya, setelah kencan beberapa saat pasangan yang menikah bisa mulai mendiskusikan tindakan berpasangan selanjutnya, dan makin bertambah informasi mengenai langkah berpasangan selanjutnya akan diperlihatkan / diberitahu sebelum bergerak bahkan menuju level disclosure yang lebih dalam semisal sejarah seksual.

Teori Altman dan Taylor didasarkan dalam sebagian besar dari satu ide yang paling populer dalam ilmu sosial –bahwa hubungan akan berhasil ketika secara relatif memperoleh ganjaran (rewarding) dan akan berhenti ketika secara relatif mengeluarkan biaya (cost). Proses ini dikenal sebagai pertukaran sosial. Menurut Altman dan Taylor, pasangan relasional bukan hanya mengandung reward dan cost atas hubungan pada saat tertentu, tetapi juga menggunakan informasi yang mereka cari untuk meramalkan reward dan cost di waktu mendatang.

Jika patner menilai bahwa reward secara relatif lebih besar dari cost, mereka akan beresiko lebih banyak disclosure yang mempunyai potensi gerakan partisipan menuju level keakraban yang lebih dalam. Semakin besar reward yang diketahui relatif terhadap cost, semakin cepat penetrasi. Altman dan Taylor menemukan bahwa penetrasi tercepat cenderung terjadi dalam langkah awal perkembangan ketika reward cenderung malampaui cost.

Terdapat empat langkah perkembangan hubungan. Orientation mengandung komunikasi impersonal, dimana seseorang memberitahu hanya informasi yang sangat umum mengenai dirinya sendiri. Jika tahap ini menghasilkan reward pada partisipan, mereka akan bergerak menuju tahap berikutnya, the exploratory affective exchange , dimana perluasaan / ekspansi awal informasi dan gerakan menuju level lebih dalam dari disclosure itu terjadi. Tahap ketiga, affective exchange memusatkan pada perasaan evaluatif dan kritis pada level yang lebih dalam. Tahap ini tidak akan dimasuki kecuali jika patner menyadari reward substansial yang relatif terhadap cost dalam tahap lebih awal. Akhirnya, stable exchange adalah keakraban yang sangat tinggi dan mengijinkan patner untuk meramalkan setiap tindakan pihak lain dan menanggapinya dengan sangat baik.

Altman dan Taylor menunjukkan bahwa perkembangan hubungan bukan hanya melibatkan peningkatan penetrasi sosial. Juga terlalu sering melibatkan keakraban yang menurun, ketidakteraturan, dan tanpa solusi. Altman dan Taylor menyarankan bahwa reward terkurangi dan cost meningkat pada level komunikasi yang lebih akrab, proses penetrasi sosial akan terbentuk dan hubungan akan mulai mengambil bagian.

Modifikasi terhadap penetrasi sosial. Teori penetrasi sosial orisinal penting dalam memusatkan perhatian kita pada pengembangan hubungan sebagai proses komunikasi. Terdapat banyak kebenaran terhadap ide bahwa hubungan menjadi lebih dekat jika informasi dibagi, dan bahwa perkembangan secara parsial merupakan proses peningkatan keakraban. Pada saat yang sama, teori original tersebut dianggap terlalu sederhana. Kebanyakan siswa perkembangan hubungan sekarang ini percaya bahwa penetrasi sosial sifatnya berputar, sebagai proses dialektis. Disebut berputar ( cyclical ) sebab berlangsung dalam bentuk siklus timbal-balik, serta disebut bersifat dialektis karena melibatkan pengaturan pertentangan / ketegangan antara lawan-lawannya.

Sebuah dialectic adalah ketegangan antara dua atau lebih elemen yang berlawanan dalam sistem yang pada akhirnya kadang-kadang meminta resolusi. Analisa dialektis melihat cara sistem berkembang atau berubah, bagaimana ia bergerak, dalam merespon ketegangan. Dan ia melihat strategi tindakan yang dipakai sistem untuk menyelesaikan kontradiksi.

Altman dan rekannya sekarang menyatakan bahwa dialektik ini biasanya diatur dalam sebuah istilah panjang hubungan oleh semacam siklus yang dapat diramalkan. Dengan kata lain, karena hubungan itu berkembang, keterbukaan dan ketertutupan yang berputar pada pasangan nikah mempunyai pengaturan tertentu atau ritme yang dapat diramalkan. Pada saat yang sama, dalam beberapa hubungan yang dikembangkan, perputaran yang terjadi lebih besar dibadingkan hubungan yang kurang dikembangkan. Hal ini sebab, konsisten dengan perkiraan dasar teori penetrasi sosial, hubungan yang dikembangkan rata-rata lebih diterima.

Untuk mengetes ide ini, analisa Arthur VanLear menunjukkan bahwa dalam percakapan pasangan nikah siklus keterbukaan terjadi dan beberapa sinkronisasi juga terjadi. Sebagai perbandingan, juga diamati kelompok pelajar yang ternyata juga mencerminkan hal yang sama. Kedua kajian tersebut menunjukkan bahwa siklus tersebut terjadi, bahwa sifatnya kompleks, bahwa patner mengenal siklus mereka, dan bahwa penggabungan dan sinkronisasi seringkali terjadi. Penting untuk dicatat, ternyata bahwa jumlah sinkroni tidak sama pada tiap pasangan, yang berarti bahwa terdapat perbedaan antar pasangan dalam kemampuan mereka untuk mengkoordinasi siklus self-disclosure.

 

TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN

Edie Banks dan Malcolm Rogers mengambil kelas filsafat yang sama di Universitas Urban dan terdaftar di bagian yang sama. Hingga hari ini, mereka belum berbicara satu sama lain, meskipoun mereka selalu bertemu di kelas setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat selama tiga bulan terakhir.malcolm telah mengamati Edie dan berpikir bahwa Edie adalah gadis yang menarik. Hari ini, ketika Edie meninggalkan kelas, ia melihat Malcolm memandangnya dari sudut ruangan di mana ia duduk dengan teman-temannya. Edie merasa sedikit tidak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh Malcolm, dan ia bergegas keluar dari ruangan kelas.

Sayangnya, teman Edie, Maggie, menghentikannya di depan pintu dengan sebuah pertanyaan mengenai tugas untuk minggu depan, sehingga Edie dam Malcolm mencapai lorong pada waktu bersamaan. Terdapat keheningan sesaat yang membuat rikuh ketika mereka tersenyum dengan ragu terhadap satu sama lain. Malcolm mendehem dan berkata, ”Hai. Hari ini pelajarannya cukup menarik, bukan?” Edie mengangkat bahunya, tersenyum kembali, dan menjawab, ”Saya tidak yakin mengerti apa yang diajarkan dalam kelas itu. Saya mengambil jurusan teknik, dan kelas ini hanyalah kelas pilihan untuk saya. Kadang saya berpikir mungkin sebaiknya saya mengambil kelas boling saja.: Malcolm tersenyum dan berkata, ”Saya cukup gembira semenjak memutuskan untuk mengambil filsafat. Tetapi mungkin saya akan memiliki reaksi yang sama denganmu jika saya berada di kelas teknik! Saya bahkan mungkin tidak dapat memahami hal yang sangat sederhana di sana.” Keduanya tertawa untuk beberapa saat. Kemudian Edie berkata, ”Saya harus pergi. Sampai ketemu lagi,” dan ia buru-buru melintasi lorong.

Malcolm berjalan ke kelas berikutnya dengan bertanya-tanya apakah mereka akan berbicara lagi, apakah Edie sedang merendahkan pilihan jurusannya, apakah Edie berpikir ia telah berkata tidak sopan mengenai jurusan pilihan Edie, apakah Edia menyukainya, apakah ia menyukai Edie, atau apakah Melcolm peduli dengan semua itu.

Kadang kala disebut teori Interasksi Awal (Initial Interaction Theory), Teori Pengurangan Ketidak Pastian (Uncertainty Reduction Theory-URT) dipelopori oleh Charles Berger dan  Richard Calabrese pada tahun 1975. Tujuan mereka dalammenyusun teori ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian di antara orang asing yang terlibat dalam pembicaraan satu sama lain untuk pertama kali. Berger dan Calabrese yakin bahwa ketika orang asing pertama kali bertemu, utamanya mereka tertarik untuk meningkatkan prediktibilitas dalam usaha untuk memahami pengalaman komunikasi mereka.

Ketika orang asing bertemu, fokus utama mereka adalah mengurangi tingkat ketidakpastian mereka dalam situasi tersebut karena ketidakpastian menyebabkan ketidaknyamanan. Orang dapat mengalami ketidakpastian pada dua level yang berbeda: perilaku dan kognitif. Mereka mungkin tidak yakin akan bagaimana harus berperilaku (atau bagaimana orang lain akan berperilaku), dan mereka mungkin juga tidak yakin apa yuang mereka pikirkan mengenai orang lain dan apa yang orang lain pikirkan mengenai mereka. Tingkat ketidakpastian yang tinggi dihubungkan dengan beragam perilaku verbal dan nonverbal.

AsumsinTeori Pengurangan Ketidakpastian

Asumsi-asumsi berikut ini membingkai teori ini:

  • Orang mengalami ketidakpastian dalam latar interpersonal.
  • Ketidakpastian adalah keadaan yang tidak mengenakkan, menimbulkan stres secara kognitif.
  • Ketika orang asing bertemu, perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka atau meningkatkan prediktibilitas.
  • Komunikasi Interpersonal adalah sebuah proses perkembangan yang terjaddi melalui tahapan-tahapan.
  • Komunikasi Interpersonal adalah alat yang utama untuk mengurangi ketidakpastian
  • Kuantitas dan sifat informasi yang dibagi oleh orang akan berubah seiring berjalannya waktu.
  • Sangat mungkin untuk menduga perilaku orang dengan menggunakan cara seperti hukum.

Tiap asumsi akan dibahas secara singkat. Pertama, di dalam sejumlah latar interpersonal, orang merasakan ketidakpastian. Karena terdapat harapan berbeda-beda mengenai kejadian interpersonal, maka masuk akal untuk menyimpulkan bahwa orang merasakan ketidakpastian atau bahkan cemas untuk bertemu orang lain. Sebagaimana dikatakan Berger dan Calabrese (1975), ”Ketika orang tidak mampu untuk memahami lingkunagan, mereka biasanya menjadi cemas”. Pertimbangkan kecemasan Malcolm ketika dia bertemu Edie setelah kelas berakhir sebagai contoh. Berger dan Calabrase menyatakan bahwa ia mengalami ketidakpastian ketika bertemu Edie, seorang teman sekelas yang membuatnya tertarik. Meskipun banyak tanda-tanda di sekitar yang membantu Malcolm untuk memahami interaksinya dengan Edie, terdapat juga banyak faktor yang menyulitkan. Contohnya, Malcolm mungkin melihat ketergesaan Edie untuk meninggalkan kelas. Terdapat beberapa alternatif penjelasa untuk perilaku ini, misalnya Edia masih menghadapi kelas lain yang jaraknya cukup jauh, suatu dugaan yang cukup umum mengenai ketergesaan seseorang seseorang, atau ia harus pergi ke kamar kecil, merasa lemas dan membutuhkan udara segar, ingin menghindari bertemu Malcolm di pintu, dan sebagainya. Dengan adanya semua alternatif ini, sangat mungkin bahwa Malcolm (atau orang lain dalam situasinya) merasa tidak pasti bagaimana menginterpretasikan perilaku Edie.

Asumsi kedua menyarankan bahwa ketidakpastian merupakan keadaan yang tidak engenakkan. Denan kata lain, berada d\i dalam ketidak pastian membutuhkan energi emosional dan psikologis yang tidak sedikit.

Asumsi berikutnya mengenai URT mengusung pertanyaan bahwa ketika orang asing bertemu, terdapat dua hal yang penting: mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan prediktibilitas. Sekilas, pernyataan ini terdengar wajar, tapi, sebagaimana disimpulkan oleh Berger (1995), ”Selalu terdapat kemungkinan bawa mitra berbicara seseorang akan memberikan respons secara tidak biasa pada pesan yang paling rutin sekalipun”.

Asumsi keempat URT menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses yang melibatkan tahapan-tahapaan perkembangan. Menurut Berger dan Calabrase, biasanya kebanyakan orang memulai interaksi dalam sebuah fase awal (entry phase), yang dapat didefinisikan sebagai tahapn awal interaksi antara orang asing. Fase awal dituntun oleh aturan dan norma implisit dan eksplisit, seperti membalas ketika orang mengatakan, ”Hai! Apa kabar?”. setelah itu, orang memasuki tahapan kedua, yang disebut sebagai fase personal (personal phase), atau tahap dimana partisipan mulai berkomunikasi dengan lebih spontan dan membuka lebih banyak informasi pribadinya. Fase personal dapat terjadi dalam perjumpaan awal, tetapi lebih banyak terjadi setelah dilakukan beberapa interaksi. Tahap ketiga, fase akhir (exit phase), merujuk pada tahapan selama di mana individu membuat keputusan mengenai apakah mereka ingiin untuk melanjutkan interaksi dengan pasangannya di masa yang akan datang. Meskipun senua orang tidak memasuki sebuah tahapan dengan cara yang sama satau tetap pada sebuah tahapan selama beberapa waktu, Berger dan Calabrase yakin bahwa sebuah kerangka universal terbentuk untuk menjelaskan bagaimana komunikasi interpersonal membentuk dan merefleksikan perkembangan hubungan interpersonal.

Asumsi kelima menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah alat untama bagi pengurangan ketidakpastian. Karena kita telah mengidentifikasi komunikasi interpersonal sebagai fokus URT, asumsi ini bukan merupakan hal yang mengherankan.

Asumsi berikutnya menggarisbawahi sifat waktu. Asumsi ini juga berfokus pada fakta bahwa komunikasi interpersonal adalah perkembangan. Teoretikus pengurangan ketidakpastian percaya bahwa interaksi awal adalah eelemen kunci dalam proses perkembangan ini.

Asumsi terakhir mengindikasikan bahewa perilaku orang dapat diprediksi dalam cara seperti hukum. Sebuah pola digambarkan, tetapi pemikiran deterministik menyatakan bahwa hukum natural agak sedikit lebih lenggar. Akan tetapi, tetap saja untuk mendekati tujuan dari pernyataan ’seperti hukum’ tampak menakutkan. Oleh karenanya, teori-teori seperti URT mulai dengan apa yang mungkin terlihat seperti pengamatan yang wajar dengan tujuan untuk membentuk keteraturan-keteraturan yang mengatur perilaku manusia. Teori cakupan hukum disusun untuk mengubah pernyataan yang sebelumnya diasumsikan sebagai benar (atau aksioma) menjadi pernyataan yang diturunkan dari kebenaran ini (atau teorema).

Aksioma Teori Pengurangan Ketidakpastian

Teori Pengurangan Ketidakpastian adalah teori yang aksiomatik. Ini  berarti bahwa Berger dan Calabrese memulai dengan sekumpulan aksioma, atau kebenaran yang ditarik dari penelitian sebelumnya dan akal sehat. Aksioma-aksioma ini, atau disebut sebagai proposisi oleh peneliti lainnya, tidak membutuhkan adanya bukti lebih selain pernyataan itu sendiri. Berger dan Calabrese mengambil pemikiran aksiomatik ini dari penelitian sebelumnya (Blalock, 1969), yang menyimpulkan bahwa hubungan kausal harus dinyatakan dalam bentuk aksioma. Aksioma adalah jantung dari sebuah teori. Aksioma harus diterima sebagai valid karena merupakan batu penyusun dalam teori. Tiap aksioma menggambarkan hubungan antara ketidakpastian (konsep teoretis sentral) dan satu konsep lainnya. URT mengemukakan adanya tujuh aksioma. Untuk memahami tiap aksioma, kita akan kembali pada contoh awak kita mengenai Edie dam Malcolm.

Aksioma 1 : Dengan adanya tingkat ketidakpastian yang tinggi pada permulaan fase awal, ketika jumlah komunikasi verbal antara dua orang asing meningkat, tingkat ketidakpastian untuk setiap –artisipan dalam suatu hubungan akan menurun. Jika ketidakpastian menurun, jumlah komunikasi verbal meningkat. Hal ini menyatakan adanya kebalikan atau hubungan negatif antara ketidakpastian dan komunikasi verbal.

Sehubungan dengan situasi Edie dan Malcolm dikaitkan dengan aksioma ini, teori ini menyatakan bahwa jika mereka berbicara lebih banyak dengan satu sama lain, mereka akan menjadi lebih pasti mengenal satu sama lain. Selanjutnya, ketika mereka berusaha untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik, mereka akan berbicara lebih banyak satu sama lain.

Aksioma 2: Ketika ekspresi afiliatif nonverbal meningkat, tingkat ketidakpastian menurun dalam situasi interaksi awal. Selain  itu, penurunan tingkat ketidakpastian akan menyebabkan peningkatan keekspresifan afiliatif nonverbal. Hal ini merupakan salah satu hubungan yang bersifat negatif.

Apabila Edie dan Malcolm saling mengekspresikan diri mereka dengan cara nonverbal yang hangat, mereka akan menjadi lebih pasti mengenal satu sama lain, dan saat mereka melakukan ini, mereka kan meningkatkan afiliasi nonverbal mereka satu dengan lainnya. Mereka mungkin akan lebih banyak menggunakan ekspresi wajah, atau mereka mungkin akan melakukan kontak mata yang lebih lama. Bahkan, keduanya mungkin akan mulai saling menyentuh dengan cara bersahabat ketika mereka mulai saling merasa nyaman.

 

Aksioma 3: Tingkat ketidakpastian yang tinggin menyebabkan penurunan tingkat keintiman dari isi komunikasi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat keintiman yang tinggi. Aksioma ini memperlihatkan hubungan yang negatif antara ketidakpastian dan tingkat keintiman.

Oleh karena ketidakpastian antara Edie dam Malcolm relatif tinggi, mereka mulai dengan pembicaraan yang ringan dan tidak secara nyata membuka diri. Keintiman dari isi komunikasi mereka rendah, maka ketidakpastian mereka kan berada pada tingkat tinggi. Aksioma keempat ini menyatakan bahwa juka mereka terus mengurangi ketidakpastian dalam hubungan mereka, maka komunikasi mereka akan terdiri atas tingkat-tingkat tingkat-tingkat keintiman yang lebih tinggi. Berger (1979) menyatakan, bahwa selama proses pembukaan diri ini, para partisipan harus menilai integritas dari keterbukaan itu. Apakah ada kemungkinan bahwa informasi yang diterima seorang individu bersifat bias, terlalu positif, atau terlalu negatifff? Beberapa penilaian ini mungkin akan menjadi problematis bagi kedua orang yang sedang berada dalam suatu perjumpaan.

 

Aksioma 5: Ketidakpastian yang tingkat tinggi menghasilkan tingkat resiprositas yang tinggi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat resiprositas rendah pula. Hubungan yang positif terjadi disini.

 

Menurut URT, selama Edie dan Malcolm merasakan ketidakpastian mengenai satu sama lain, mereka akan cenderung untuk meniru perilaku masing-masing. Resiprositas (reciprocity) menyatakan bahwa jika seseorang memberikan sedikit detail personal, lainnya akan melakukan hal yang sama. Setelah Edie mengatakan bahwa dia tidak begitu memahami apa yang diajarkan di kelas dan bahwa dia mengambil jrusan teknik, Malcolm memberitahukan jurusan yang diambilnya kepada Edie dan bahwa dia kemungkinan mempunyai masalah jika ia mengambil kelas teknik. Reprositas langsung semacam itu adalah sebuah tanda dari perjumpaan awal. Main banyak orang berbicara satu sam alain dan mengembangkan hubungan mereka, makin mereka percaya bahwa resiproritas akan terjadi suatu titik tertentu.

 

Aksioma 6: Kemiripan di antara orang akan mengurangi ketidakpastian, sementara ketidakmiripan akan meningkatkan ketidakpastian. Aksioma ini menyatakan sebuah hubungan yang negatif.

 

Oleh karena Edie dan Malcolm adalah mahasiswa di Universitas Urban, mereka mungkin mempunyai kesamaan yang m,engurangi beberapa ketidakpastian mengenai satu sama lain secara cepat. Akan tetapi, mereka berbeda jenis kelamin dan berbeda jurusan-ketidakmiripan yang mungkin memengaruhi tingkat ketidakpastian mereka.

 

Aksioma 7: Peningkatan tingkat ketiodakpastian akan menghasilka penurunan dalam kesukaan; penurunan dalam ketidakpastian menghasilkan peningkatan dalam kesukaan. Lagi-lagi hubungan negatif diperlihatkan oleh aksioma ini.

 

Ketika Edie dan Malcolm mengurangi ketidakpastian mereka, mereka akan meningkatkan kesukaan mereka satu dengan lainnya. Jika mereka terus merasakan ketidakpastian yang tinggi mengenai satu sama lain, mereka  kemungkinan tidak akan menyukai satu sama lain. Aksioma ini menerima beberapa dukungan empiris yang tidak langsung. Dalam sebuah studi yang mempelajari mengenai hubungan antara kepuasan komunikasi dan pengurangan ketidakpasrtian, James Neuliep dan Erica Grohskopf (2000) menemukan bahwa partisipan yang menjadi pewawancara dalam sebuah permainan oeran organisasi lebih memperlihatkan perasaan positif terhadap partisipan yang berperan sebagai pencari kerja (dan akan cenderung memutuskan untuk mempekerjakan mereka) ketika ketidakpastian mereka rendah.

Teori Pengurangan Ketidakpastian telah memberikan kontribusi penting bagi bidang komunikasi, walaupun telah menimbulkan kontroversi dan perdebatan teoritis. Selain itu, meskipun teori ini mungkin bersifat linear. Teori ini telah mendorong munculnya banyak komentar dan penelitian, dan teori ini menempatkan komunikasi dalam posisi yang utama. Teori ini menandai mulanya para peneliti komunikasi berfokus pada disiplin mereka sendiri untuk penjelasan teoritis daripada meminjam teori dari disiplin lainnya. Selanjutnya, teori memunculkan dialog berkelanjutan ketika para peneliti meneruskan debat mereka mengenai validitas pada pengurangan ketidakpastian sebagai sebuah masalah utama dalam pengembangan hubungan.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MENUMBUHKAN HUBUNGAN INTERPERSONAL DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan. Tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Lalu apa saja faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik? Seperti telah disebutkan di muka, tulisan ini akan membahas tiga hal: percaya, sikap suportif, dan sifat terbuka.

Percaya (Trust)

Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:

  • Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
  • Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
  • Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.

Perilaku Suportif

Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:

  • Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
  • Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cara mencapai tujuan.
  • Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.

Sikap Terbuka

Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll. Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.

 

D. PENUTUP

Setelah menjabarkan teori-teori dan pendapat-pendapat dari para pakar komunikasi, akhirnya didapat kesimpulan guna meyakini proposisi KAP mempunyai fungsi seperti To relate to others and to form relationship secara ilmiah.

Komunikasi interpersonal membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk sosial, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.

Fungsi tersebut dapat dilihat sebagai motivasi untuk melakukan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, kita melakukan komunikasi interpersonal untuk memenuhi kebutuhan dalam membentuk suatu hubungan, dan juga dapat dilihat sebagai hasil yang ingin dicapai dari komunikasi interpersonal. Kita melakukan komunikasi interpersonal untuk mengenal diri kita sendiri lebih baik, mengenal orang lain secara lebih baik pula, maupun untuk membuat hubungan yang lebih bermakna dan memperolah pengetahuan tentang dunia luar.

Uraian di atas menunjukan bahwa manusia tidak dapat menghindar dari jalinan hubungan dengan sesamanya. Kita mungkin memiliki kadar yang berbeda dalam membutuhkan orang lain, demikian pula mengenai nilai penting kuantitas dan kualitas hubungan antarpribadi. Meskipun demikian, secara pasti dapat dikatakan bahwa kita memerlukan hubungan antarpribadi.

 

DAFTAR RUJUKAN

Rakhmat, Jalaludin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Littlejohn, Stephen W. 2005. Theories of Human Communication. Belmont, California: Thomson Wadsworth Publishing Company.

Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Profesional Books.

West, Richard. Turner Lynn. 2007. Introducing Communication Theory. NY: Mc Graw Hill.

John Fiske, Introduction to Communication Studies, Sage Publications, 1996.

Lederer, W.K..1984. Creating a Good Relationship. New York: Norton.

 

Teori interaksionisme-simbolik dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti Goerge H.Mead dan Herbert Blummer.

Awal perkembangan interaksionisme simbolik dapat dibagi menjadi dua aliran / mahzab yaitu aliran / mahzab Chicago, yang dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati. Peneliti perlu mencoba empati dengan pokok materi, masuk pengalaman nya, dan usaha untuk memahami nilai dari tiap orang. Blumer dan pengikut nya menghindarkan kwantitatif dan pendekatan ilmiah dan menekankan riwayat hidup, autobiografi, studi kasus, buku harian, surat, dan nondirective interviews. Blumer terutama sekali menekankan pentingnya pengamatan peserta di dalam studi komunikasi. Lebih lanjut, tradisi Chicago melihat orang-orang sebagai kreatif, inovatif, dalam situasi yang tak dapat diramalkan. masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial.[1]

Menurut H. Blumer teori ini berpijak pada premis bahwa (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada “sesuatu” itu bagi mereka, (2) makna tersebut berasal atau muncul dari “interaksi sosial seseorang dengan orang lain”, dan (3) makna tersebut disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat “proses interaksi sosial” berlangsung. “Sesuatu” – alih-alih disebut “objek” – ini tidak mempunyai makna yang intriksik. Sebab, makna yang dikenakan pada sesuatu ini lebih merupakan produk interaksi simbolis.[2]

Bagi H. Blumer, “sesuatu” itu – biasa diistilahkan “realitas sosial” – bisa berupa fenomena alam, fenomena artifisial, tindakan seseorang baik verbal maupun nonverbal, dan apa saja yang patut “dimaknakan”.
Sebagai realitas sosial, hubungan “sesuatu” dan “makna” ini tidak inheren, tetapi volunteristrik. Sebab, kata Blumer sebelum memberikan makna atas sesuatu, terlebih dahulu aktor melakukan serangkaian kegiatan olah mental: memilih, memeriksa, mengelompokkan, membandingkan, memprediksi, dan mentransformasi makna dalam kaitannya dengan situasi, posisi, dan arah tindakannya.
Dengan demikian, pemberian makna ini tidak didasarkan pada makna normatif, yang telah dibakukan sebelumnya, tetapi hasil dari proses olah mental yang terus-menerus disempurnakan seiring dengan fungsi instrumentalnya, yaitu sebagai pengarahan dan pembentukan tindakan dan sikap aktor atas sesuatu tersebut. Dari sini jelas bahwa tindakan manusia tidak disebabkan oleh “kekuatan luar” (sebagaimana yang dimaksudkan kaum fungsionalis struktural), tidak pula disebabkan oleh “kekuatan dalam” (sebagaimana yang dimaksud oleh kaum reduksionis psikologis) tetapi didasarkan pada pemaknaan atas sesuatu yang dihadapinya lewat proses yang oleh Blumer disebut self-indication. [3]

Menurut Blumer proses self-indication adalah proses komunikasi pada diri individu yang dimulai dari mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna tersebut. Dengan demikian, proses self-indication ini terjadi dalam konteks sosial di mana individu mengantisipasi tindakan-tindakan orang lain dan menyesuaikan tindakannya sebagaimana dia memaknakan tindakan itu. [4]
Lebih jauh Blumer dalam buku yang sama di halaman 78 menyatakan bahwa interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol, oleh penafsiran, dan oleh kepastian makna dari tindakan orang lain, bukan hanya sekedar saling bereaksi sebagaimana model stimulus-respons.
Selain menggunakan Interaksionis Simbolik, kasus Sampit bisa didekati dengan metode Hermeneutik.

Hermeneutik dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau falsafah yang menginterpretasi makna. Pada dasawarsa ini, Hermeneutik muncul sebagai topik utama dalam falsafah ilmu sosial, seni dan bahasa dan dalam wacana kritikan sastera yang mempamerkan hasil interpretasi teks sastera.

Perkataan Hermeneutik berasal dari dua perkataan Greek: hermeneuein, dalam bentuk kata kerja bermakna ”to interpret” dan hermeneia, dalam bentuk kata nama bermakna ”interpretation”. Kaedah ini mengutamakan penginterpretasian teks dalam konteks sosiobudaya dan sejarah dengan mendedahkan makna yang tersirat dalam sesebuah teks atau karya yang diselidiki. Dokumen awal menjelaskan bahawa seorang ahli falsafah, iaitu Martin Heidegger menggunakan kaedah Hermeneutik pada tahun 1889-1976. Walau bagaimanapun, Hermeneutik telah mula dipelopori oleh Schleimarcher dan Dilthey sejak abad ke-17 dan diteruskan oleh Habermas, Gadamer, Heidegger, Ricoeur dan lain-lain pada abad ke-20.
Menurut Mueller (1997), Hermeneutik adalah seni pemahaman dan bukan sebagai bahan yang telahpun difahami. Hermeneutik juga adalah sebahagian daripada seni pemikiran dan berlatarkan falsafah. Oleh itu, untuk melakukan penginterpretasian terhadap ilmu pengetahuan tentang bahasa, maka adalah penting untuk memahami ilmu pengetahuan individu. Tetapi, pada hakikatnya adalah mustahil untuk menganalisis aspek-aspek psikologi seseorang itu. Kejayaan seni penginterpretasian bergantung kepada kepakaran linguistik dan kebolehan memahami subjek yang dikajinya.
[1] Bisa dibaca lebih jelas pada karya Stephen W. Littlejohn (1995). Theories of Human Communication, 5th Edition. Belmont, Wadsworth Publishing Company
[2] When Mead had to give up his position as a lecturer at the University of Chicago due to illness, Blumer took over and continued his work. In his 1937 article “Social Psychology”, Blumer coined the term symbolic interactionism and summarised Mead’s ideas into three premises: The way people view objects depends on the meaning these things have for them. This meaning comes about as a result of a process of interaction. The meaning of an object can change over time.
[3] Blumer, 1969, Ibid.hal.81
[4] Herbert Blumer, Symbolic Interaction: Perspective and Method (1969) hal.81


 

DRAMATISM THEORY

(TEORI DRAMATISME)

Berdasarkan Penelitian Kenneth Burke

by: A.C.S.

 

ABSTRACT

Life is drama. The dramatistic pentad of act, scene, agent, agency, and purpose is the critic’s tool to discover a speaker’s motive. The ultimate motive of rhetoric is the purging of guilt. Without audience identification with the speaker, there is no persuasion. (Rhetorical and semiotic traditions).

Keywords: retorical, drama, language as a symbolic.

 

Karl Elliot benar-benar menantikan bagian ini dari rutinitas paginya. Ia duduk dengan secangkir kopi dan surat kabar pagi. Ia memberikan satu jam penuh bagi dirinya untuk membaca semua berita hari ini dan menikmati kopinya. Ini merupakan bagian yang paling ia sukai dalam satu hari, dan ia bangun lebih pagi untuk memastikan bah wa ia mempunyai cukup waktu setelah berolahraga dan sebelum pergi ke kantor. Tetapi hari ini ia merasa tidak  senang. Ia melihat headline surat kabar dengan perasaan sebal. Ia sudah muak membaca mengenai para pengusaha yang tidak punya akal sehat. Hari ini ia membaca mengenai Martha Stewart. Artikel itu menyebutkan bahwa Stewart menghasilkan lebih banyak uang ketika ia berada di dalam penjara daripada ketika ia sedang diluar, meskipun sekarang keadaanyya tidak begitu buruk.

Karl mengangkat wajahnya dari surat kabar ketika pasangannya, Max masuk ke dalam ruang sarapan. Karl bertanya, “Max, apa kamu sudah membaca tentang Martha Stewart? Ia malah menghasilkan uang sebanyak 5 juta dolar saat ia sedang di dalam penjara! Di mana hukumannya kalau begitu caranya? Benar-benar omong kosong. Wantita itu buakn siapa-siapa melainkan seorang pembohong yang serakah.”

Max mengangkat bahunya dan tertawa. Ia telah biasa melihat Karl begitu terbawa suasana permasalahan yang sedang hangat. Max tidak melihat persoalan Martha Stewart sebagai sesuatu yang penting. Ia menyambar secangkir kopi dan pergi ke kantor. Karl kembali membaca surat kabar tersebut.

Artikel itu menggambarkan tuduhan terhadap Stewart dan argumennya mengenai mengapa ia tidak bersalah. Pembelaannya menyatakan bahwa ia memiliki sebuah kesepakatan yang telah ada sejak dulu dengan pialangnya perihal menjual bagian saham ImClone, yang didirikan dan dijalankan oleh teman baiknya Samuel Waksal. Hanya merupakan suatu kebetulan belaka bahwa ia mampu untuk melepaskan hamper 4000 lembar saham sebelum perusahaan hancur dan saham tersebut menjadi tidak berharga

Karl tersenyum pada dirinya sendiri, berpikir bahwa setidaknya Stewart tidak berhasil lolos dengan cerita yang begitu lemah. Ia tidak percaya bahwa Stewart bisa saja telah berbicara dengan teman baiknya, Samuel Waksal, dan tidak mendapatkan bocoran untuk menjual saham-saham yang dimilikinya. “ternyata itu cara orang kaya menjadi lebih kaya lagi,” piker Karl. Karl berpikir sangat menyedihkan bahwa semua pemegang saham kecil di

IMClone harus kehilangan uang sementara Stewart malah menghasilkan lebih banyak uang lagi di penjara.

Karl melihat bahwa ia sudah sedikit terlambat, jadi ia memasukkan surat kabarnya ke dalam tasnya dan pergi bekerja. Sesampainya di kantor, beberapa orang sedang berbicara mengenai Martha Stewart. Koleganya Diane setuju dengannya dan mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa dana pension yang ia investasikan sedang mengalami kerugian di bursa saham. Karl memandang Diane dan tersenyum “Kamu benar,” katanya. “Semua orang di seluruh negeri ini mengalami kerugian karena nmelemahnya pasar saham. Begitupun seharusnya Stewart.” Kolega lainnya, Randy, tidak setuju dengan hal ini, menyatakan bahwa kita seharusnya selalu memaafkan kesalahan semacam ini. Ia berpikir bahwa Stewarts sudah cukup mendapatkan hukuman,

Ketika Karl berkendaran pulang ke rumah dari tempat kerjanya malam itu, ia mendengar komentator berita di radio mengatakan bahwa maria Stewart adalah ikon yang disukai oleh orang Amerika untuk dibenci. Ia kini sedang menuai kebencian public yang telah menumpuk karena ia telah lama menjadi symbol kesempurnaan. Cerita radio tersebut berlanjut mengatakan bahwa Amerika Serikat sangat suka menciptakan public figure dan lebih suka lagi melihat mereka jatuh. Komentator menyatakan bahwa opini public mengenai Stewart terlihat semakin meningkat, semenjak ia megalami masa tahanannya. Tampaknya rakyat Amerika bersedia untuk memaafkannya.

Cerita itu menyimpulkan bahwa Amerika adalah bangsa yang menyukai kemunculan kembali seorang public figure. Karl tidak setuju. Ia berpikir bhawa Martha Stewart patut un

tuk tidak dimaafkan karena tindakan ilegalnya, bukan karena orang Amerika suka melihat seseorang yang berkuasa dipaksa berlutut di panggung public. Selain itu Karl tidak dapat menghargai perilaku Stewart selama investigasi mengenai penjualan sahamnya. Stewart hanya diam saja. Karl berpendapat bahwa jika Anda melakukan hal yang salah, Anda harus cukup besar hati untuk mengakuinya. Meskipun ia menjalani masa hukumannya, ia masih tetap saja mendapatkan keuntungan yang besar. Karl menganggap itru sebagai sesuatu yang memuakkan.

 

SEKILAS TEORI

Teori Burke membandingkan kehidupan dengan sebuah pertunjukkan dan menyatakan bahwa sebagaimana dalam sebuah karya teatrikal, kehidupan membutuhkan adanya seorang actor, sebuah adegan, beberapa alat untuk terjadi adegan itu, dan sebuah tujuan. Teori ini memungkinkan seorang kritikus retoris untuk menganalisis motif pembicara dengan mengidentifikasi dan mempelajari elemen-elemen ini. Selanjutnya, Burke percaya, rasa bersalah adalah motif utama bagi pembicara, dan Dramatisme menyatakan bahwa seorang pembicara akan menjadi paling sukses ketika mereka memberikan khalayaknya cara untuk menghapuskan rasa bersalah mereka.

 

LATAR BELAKANG TEORI

Beberapa ahli retorika mungkin akan menganalisis masalah Martha Stewart dan respons Karl dengan menggunakan Dramatisme (Dramatism), posisi teoretis yang berusaha untuk memahami tindakan kehidupan manusia sebagai drama. Kenneth Burke dikenal sebagai penggagas Dramatisme, meskipun ia sendiri tidak mengunakan istilah tersebut. Burke, yang meninggal pada tahun 1993 pada usia 96 tahun, merupakan orang yang hebat, dan tidak seperti teoretikus lain, Burke tidak pernah memperoleh gelar sarjana, apalagi gelar doctor. Ia adalah seorang otodidak dalam bidang

 

kritik sastra, filsafat, komunikasi, sosiologi, ekonomi, teologi, dan linguistic. Ia mengajar selama hampir 20 tahun di berbagai universitas, termasuk Harvard, Princeton, dan Universitas Chicago.

Keluasan minatnya dan mungkin kurangnya pelatihan formal pada salah satu bidang disiplin ilmu tersebut membuatnya menjadi salah seorang teoretikus yang paling interdisipliner yang kita pelajari. Ide-idenya telah diterapkan secara luas dalam berbagai area termasuk sastra, teater, komunikasi, sejarah, dan sosiologi. Tidak diragukan bahwa salah satu alas an mengapa ide-ide Burke dibaca secara luas dan sangat dapat diterapkan berkaitan dengan fokusnya pada sistem symbol-salah satu cara utama dari pertukaran intelektual dan usaha ilmiah bagi para peneliti yang bekerja dalam bidang humaniora. Dramatisme memberikan fleksibilitas pada para peneliti untuk mempelajari sebuah objek kajian dari berbagai macam sudut pandang.

1945. Tahun dimana, Kenneth Duva Burke memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978). Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959.

Dramatisme, sebagaimana terlihat dari namanya, mengonseptualisasikan kehidupan sebagai sebuah drama, menempatkan suatu focus kritik pada adegan yang diperlihatkan oleh berbagai pemain. Seperti di dalam sebuah drama, adegan dalam kehidupan adalah penting dalam menyingkap motivasi manusia. Dramatisme memberikan kepada kita sebuah metode yang sesuai untuk membahas tindakan komunikai antara teks (bagaimana Karl menerima dan menghubungkan dengan apa yang ia ketahui mengenai Stewart) dan khalayak untuk teks (Karl), serta tindakan di dalam teks itu sendiri (motif dan pilihan Stewart). Sebagaimana dikatakan oleh C. Ronald Kimberling (1982), “Dramatisme secara meyakinkan memberikan sebuah pandangan kritis yang tidak dapat dihasilkan oleh metode lainnya” (hal.13). ketika Karl membaca mengenai kasis Stewart dan klaim-klaimnya, Karl seperti sedang melihatnya sebagai seorang aktir. Dalam istilah Burke, Karl memahami Stewart sebagai seorang actor dalam sebuah adegan, berusaha untuk mencapai tujuannya sebagai hasil dari motif-motif tertentu. Jadi, dia memberikan komentar mengenai motifnya ketika ia mengevaluasi tindakan Stewart menjual saham ImClone-nya beberapa saat sebelum kejatuhan pasar saham serta kemampuannya untuk mendapatkan berjuta-juta dolar ketika ia ada di dalam penjara akibat perbuatannya itu. Teori Dramatisme Burke memungkinkan kita untuk menganalisis baik pilihan retoris Stewart dalam situasi ini (bagaimana ia membingkai kasusnya dalam pernyataan hukum dan bagaimana dia membela kemampuannya mendapatkan uang ketika sedang dipenjara) dan respons Karl mengenai pilihan Stewart (penolakan terhadap penjelasan Stewart).

Drama adalah metafora yang berguna bagi ide-ide Burke untuk tiga alasan:

  1. Drama mengindikasikan cakupan yang luas, dan Burke tidak membuat klaim yang terbatas; tujuannya adalah untuk berteori mengenai keseluruhan pengalaman manusia. Metafora dramatis khususnya berguna dalam menggambarkan hubungan manusia karena didasarkan pada interaksi atau dialog. Dalam dialognya, drama menjadi model hubungan dan juga memberikan penerangan pada hubungan.
  1. Drama cenderung untuk mengikuti tipe-tipe atau genre yang mudah dikenali: komedi, musical, melodrama, dan lainnya. Burke merasa bahwa cara kita membentuk dan menggunakan bahasa yang dapat berhubungan dengan cara drama manusia ini dimainkan. Sebagaimana diamati oleh Barry Brummett (1993), “Kata-kata akan terangkai menjadi wacana berpola pada tingkat makro dari keseluruhan teks atau wacana. Burke berargumen bahwa pola berulang yang menggarisbawahi suatu teks menjelaskan bagaimana teks tersebut menggerakkan kita.
  2. Drama selalu ditunjukkan pada khalayak. Dalam hal ini, drama bersifat retoris. Burke memandang sastra sebagai “peralatan untuk hidup,” artinya bahwa literatur atau teks berbicara pada pengalaman hidup orang dan masalah serta memberikan orang reaksi untuk menghadapi pengalaman ini. Dengan demikian, kajian Dramatisme mempelajari cara-cara dimana bahasa dan penggunaannya berhubungan dengan khalayak.

 

ASUMSI DRAMATISME

Asumsi memberikan sebuah makna dari ontology teoretikus. Pemikiran Kenneth Burke begitu rumit sehingga sulit untuk merduksinya menjadi sebuah seperangkat asumsi. Beberapa asumsi berikut ini menggambarkan sulitnya memberikan label kepada ontologi Burke. Peneliti seperti Brummet (1993) telah menyebut asumsi Burke sebagai ontologi simbolis dikarenakan penekanannya pada bahasa. Walaupun begitu, Brummet mengingatkan bahwa, “Hal terbaik yang dapat dilakukan seseorang, dalam mencari inti dari pemikiran Burke, adalah untuk menemukan sebagian ontologinya, dasar bagi kebanyakan bagian. Bagi Burke, orang umumnya melakukan apa yang harus mereka lakukan, dan dunia kebanyakan adalah seperti itu adanya, karena sifat dasar dari sistem symbol itu sendiri. Komentar Brummet memberikan gambaran mengenai tiga asumsi teori Dramatisme Burke berikut ini:

  • Humans are animals who use symbols.
  • Language and symbols form a critically important system for humans.
  • Humans are choise makers.

Asumsi pertama berbicara mengenai kesadaran Burke bahwa beberapa hal yang kita lakukan dimotivasi oleh sinbol-simbol. Contohnya, ketika Karl minum kopi pagi harinya, dia memuaskan rasa hausnya, sebuah bentuk naluri hewan. Ketika ia membaca surat kabar pagi dan berpikir mengenai ide-ide yang ia temukan disana, ia dipengaruhi oleh simbol. Ide bahwa manusia adalah hewan yang menggunakan symbol menggambarkan sebuah ketegangan dalam pemikiran Burke. Seperti yang diamati oleh Brummett (1993), asumsi ini, “terombang-ambing anara kesadaran bahwa beberapa dari yang kita lakukan dimotivasi oleh sifat naluriah hewan dan beberapa oleh sifat simbolik”. Dari semua symbol yang digunakan manusia, bahasa adalah yang paling penting bagi Burke, dan ini membawa kita kepada asumsi yang kedua.

Dalam asumsi kedua (mengenai pentingnya bahasa), posisi Burke cukup mirip dengan prinsip relativitas linguistic yang dikenal sebagai Hipotesis Sapir-Whorf (Sapir, 1921; Whorf, 1956). Sapir dan Whorf menyatakan bahwa sangat sulit untuk berpikir mengenai konsep atau objek tanpa adanya kata-kata bagi mereka. Jadi, orang dibatasi (dalam batasan tertentu) dalam apa yang mereka pahami oleh karena batasan bahasa meraka. Bagi Burke, seperti halnya Edward Sapir dan Benjamin Whorf, ketika orang menggunakan bahasa, mereka juga digunakan oleh bahasa tersebut. Ketika Karl mengatakan kepada Max bahwa Stewart adalah seorang pembohong yang serakah, ia memilih symbol yang ingin ia gunakan, tetapi pada saat yang bersamaan pendapat dan pemikirannya dibentuk dengan mendengar dirinya sendiri menggunakan simbol ini. Selain itu, ketika bahasa dari suatu budaya tidak mempunyai symbol untuk motif tertentu, maka pembicara yang menggunakan bahasa tersebut juga cenderung untuk tidak memiliki motif tersebut. Jadi, karena bahasa tidak mempunyai banyak symbol yang mampu mengekspresikan banyak nuansa pendapat mengenai perilaku dan motivasi Stewart, diskusi kita sering kali terpolarisasi. Ketika Karl berbicara dengan koleganya Diane dan Randy, diskusinya terfokus pada apakah Stewart bersalah atua tidak. Tidak banyak terdapat pilihan diantaranya, dan Burke berargumentasi bahwa hal ini dalah hasil langsung dari sistem symbol kita. Coba pikirkan kembali kontroversi yang pernah hangat dibicarakan (seperti implikasi moral dari cloning, penelitian pencangkokan sel, kasus Terri Schiavo, invasi ke Irak, dan lainnya). Anda mungkin mengingat diskusi tersebut sebagai proposisi hanya/atau (either/or)-posisi yang dapat dipilih hanya benar atau salah. Respons

Burke akan hal ini adalah bahwa symbol membentuk pendekatan hanya/atau kita terhadap masalah yang kompleks.

Burke menambahkan bahwa kata-kata, pemikiran, dan tindakan memiliki hubungan yang sangat dekat satu dengan lainnya. Penjelasan Burke mengenai hal ini adalah bahwa kata-kata bertindak seperti “layar terministik (terministic screens)” menuju kepada “ketidakmampuan yang terlatih (trained incapacities,” yang berartibahwa orang tidak mampu melihat di balik hal ke mana kata-kata mereka menuntun mereka (Burke, 1965). Contohnya, walaupun telah melakukan usaha-usaha pendidikan, para petugas kesehatan public Amerika Serikat tetap mengalami kesulitan untuk membujuk orang memikirkan mengenai penyalahgunaan alcohol dan obat tidur ketika menganggap “penyalahgunaan obat” sebagai penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti heroin dan kokain (Brummet, 1993). Kata “penyalahgunaan obat” adalah “layar terministik,” yang menyeleksi dan membuang beberapa makna dan memasukkan yang lainnya. Untuk Burke, bahasa memiliki kehidupannya sendiri, dan “apa pun yang dapat kita lihat atau rasakan sudah ada dalam bahasa, diberikan kepada kita oleh bahasa, dan bahkan diproduksi sebagai kita oleh bahasa” (Nelson, 1989, hal. 169; penekanan seperti aslinya). Penjelasan ini sedikit berlawanan dengan asumsi terakhir Dramatisme.

Asumsi kedua menyatakan bahwa bahasa memiliki pengaruh deterministic terhadap orang (Melia, 1989), tetapi asumsi yang terakhir mengatakan bahwa manusia adalah pembuat pilihan. Burke secara gigih mengatakan bahwa ontology deterministic behaviorisme harus ditolak karena hal itu bertentangan dengan apa yang dia lihat sebagi dasar utama Dramatisme: pilihan manusia. Jadi, ketika Karl membaca mengenai Martha Stewart, dia membentuk opininya mengenai perilaku Stewart melalui kehendak bebasnya. Kebanyakan dari yang telah dibahas berpijak pada konseptualisasi akan agensi (agency), atau kemampuan aktor sosial untuk bertindak sebagai hasil dari pilihannya. Seperti yang diamati oleh Charles Conrad dan Elizabeth Macom (1995), “Esensi dari agensi adalah pilihan” (hal. 11). Tetapi, Conrad dan Macom menyatakan lebih lanjut, Burke berkutat dengan konsep agensi sepanjang kariernya, terutama karena sulitnya menegosiasikan ruang di antara kehendak benas yang sepenuhnya dan determinisme yang sepenuhnya. Pemikiran Burke terus berevolusi pada titik ini, tetapi dia tetap mempertahankan agensi sebagai konsep terdepan dalam teorinya. Untuk memahami ruang lingkup Burke mengenai teori ini, kita perlu menbahas bagaimana ia membingkai pemikirannya yang relative terhadap retorika Aristotelian.

 

DRAMATISME SEBAGAI RETORIKA BARU

Dalam bukunya A Rhetoric of Motives (1950), Burke memperhatikan mengenai persuasi, dan dia menyiapkan cukup banyak diskusi mengenai prinsip tradisional retorika yang diartikulasikan oleh Aristoteles. Burke menyatakan bahwa definisi retorika adalah, intinya, persuasi, dan tulisannya mengeksplorasi cara-cara di mana persuasi dapat terjadi. Dengan melakukan hal ini, Burke mengajukan sebuah retorika baru (Nichols, 1952) yang berfokus pada beberapa isu penting, dan yang paling penting di antara kesemuanya adalah identifikasi. Tahun 1952, Marie Nichols mengatakan hal berikut ini mengenai perbedaan antara pendekatan Burke dan Aristoteles: “Perbedaan antara retorika ‘lama’ dan retorika ‘baru’ mungkin dapat dirangkum dengan cara ini: istilah kunci untuk retorika ‘lama adalah persuasi dan menekankan pada desain yang terencana, istilah kunci untuk retorika ‘baru’ adalah identifikasi dan hal ini dapat mencakup faktor-faktor yang secara parsial ‘tidak sadar’ dalam mengajukan pernyataannya” (hal 323); penekanan sesuai dengan aslinya). Tetapi tujuan Burke tidak untuk menggantikan konseptualisasi Aristoteles, melainkan lebih kepada memberikan tambahan terhadap pendekatan tradisional.

 

Sumber:

Griffin Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. Singapore: McGraw-Hill.

Wood, Julia T. (1997). Communication in Our Lives. Belmont CA: Wadsworth P C.

Littlejohn, Stephen W. 2005. Theories of Human Communication. Belmont, California: Thomson Wadsworth Publishing Company.

West, Richard. Turner, Lynn. 2007. Introducing Communication Theory. NY: Mc Graw Hill.

 

by: A.C.S.

 

Ketika dua orang asing atau lebih saling bertemu, muncul ketidakpastian antara mereka berdua. Ketika seorang murid baru masuk di kelas yang baru, munculah ketidakpastian antara murid baru tersebut dengan murid-murid yang lama. Ketidakpastian itu mulai berkurang ketika murid baru tersebut mulai memperkenalkan dirinya dan murid-murid yang lama mulai berkenalan dengan dirinya. Ketika ketidakpastian mulai berkurang munculah prediksi apakah interaksi awal ini akan berkembang menjadi sebuah relasi maupun tidak. Fenomena seperti ini hampir selalu terjadi ketika seseorang berada di tempat yang baru atau bertemu dengan orang yang baru. Fenomena lainnya ketika pegawai baru mulai berkerja di sebuah kantor, ia harus melakukan adaptasi dan bergaul dengan orang lain. Penerapan teori pengurangan ketidakpastian adalah ketika pegawai ini mulai berkenalan dengan orang-orang di kantornya.

 

Deskripsi

Uncertainty Reduction Theory (URT) atau Teori Pengurangan Ketidakpastian adalah sebuah teori  yang di kemukakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese. Teori ini membahas tentang sebuah proses komunikasi pada dua individu yang sebelumnya saling tidak kenal, menjadi kenal sehingga dapat mengurangi ketidak pastian dalam komunikasi, dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan komunikasi atau tidak. Dikatakan juga bahwa teori ini berhubungan dengan cara-cara kita mengumpulkan informasi tentang orang lain. Teori ini berhubungan dengan cara-cara individu memantau lingkungan sosial mereka dan menjadi tahu lebih banyak tentang diri mereka sendiri dan orang lain.

 

Uncertainty reduction theory atau teori pengurangan ketidakpastian, terkadang juga disebut Initial interaction theory. Teori ini diciptakan pada tahun 1975. Berger dan Calabrese yakin bahwa ketika orang -orang asing pertama kali bertemu, mereka mula-mula meningkatkan kemampuan untuk bisa memprediksi dalam usaha untuk mengeluarkan perasaan dari pengalaman komunikasi mereka. Prediksi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memperkirakan pilihan perilaku yang mungkin bisa dipilih dari kemungkinan pilihan yang tersedia bagi diri sendiri atau bagi partner relasi. Explanation (keterangan) digunakan untuk menafsirkan makna dari perbuatan masa lalu dari sebuah hubungan. Prediksi dan explanation merupakan dua konsep awal dari dua subproses utama pengurangan ketidakpastian (uncertainty reduction).

 

Versi umum dari teori ini menyatakan bahwa ada dua tipe dari ketidakpastian dalam perjumpaan pertama yaitu: Cognitive danbehavioral.

  • Cognitive uncertainty merupakan tingkatan ketidakpastian yang diasosiasikan dengan keyakinan dan sikap.
  • Behavioral uncertainty, dilain pihak berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat diprediksikan dalam situasi yang diberikan.

Selanjutnya Berger dan Calabrese (1975) berpendapat bahwa uncertainty reduction memiliki proses yang proaktif dan retroaktif. Uncertainty reduction yang proaktif yaitu ketika seseorang berpikir tentang pilihan komunikasi sebelum benar-benar terikat dengan orang lain. Uncertainty reduction yang retroaktif terdiri dari usaha-usaha untuk menerangkan perilaku setelah pertemuan itu sendiri.

 

Asumsi

Teori ini dibingkai oleh 7 asumsi yaitu:

  1. 1. People experience uncertainty in interpersonal setting.

Orang mengalami ketidakpastian dalam latar interpersonal.

  1. 2. Uncertainty is an aversive state, generating cognitive stress.

Ketidakpastian adalah keadaan yang tidak mengenakkan, menimbulkan stress secara kognitif.

  1. 3. When strangers meet, their primary concern is to reduce their  uncertainty or to increase predictability.

Ketika orang asing bertemu, perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka atau meningkatkan predikbilitas.

  1. 4. Interpersonal Communication is a developmental process that occurs through stages.

Komunikasi interpersonal adalah sebuah proses perkembangan yang terjadi melalui tahapan-tahapan.

  1. 5. Interpersonal Communication is the primary means of uncertainty reduction. Komunikasi interpersonal adalah alat yang utama untuk mengurangi ketidakpastian.
  2. 6. The quantity and nature of information that people share change through time. Kuantitas dan sifat informasi yang dibagi oleh orang akan berubah seiiring berjalannya waktu.
  3. 7. It is possible to predict people’s behavior in a lawlike fashion.

Sangat mungkin untuk menduga perilaku orang dengan menggunakan cara seperti hukum.

Asumsi pertama menjelaskan dalam mengatur interpersonal, orang merasakan ketidakpastian karena adanya perbedaan harapan mengenai kejadian interpersonal. Pada saat ini orang akan merasakan ketidakpastian cemas untuk bertemu orang lain.

Asumsi yang kedua menyarankan bahwa ketidakpastian adalah merupakan keadaan yang tidak mengenakkan. Dengan demikian berada di dalam ketikpstian membutuhkan energi emosional dan psikologis yang tidak sedikit.

Asumsi ketiga ini menjelaskan bahwa ketika orang asing bertemu, maka terdapat dua hal yang penting :

  1. pengurangan ketidakpastian
  2. penambahan prediksi

pencarian informasi biasanya dilakukan dengan mengajukan pertanyaan dengan tujuan untuk memperoleh prediktabilitas.

Asumsi yang keempat menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses yang melibatkan tahapan-tahapan perkembangan. Menurut Berger dan Calabrese terdapat tiga tahapan orang memulai interaksi yaitu :

  1. Entry Phase : Dalam tahap ini biasanya komunikasi hanya meliputi hal-hal umum saja seperti nama, jenis kelamin, usia, status dan hal demographis lainnya. Dalam tahap ini langkah yang ditempuh sebagianbesar bersifat normatif dan dikendalikan oleh aturan-aturan komunikasi.
  2. Personal Phase : Tahap ini komunikasi berlangsung lebih akrab dan berbagi mengenai keyakinan, pendapat, nilai dan lebih banyak data pribadi. Fase ini mulai kurang dibatasi oleh aturan dan norma komunikasi
  3. Exit Phase : Di fase ini umumnya setelah komunikator mendapatkan data-data yang ada dapat memilih untuk melanjutkan komunikasi atau memutuskan untuk menyudahinya

Asumsi kelima menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah alat utama bagi pengurangan ketidakpastian. Di sini komunikasi interpersonal diidentifikasikan sebagai fokus pada URT. Komunikasi interpersonal mensyaratkan beberapa kondisi, beberapa di antaranya adalah kemampuan untuk mendengar, tanda respon nonverbal, dan bahsa yang sama. Menurut Berger (1995) ada sejumlah situasi di mana kondisi prasyarat pertemuan tatap muka ini tidak terpenuhi. Kondisi seperti ini memengaruhi proses pengurangan ketidakpastian dan pengembangan hubungan.

Asumsi keenam ini fokus pada fakta komunikasi interpersonal yang berkembang. URT mempercayai interaksi bermula dari kunci elemen di proses pengembangan.

Asumsi terakhir ini menunjukan tingkah laku orang-orang dapat memprediksi sebuah penampilan. Dalam ontologi cakupan hukum, beramsumsi bahwa perilaku manusia diatur oleh prinsip-prinsip umum yang berfungsi dengan cara seperti hukum.

 

Aksioma

Uncertainty Reduction Theory adalah teori yang dianggap paling benar. Aksioma merupakan jantung dari sebuah teori. Aksioma-aksioma ini disebut juga proposisi oleh peneliti lainnya. Tiap Aksioma menggambarkan hubungan antara ketidakpastian (konsep teoretis sentral) dan satu konsep lainnya. URT mengemukakan adanya tujuh aksioma.

Axiom 1

Given the high level of uncertainty present at the onset of the entry phase, as the amount of verbal communication between strangers increases, the level of uncertainty for each interactant in the relationship decreases. As uncertainty is futher reduced, the amount of verbal communication increases. This asserts an inverse or negative relationship between uncertainty and verbal communication.

Dengan adanya tingkat ketidakpastian yang tinggi pada permulaan fase awal, ketika jumlah komunikasi verbal antara dua asing meningkat, ketidakpastian menurun, jumlah komunikasi verbal meningkat. Hal ini menyatakan adanya kebalikan atau hubungan negatif antara ketidakpastian dan komunikasi verbal.

Jika kedua orang asing bertemu dan mereka berbicara lebih banyak dengan satu sama lain, mereka akan menjadi lebih pasti mengenai satu sama lain. Selanjutnya, ketika mereka berusaha untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik, mereka akan berbicara lebih banyak satu sama lain.

Axiom 2

As nonverbal affiliative expressiveness increases, uncertainty levels decrease in an initial interaction situation. In addition, decreases in uncertainty level will cause increases in nonverbal affiliative expressiveness. This is another negative relationship.

Ketika ekspresi afiliatif nonverbal meningkat, tingkat ketidakpastian menurun dalam situasi interaksi awal. Selain itu, penurunan tingkat ketidakpastian akan menyebabkan peningkatan keekspresifan afiliatif nonverbal. Hal ini merupakan salah satu hubungan yang bersifat negatif.

Ketika dua orang asing bertemu dan saling mengekspresikan diri dengan cara yang nonverbal yang hangat, mereka akan menjadi lebih pasti mengenai satu sama lain, dan ketika mereka melakukan ini, mereka akan meningkatkan afiliasi nonverbal satu dengan yang lainnya. Mereka mungkin akan lebih banyak menggunakan ekspresi wajah, melakukan kontak mata yang lebih lama, atau mungkin saling menyentuh dengan cara bersahabat ketika mereka sudah mulain nyaman.

Axiom 3

High levels of uncertainty cause increases information seeking behavior. As uncertainty levels decline, information-seeking behavior decreases. This axiom sets forth a positive relationship between the two concept.

Tingkat ketidakpastian yang tinggi menyebabkan meningkatkan perilaku pencarian informasi. Ketika tingkat ketidakpastian menurun, perilaku pencarian informasi juga menurun. Aksioma ini menunjukkan hubungan yang positif antara dua konsep tersebut.

Makin sedikit ketidakpastian yang ada, maka makin sedikit pencarian informasi yang dilakukan, begitupun sebaliknya.

Axiom 4

High levels of uncertainty in a relationship cause decreases in the intimacy level of communication content. Low levels of uncertainty produce high levels of intimacy. This axiom poses a negative relationship between uncertainty and levels of intimacy.

Tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam sebuah hubungan menyebabkan penurunan tingkat keintiman dari isi komunikasi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat keintiman yang tinggi. Aksioma ini memperlihatkan hubungan yang negatif antara ketidakpastian dan tingkat keintiman.

Oleh karena ketidakpastian yang cukup tinggi antara dua orang asing yang mengobrol, maka mereka mulai dengan pembicaraan yang ringan dan tidak secara nyata membuka diri. Keintiman dari isi komunikasi mereka sangat rendah, maka ketidakpastian mereka akan sangat tinggi. Aksioma keempat ini menyatakan bahwa jika mereka terus mengurangi ketidakpastian maka derajat tingkat keintiman akan menjadi lebih tinggi. Berger (1979) menyatakan bahwa selama proses pembukaan diri ini, para partisipan harus menilai integritas dari keterbukaan itu.

Axiom 5

High levels of uncertainty produce high rates of reciprocity. Low levels of uncertainty produce low levels of reciprocity. A positive relationship is advanced here.

Ketidakpastian yang tingkat tinggi menghasilkan tingkat resiprositas yang tinggi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat resiprositas yang rendah pula. Hubungan yang positif terjadi di sini.

Selama dua orang asing atau lebih bertemu merasakan ketidakpastian mengenai satu sama lain, mereka akan cenderung untuk menerima perilaku masing-masing. Resiprositas (reciprocity) menyatakan bahwa jika seseorang memberikan sedikit detail personal, lainnya akan melakukan hal yang sama. Makin banyak orang berbicara satu sama lain dan mengembangkan hubungan mereka, makin mereka percaya bahwa resiprositas akan terjadi suatu titik tertentu.

Axiom 6

Similarities between people reduce uncertainty, whereas dissimilarities increase uncertainty. This axiom asserts a negative relationship.

Kemiripan di antara orang akan mengurangi ketidakpastian, sementara ketidakmiripan akan meningkatkan ketidakpastian. Aksioma ini menyatakan sebuah hubungan yang negatif.

Ketika orang asing saling bertemu dan ternyata mereka satu tempat kerja, mereka mungkin mempunyai kesamaan yang mengurangi beberapa ketidakpastian mengenai satu sama lain secara cepat. Akan tetapi, ketidakmiripan yang mereka miliki akan memengaruhi tingkat ketidakpastian mereka.

Axiom 7

Increases in uncertainty level produce decreases in liking; decreases in uncertainty produce increases in liking. Another negative relationship is posited in this axiom.

Peningkatan tingkat ketidakpastian akan menghasilkan penurunan dalam kesukaan; penurunan dalam ketidakpastian menghasilkan peningkatan dalam kesukaan. Lagi-lagi hubungan negatif diperlihatkan oleh aksioma ini.

Ketika dua orang berusaha menghilangkan ketidakpastian, mereka akan meningkatkan kesukaan mereka satu dengan yang lainnya. Jika terus merasakan ketidakpastian yang tinggi kemungkinan mereka tidak saling menyukai.

 

KONSEP UTAMA                HUBUNGAN                        KONSEP YANG BERHUBUNGAN

Ketidakpastian                 Negatif                           Komunikasi verbal

Ketidakpastian                 Negatif                           Ekspresi afiliatif nonverbal

Ketidakpastian                 Positif                             Pencarian informasi

Ketidakpastian                 Negatif                           Tingkat keintiman komunikasi

Ketidakpastian                 Positif                             Resiprositas

Ketidakpastian                 Negatif                           Kesamaan

Ketidakpastian                 Negatif                           Kesukaan

 

Teorema

Berdasarkan aksioma-aksioma di atas, Berger dan Calabrese menawarkan sejumlah teorema (theorems), atau perrnyataanbteoritis. Teorema itu berjumlah 21 yaitu :

 

  • Theorem 1: The amount of talking and nonverbal communicative expressions are positively related. (Jumlah berbicara dan komunikatif ekspresi nonverbal secara positif terkait)
  • Theorem 2: The amount of communication and its intimacy level is positively related. (Jumlah komunikasi dan tingkat keintiman positif terkait)
  • Theorem 3: Time spent in interaction and questions posed are inversely related. (Jumlah komunikasi dan tingkat keintiman positif terkait).
  • Theorem 4: Time spent communicating and instance of symmetric exchanges are inversely related. (Komunikasi verbal dan Resiprositas secara positif terkait)
  • Theorem 5: The amount of communication and liking are positively related. (Komunikasi verbal dan kemiripan secara positif terkait)
  • Theorem 6: The amount of communication and personal similarity are positively related. (Komunikasi verbal dan kesukaan secara positif terkait)
  • Theorem 7: Nonverbal expressions and intimacy level of conversation are positively related. (Ekspresi afiliatif nonverbal secara positif terkait dengan pencarian informasi)
  • Theorem 8: Nonverbal expressions and information seeking are inversely related. (Ekspresi afiliatif nonverbal secara positif terkait dengan tingkat keintiman komunikasi)
  • Theorem 9: Nonverbal expressions and instance of symmetrical exchange are inversely related. (Ekspresi afiliatif nonverbal secara positif terkait dengan resiprositas)
  • Theorem 10: Nonverbal expressions and liking are positively related. (Ekspresi afiliatif nonverbal secara positif terkait dengan kemiripan)
  • Theorem 11: Nonverbal expressions and similarity are positively related. (Ekspresi afiliatif nonverbal secara positif terkait dengan kesukaan)
  • Theorem 12: The level of communication intimacy and information seeking are inversely related. (Pencarian informasi secara positif terkait dengan tingkat keintiman komunikasi)
  • Theorem 13: The level of communication intimacy and instance of symmetrical exchange are inversely related. (Pencarian informasi secara positif terkait dengan resiprositas)
  • Theorem 14: The level of communication intimacy and liking are positively related.( Pencarian informasi secara positif terkait dengan kemiripan)
  • Theorem 15: The level of communication intimacy and similarity are positively related. (Pencarian informasi secara positif terkait dengan kesukaan)
  • Theorem 16: Posing questions and symmetrical exchanges are positively related. (Tingkat keintiman secara positif terkait dengan resiprosita)
  • Theorem 17: Posing questions and liking are negatively related. (Tingkat keintiman secara positif terkait dengan kemiripan)
  • Theorem 18: Posing questions and similarity are negatively related. (Tingkat keintiman secara positif terkait dengan kesukaan)
  • Theorem 19: Instance of symmetrical exchange and liking are negatively related. (Resiprositas dan kemiripan secara positif terkait)
  • Theorem 20: Instance of symmetrical exchange and similarity are negatively related. (Resiprositas dan kesukaan secara positif terkait)
  • Theorem 21: Similarity and liking are positively related. (Kemiripan dan kesukaan secara positif terkait)

 

Model

Uncertainty Reduction Model

Conseptual Model

 

Menurut Berger dan Calabrese terdapat tiga tahapan orang memulai interaksi yaitu :

  1. Entry Phase : Dalam tahap ini biasanya komunikasi hanya meliputi hal-hal umum saja seperti nama, jenis kelamin, usia, status dan hal demographis lainnya. Dalam tahap ini langkah yang ditempuh sebagian besar bersifat normatif dan dikendalikan oleh aturan-aturan komunikasi.
  2. Personal Phase : Tahap ini komunikasi berlangsung lebih akrab dan berbagi mengenai keyakinan, pendapat, nilai dan lebih banyak data pribadi. Fase ini mulai kurang dibatasi oleh aturan dan norma komunikasi
  3. Exit Phase : Di fase ini umumnya setelah komunikator mendapatkan data-data yang ada dapat memilih untuk melanjutkan komunikasi atau memutuskan untuk menyudahinya

 

Sumber:

Griffin Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. Singapore: McGraw-Hill.

Wood, Julia T. (1997). Communication in Our Lives. Belmont CA: Wadsworth P C.

Littlejohn, Stephen W. 2005. Theories of Human Communication. Belmont, California: Thomson Wadsworth Publishing Company.

 

by: A.C.S.

 

Asumsi dasar

Fundamental Interpersonal Relationship Orientation mengasumsikan bahwa ada tiga kebutuhan penting yang menyebabkan (orientasi) adanya interaksi dalam suatu kelompok. Ketiga aspek itu adalah keikutsertaan (inclusion), pengendali (control) dan kasih sayang (affection).

Diutarakan oleh William Schutz (1958) dengan Postulat Schutz-nya yang berbunyi bahwa setiap manusia memiliki tiga kebutuhan antarpribadi yang disebut dengan inklusif, kontrol dan afeksi. Asumsi dasar teori ini adalah bahwa manusia dalam hidupnya membutuhkan manusia lain (manusia sebagai makhluk sosial).
Konsep antarpribadi menjelaskan tentang adanya suatu hubungan yang terjadi antara manusia. Sedangkan konsep kebutuhan menjelaskan tentang suatu keadaan atau kondisi dari individu, apabila tidak dihadirkan atau ditampilkan akan menghasilkan suatu akibat yang tidak menyenangkan bagi individu. Ada tiga macam kebutuhan antarpribadi, yaitu kebutuhan antarpribadi untuk inklusi, kebutuhan antarpribadi untuk kontrol, dan kebutuhan antarpribadi untuk afeksi.

NCLUSION / KEIKUTSERTAAN

Kebutuhan Inklusi adalah kebutuhan yang berdasarkan pada kesadaran pribadi yang ingin mendapatkan kepuasan dengan cara berkontribusi penuh/berguna bagi kelompok atas dasar kesadaran sendiri setelah berinteraksi dalam kelompok. Kebutuhan inklusi berorientasi pada keinginan untuk pengakuan sebagai seseorang yang berkemampuan dalam suatu kondisi. Pada dimensi ini ada kecenderungan orang untuk ingin dijadikan “sandaran” untuk berkonsultasi, bertanya dan dimintai pendapat dan sarannya. Intensitas kebutuhan pemenuhan dimensi ini bagi tiap individu tidaklah sama. Kebutuhan inklusi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan seseorang di posisi oversocial. Sedangkan kebutuhan inklusi yang terlalu rendah mengakibatkan seseorang dikategorikan dalam kelompok undersocial.

Kebutuhan Antarpribadi untuk Inklusi

Yaitu kebutuhan untuk mengadakan dan mempertahankan komunikasi antarpribadi yang memuaskan dengan orang lain, sehubungan dengan interaksi dan asosiasi. Tingkah laku inklusi adalah tingkah laku yang ditujukan untuk mencapai kepuasan individu. Misalnya keinginan untuk asosiasi, bergabung dengan sesama manusia, berkelompok.

Tingkah laku inklusi yang positif memiliki ciri-ciri: ada persamaan dengan orang lain, saling berhubungan dengan orang lain, ada rasa menjadi satu bagian kelompok dimana ia berada, berkelompok atau bergabung.

 

Tingkah laku inklusi yang negatif misalnya menyendiri dan menarik diri.

Beberapa tipe dari Inklusi, yaitu:

  1. Tipe Sosial; seseorang yang mendapatkan pemuasan kebutuhan antarpribadi secara ideal.
  2. Tipe Undersosial; tipe yang dimiliki oleh seseorang yang mengalami kekurangan dalam derajat pemuasan kebutuhan antarpribadinya. Karakteristiknya adalah selalu menghindar dari situasi antar kesempatan berkelompok atau bergabung dengan orang lain. Ia kurang suka berhubungan atau bersama dengan orang lain.
  3. Tipe Oversosial; seseorang mengalami derajat pemuasan kebutuhan antarpribadinya cenderung berlebihan dalam hal inklusi. Ia cenderung ekstrovert. Ia selalu ingin menghubungi orang lain dan berharap orang lain juga menghubunginya.

Ada juga tipe inklusi yang patologis yaitu seseorang yang mengalami pemuasan kebutuhan antarpribadi secara patologis. Jika hal ini terjadi maka orang tersebut terbilang gagal dalam usahanya untuk berkelompok.

Undersocial

Dalam berinteraksi, individu ini cenderung menolak dalam kelompok. Di sisi lain jika sudah bergabung dalam kelompok, individu undersocial lebih memilih menghindar dari interaksi interpersonal. Individu undersocial lebih memilih “membangun” dunia sendiri dibanding menanggung risiko ditolak dalam berinteraksi dalam kelompok.

 

Oversocial

Sikap oversocial merupakan kebalikan sikap dari undersocial. Sikap oversocial merupakan kecenderungan sikap yang diakibatkan oleh berlebihannya tingkat kebutuhan inklusi seseorang. Individu demikian adalah individu yang memiliki keinginan besar untuk “eksis” dalam kelompok. Namun, dengan tingkat yang berlebihan tersebut, membuat individu tersebut kehilangan kredibilitas. Hal ini disebabkan karena selalu ingin “eksis” individu tersebut tidak memahami suatu kegiatan/interaksi dalam kelompok. Secara umum, baik undersocial maupun oversocial dilatarbelakangi oleh kegelisahan/ketakutan yang sama walaupun mereka menghadapi dua keadaan yang berbeda. Kegelisahan tersebut adalah ketakutan jika mereka tidak bermanfaat bagi kelompok.

CONTROL/MENGENDALIKAN

Kebutuhan Kontrol adalah kebutuhan yang berdasarkan pada kesadaran pribadi yang ingin mendapatkan kepuasan dengan cara mengendalikan dalam artian memimpin interaksi dalam kelompok. Kontrol pada dasarnya merepresentasikan keinginan pribadi untuk mempengaruhi dan memiliki “suara” dalam penentuan sikap/keputusan dalam kelompok.

Kebutuhan kontrol akan sangat terlihat ketika kelompok tengah mengerjakan suatu proposal. Ketika gagasan individu diterima, dan individu tersebut merasa berpengaruh dalam kelompok disanalah kebutuhan kontrol seorang individu terpenuhi. Kepuasan yang dihasilkan terwujud karena individu yang berkompetensi dalam kepemimpinan bisa mengasah kemampuannya dengan bergabung dalam pengambilan keputusan kelompok. Sama halnya dengan kebutuhan inklusi, intensitas kebutuhan pemenuhan dimensi ini bagi tiap individu tidaklah sama.

Kebutuhan kontrol yang terlalu tinggi akan mengakibatkan seseorang di posisi autocrat. Sedangkan kebutuhan kontrol yang terlalu rendah mengakibatkan seseorang dikategorikan dalam kelompok abdicrat.

Kebutuhan Antar Pribadi untuk Kontrol

Adalah kebutuhan untuk mengadakan serta mempertahankan komunikasi yang memuaskan dengan orang lain berhubungan dengan kontrol dan kekuasaan. Proses pengambilan keputusan menyangkut boleh atau tidaknya seseorang untuk melakukan sesuatu perlu ada suatu kontrol dan kekuasaan. Tingkah laku kontrol yang positif, yaitu: mempengaruhi, mendominasi, memimpin, mengatur. Sedangkan tingkah laku kontrol yang negatif, yaitu: memberontak, mengikut, menurut.

Beberapa tipe dari kontrol, yaitu:

  1. Tipe kontrol yang ideal (democrat); seseorang akan mengalami pemuasan secara ideal dari kebutuhan antarpribadi kontrolnya. Ia mampu memberi perintah maupun diperintah oleh orang lain. Ia mampu bertanggung jawab dan memberikan tanggung jawab kepada orang lain.
  2. Tipe kontrol yang kekurangan (abdicrat); seseorang memiliki kecenderungan untuk bersikap merendahkan diri dalam tingkah laku antarpribadinya. Seseorang cenderung untuk selalu mengambil posisi sebagai bawahan (terlepas dari tanggungjawab untuk membuat keputusan).

 

  1. Tipe kontrol yang berlebihan (authocrat); seseorang menunjukkan kecenderungan untuk bersikap dominan terhadap orang lain dalam tingkah laku antarpribadinya. Karakteristiknya adalah seseorang selalu mencoba untuk mendominasi orang lain dan berkeras hati untuk mendudukkan dirinya dalam suatu hirarki yang tinggi.

Tipe kontrol yang patologis; seseorang yang tidak mampu atau tidak dapat menerima control dalam bentuk apapun dari orang lain.

Autocrat

Autocrat merupakan penggolongan individu yang membutuhkan keinginan control terlalu tinggi. Keberadaan individu seperti ini cenderung mendominasi interaksi dalam kelompok, baik interaksi interpersonal maupun dalam interaksi pengambilan keputusan. Kecenderungan dominasi ini membuat seseorang terkesankan sebagai orang yang otoriter dan pemaksaan keinginan,gagasan maupun ide individu tersebut.

Abdicrat

Abdicrat sama sekali kebalikan dari autocrat. Individu abdicrat tidak ingin turut campur dalam pengambilan keputusan. Pribadi abdicrat masuk dalam kelompok karena adanya individu lain yang akan mengemban tanggung jawab.

 

AFFECTION / KASIH SAYANG

Kebutuhan kasih sayang ini dimaksudkan akan kebutuhan seseorang dengan lingkungan sosial. Sehingga seorang individu membutuhkan kasih sayang dan cinta (kedekatan dalam berinteraksi) sebagai pemuas kebutuhannya dalam kelompok. Dalam ketegori ini, kebutuhan inilah yang menyebabkan seseorang ikut dan berperan aktif dalam kelompok.

Kebutuhan afeksi pada posisi paling dasar merupakan kebutuhan untuk disukai, kesempatan untuk membangun hubungan pribadi yang dekat (intim) dengan individu lain. Kebutuhan ini adalah bagian dari keinginan untuk dekat dengan orang lain dan juga bagian dari keinginan individu lain untuk dekat dengan seorang individu. Kedua pribadi sangat membutuhkan pengakuan dan keramahan emosional dengan individu lainnya.

Kebutuhan Antarpribadi untuk Afeksi

Yaitu kebutuhan untuk mengadakan serta mempertahankan komunikasi antarpribadi yang memuaskan dengan orang lain sehubungan dengan cinta dan kasih sayang. Afeksi selalu menunjukkan hubungan antara dua orang atau dua pihak.

Tingkah laku afeksi adalah tingkah laku yang ditujukan untuk mencapai kebutuhan antarpribadi akan afeksi. Tingkah laku afeksi menunjukkan akan adanya hubungan yang intim antara dua orang dan saling melibatkan diri secara emosional.

Afeksi hanya akan terjadi dalam hubungan antara dua orang (diadic – Frits Heider, 1958)). Tingkah laku afeksi yang positif: cinta, intim/akrab, persahabatan, saling menyukai. Tingkah laku afeksi yang negatif: kebencian, dingin/tidak akrab, tidak menyukai, mengambil mengambil jarak emosional.

 

Beberapa tipe dari Afeksi:

  1. Tipe afeksi yang ideal (personal); seseorang yang mendapat kepuasan dalam memenuhi kebutuhan antarpribadi untuk afeksinya.
  2. Tipe afeksi yang kekurangan (underpersonal); seseorang dengan tipe ini memiliki kecenderungan untuk selalu menghindari setiap keterikatan yang sifatnya intim dan mempertahankan hubungan dengan orang lain secara dangkal dan berjarak.
  3. Tipe afeksi yang berlebihan (overpersonal); seseorang yang cenderung berhubungan erat dengan orang lain dalam tingkah laku antarpribadinya.

Tipe afeksi yang patologis; seseorang yaang mengalami kesukaran dan hambatan dalam memenuhi kebutuhan antarpribadi afeksinya, besar kemungkinan akan jatuh dalam keadaan neorosis.

Sama dengan dua dimensi sebelumnya, tingkat afeksi dari tiap pribadi berbeda. Kebutuhan afeksi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan seseorang di posisi overpersonal. Sedangkan kebutuhan inklusi yang terlalu rendah mengakibatkan seseorang dikategorikan dalam kelompok underpersonal.

Overpersonal

Overpersonal merupakan penggolongan individu yang membutuhkan keinginan afeksi terlalu tinggi. Individu overpersonal selalu menginginkan kedekatan yang sangat personal dalam berinteraksi dengan individu lain. Selalu ingin mengetahui personal individu lain secara mendalam, terlalu mendalam. Individu ini dalam menjalin hubungan cenderung terlalu terbuka, sehingga hampir tidak ada rahasia dan di lain kata, bisa dikatakan individu ini tidak mengenal adanya kawasan bersama dan kawasan privasi dalam berhubungan.

Underpersonal

Sebaliknya, pribadi underpersonal sangat memperhatikan batasan antara kawasan pribadi dan bersama. Individu underpersonal tidak menyukai apabila terjadi interaksi antarpersonal yang sudah memasuki kawasan yang menurutnya merupakan wilayah pribadi. Individu ini cenderung menolak bahkan marah dan kesal jika interaksi yang terjadi sudah memasuki wilayah personal.

 

Kesimpulan

Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relationship Orientation) mengasumsikan bahwa keberlangsungan interaksi interpersonal akan berjalan dengan baik dan lancar jika tiap individu sudah bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadinya yang terbagi atas tiga dimensi. Dalam berinteraksi, jika tiap individu saling mengizinkan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhannya maka, interaksi tiap dan masing-masing individu akan semakin lancar. Jika interaksi interpersonal antar-individu sudah lancar maka komunikasi interpersonal yang efektif bisa dicapai.

 

Sumber:

  • Rakhmat, Djalaluddin, 2008. Psikologi Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Prof. Sarlito. 2004. Teori-toeri Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Miller, Katherine. 2001. Communication Theories, Perspectives, Processes and Context. Texas: McGraw Hill.

by: A.C.S.

 

Teori ini sangat membantu kita dalam memahami psikologi diri kita sendiri dan oranglain melalui transaksi komunikasi antarindividu. Perilaku komunikasi akan menjadi cerminan kepribadian seseorang. Berbagai bentuk kenyataan psikologis terbentuk dari berbagai memori-memori khas yang mewakili kenyataan psikologis tersebut. Dan kenyataan psikologis inilah mendasari segala perilaku dan perbuatan manusia. Dengan teori ini pula kita dapat mempelajari bagaimana seharusnya menghadari seseorang dengan kepribadian tertentu sehingga tercipta hubungan yang harmonis serta berbagai tujuan komunikasi lainnya.

 

ASUMSI DASAR

1. People are OK

AT memandang semua orang adalah OK. Semua orang dianggap mempunyai dasar yang sama sebagai pribadi yang menyenangkan dan berkeinginan untuk mengaktualisasikan dirinya. Ini lebih merupakan pemyataan kualitas atau potensial ketimbang keadaan aktual. Masing-masing manusia selalu bernilai, berguna dan memiliki kemampuan-kemampuan tertentu, sehingga layak diperlakukan secara patut.

2. Semua orang memiliki kapasitas untuk berfikir

Memikirkan keputusan untuk bersikap dan berperilaku untuk mencapai kehidupan yang memuaskan. Setiap individu berkeinginan untuk menciptakan sebuah hubungan yang saling mendorong ke arah yang positif. Membantu, mengayomi, mendengarkan, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

3. Manusia memutuskan sendiri jalan hidup mereka sendiri dengan membuat keputusan pada naskah awal kehidupan mereka, dan keputusan itu dapat diubah.

Karena manusia memiliki kemampuan berfikir tersebut, maka manusia pun memiliki kemampan untuk melakukan sesuatu yang berpengaruh kepada jalan hidup mereka, terlepas dari negatif atau positif perilaku dan jalan hidup yang dijalani. Kemampuan manusia pun tidak sebatas hanya menentukan lalu menjalaninya. Namun pada prosesnya, perubahan jalan pikiran atau perilaku akan terjadi seiring dengan kemampuan manusia untuk terus berusaha mencapai tujuan hidup.

 

ASUMSI TEORI

AT menyatakan bahwa setiap manusia, tua-muda, wanita-pria, memiliki 3 kenyataan psikologis yang mendasari segala perbuatannya. Ketiga kenyataan psikologis ini dinamakan status ego. Status ego ini berasal dari hasil rekaman-rekaman/memori yang disimpan didalam otak yang kedepannya rekaman tersebut akan menjadi acuan dalam bertindak atau saat menghadapi suatu transaksi komunikasi. Status ego ini pun dibagi menjadi 3 bagian dan bagian-bagian tersebut akan diisi dengan berbagai memori yang nantinya memori tersebut akan membentuk karakter masing-masing status ego tersebut.

  1. Status Ego Orangtua

Status ego orangtua ini dibentuk disetiap masing-masing individu berdasarkan apa yang mereka terima sebagai perlakuan dari orangtuanya, apa yang mereka lihat dari orangtuanya, dan berbagai macam kejadian luar biasa yang dipaksakan masuk sebagai memori berlabel “status ego orang tua”. Pada status ego orangtua terekamlah berbagai macam nasehat-nasehat. Segala sesuatu yang kita terima dari orangtua akan kita telan mentah-mentah sebagai suatu kebenaran, terlepas hal tersebut baik atau buruk. Status ego orangtua ini dicirikan dengan berbagai macam norma dan aturan yang akan memproteksi diri kita maupun upaya kita memproteksi orang-orang sekitar kita.

Status ego orangtua terdiri dari 2 sisi, nurturning parent (orangtua pembimbing) dan critical parent (orangtua pengkritik). Orang tua pembimbing lebih menekankan pada posisinya sebagai orangtua yang lembut, penuh kasih sayang, pengertian, selalu mendengarkan anaknya, dan mempunyai aturan-aturan yang masuk diakal. Sedangkan orangtua pengkritik adalah orangtua yang lebih menekankan dirinya sebagai orangtua yang menghakimi. Ketidak-konsistenan hidup kita juga merupakan akibat dari status ego orangtua kita yang saat kecil sempat merekam ketidakkonsistenan orangtua saat memberikan aturan namun orangtua malah melanggar aturan tersebut.

  1. Status Ego Anak

Saat status ego orangtua berorientasi merekam kejadian-kejadian yang berasal dari luar, status ego kanak-kanak merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri kita sendiri. ini merupakan tanggapan atas sensasi-sensasi yang diterima, yang dilihat dan didengar atas kejadian dari luar. Hal ini menyangkut perasaan atas tanggapan yang ia terima.

Status ego kanak-kanak lebih menekankan pada bagaimana seorang individu dalam mengungkapkan perasaannya. Status ego seseorang sedang beraksi jika ia secara jujur mengungkapkan perasaan dan pendapatnya, secara verbal maupun non verbal.

Status ego kanak-kanak dapat dibagi dua, yaitu anak bebas/alamiah (Free/Natural Child) dan anak yang menyesuaikan diri (Adapted Child). Free child adalah bagian status ego kanak-kanak yang digunakan untuk mengungkapkan segala perasaannya, apa yang ia inginkan, apa yang ia butuhkan. Free child adalah perilaku dan perasaan yang spontan. Perasaannya terungkap dari kata-kata, nada suara, dan ekspresi wajah. Lalu adapted child adalah sisi kepribadian kita dalam merespon apa yang diperintahkan orangtua. Satu lagi, ada sisi status ego kanak-kanak yang dinamakan the little proffesor, dimana saat anak-anak memiliki keingintahuan yang sangat tinggi, daya imajinasi yang tinggi, serta keinginan bereksperimen terhadap sesuatu yang baru juga sangat tinggi.

  1. Status Ego Dewasa

Menurut Eric Berne dalam Transactional Analysis in Psychotherapy, Status Ego dewasa pada prinsipnya adalah mengubah ransangan-ransangan menjadi bagian-bagian informasi, mengolah dan menyimpan informasi tersebut atas dasar pengalaman yang telah dihayati (Thomas A Harris, 1969. 25).

Status ego dewasa bagaikan komputer yang digunakan untuk mengolah data dan membuat keputusan setelah menerima informasi dari tiga sumber: status ego orangtua, kanak-kanak, dan informasi yang didapatkan sendiri. status ego dewasa memeriksa apakah dalam rekaman status ego orangtua masih sesuai dengan keadaan zaman sekarang atau tidak. Dengan mengkolaborasikan dengan data yang didapatkannya sendiri, status ego dewasa dapat menentukan sebuah rekaman masih layak dipertahankan dimemori kita, atau jika sudah “kadaluarsa” data status ego orangtua itu dibuang. Status ego dewasa bukan bertindak sebagai penghapus status ego lainnya, tapi disini status ego dewasa bertindak menyaring data dari bagian orangtua dan kanak-kanak tersebut adalah baik atau tidak. Status ego dewasa itu terkenal dengan daya nalar yang baik, sesuai fakta, tidak emosional, dan komunikasi dua arah. Status ego dewasa selalu masuk diakal.

 

Sikap Hidup

SAYA TIDAK OKE, KAMU OKE

Ini merupakan sikap dasar yang dibentuk saat masa kecil kita. Sebenarnya dalam sikap ini terdapat rasa OKE. Seorang bayi bisa hidup jika ia dirawat. Sikap ini juga menunjukkan rasa TIDAK OKE, yaitu kesimpulan atas diri sendiri. Namun, kanak-kanak adalah mahluk yang lemah, tidak mempunyai referensi apapun untuk melakukan sesuatu. Satu-satunya cara adalah menolongnya. Ditolong oleh orang lain. Pertentangan antara Freud dan Adler adalah: bukan seks yang merupakan perjuangan dasar manusia dalam hidupnya, melainkan perasaan rendah diri, rasa TDAK OKE, yang nampak jelas dalam diri manusia. Adler mengatakan bahwa seorang anak kecil menganggap dirinya kecil dan tak berdaya karena ia membandingkan dirinya dengan orang lain yang dewasa di lingkungannya. SAYA TIDAK OKE artinya, saya pendek, saya kecil, saya bodoh. KAMU OKE maksudnya kamu tinggi, kamu besar, kamu pintar.

SAYA TIDAK OKE, KAMUPUN TIDAK OKE

Pada awalanya kita memiliki sikap hidup Saya tidak oke, kamu oke. Namun, mengapa tiba-tiba “kamu oke” itu berubah menjadi “kamu tidak oke”?. Disaat kita masih bayi kita diberikan berbagai perhatian dan manjaan dari orangtua kita. Kita merasa ringkih tanpa kehadiran rasa manja tersebut. Semua apa yang kita lakukan selalu diperhatikan dan dibantu. Namun, ditahun-tahun kehidupan kita selanjutnya, orang-orang yang anak kecil beri label “kamu oke” tersebut makin lama makin berkurang perhatiannya. Sehingga ekspektasi anak-anak yang tinggi akan perhatian pada orang-orang tersebut kandas karena berkurangnya perhatian tersebut. Hal ini mengakibatkan bergesernya persepsi anak-anak dari “kamu oke” ke “kamu tidak oke”.

SAYA OKE KAMU TIDAK OKE

Orang dengan sikap SAYA OKE KAMU TIDAK OKE mengalami kekurangan dorongan. Disaat orang-orang terdekatnya melakukan berbagai tindakan yang tidak menyenangkan, akan timbul rasa “kamu tidak oke” tersebut. Ia tidak memiliki tempat pelarian dalam membantu dirinya mengobati “luka” tersebut. Hal ini malah makin menegaskan dirinya bahwa tidak ada yang peduli kepadanya. Sehingga secara natural, seseorang yang mengalami kondisi seperti ini akan berusaha mengobati dirinya sendiri. Ia akan berdiam sendiri, merenungi setiap perbuatan yang diterimanya, secar verbal maupun nonverbal. Setelah ia sembuh dari sakitnya sendiri, akan timbul rasa bahwa “tanpa orang lain saya masih bisa bertahan hidup. Saya tidak butuh orang lain”.

Walaupun ada dorongan yang baik maupun tidak, semua orang dianggap tidak oke. Karena orang dengan sikap ini menganggap hanya dirinya sendirilah yang dapat memberikan dorongan pada dirinya. dari status ego orangtuanya untuk berlaku kejam. Semuanya berlandaskan rasa benci.

Untuk seorang anak dengan sikap SAYA OKE KAMU TIDAK OKE merupakan keputusan terbaik untuk melindungi dirinya sendiri. Dia menjadi tidak objektif. Dia selalu menyalahkan oranglain. Mereka menjadi tidak mempunyai ‘suara hati’. Mereka berpendapat mereka OKE dengan apapun yang mereka lakukan. Ini disebut kebebalan moril.

SAYA OKE KAMU OKE

Namun sikap keempat ini didasari pada pikiran, kepercayaan, dan untung-rugi perbuatan. Keputusan untuk menetapkan suatu sikap merupakan tugas pertama status ego dewasa pada anak dalam usahanya mengartikan makna hidupnya. Sikap sikap ini diputuskan atas dasar status ego orangtua dan kanak-kanaknya. Sikap ini didasarkan pada emosi atau kesan-kesan, tanpa dipengaruhi atau dipengaruhi data-data dari luar.Sikap hidup seperti sangatlah optimistik sifatnya. Sebab dari sikap yang kita ambil ini, tidak hanya diri kita yang terpengaruh oleh sikap SAYA OKE KAMUPUN OKE, namun seluruh orang disekitar kita juga bisa merasakan kekuatan positif sikap ini. Sikap seperti ini sangat dibutuhkan untuk orang yang bertindak sebagai motivator, para terapis, psikolog, psikiater, dan lainnya. Sebab dengan sikap hidup seperti ini kita bisa menyebarkan energi positif dan bisa merubah sikap hidup oranglain pula.

Bentuk Bentuk Transaksi

Complementary Transaction

Ini merupakan transaksi yang saling melengkapi, artinya komunikator dengan status egonya menerima respon dari komunikannya dengan status ego yang diinginkan oleh komunikator.

Contoh komunikasi yang sifatnya melengkapi

Status ego orangtua – status ego orang tua

Ransangan: Benar-benar keterlaluan para pejabat di negeri ini!

Tanggapan: Mereka memang goblok! Tak tahu diri!

Disini terjadi kepuasan setelah mencela orang lain. Karena pada rekaman status ego orangtua, mengkritik dan menyalahkan orang lain adalah OKE. Terdapat rasa puas jika kita menyalahi oranglain dan didukung oleh orang sekitar kita.

Dalam transaksi komplementer pada status ego kanak-kanak terjadi pengawasan yang dilakukan oleh status ego dewasa. Apabila tidak terjadi pengawasan maka yang akan timbul adalah transaksi silang.

Crossed Transaction

Transaksi jenis ini berisi bahwa komunikator tidak menerima tanggapan seperti apa yang iinginkan. Terjadinya kesalahpahaman dalam jenis transaksi bersilang ini sehingga mengalami kesulitan dalam hubungan.

Contoh dari transaksi bersilang

A: Ma, besok aku mau pergi main.

B: Tidak boleh! Lebih baik baca buku saja di rumah

 

A                           B

Ulterior Transaction

Adalah transaksi tersembunyi. Transaksi ini sangat menghambat kelancaran komunikasi. Misalnya seseorang mengatakn sesuatu yang menurut dirinya memperlihatkan status ego dewasanya. Sedangkan penerima menganggapnya sebahai status ego orangtua atau sebaliknya. Transaksi ini sulit terindentifikasi karena menyangkut pikiran terdalam seseorang.

 

Daftar Pustaka

Harris, Thomas A. 1987. Saya Oke Kamu Oke (I’m OK – You’re OK). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Berne, Eric. Games People Play: The psychology of human relationships

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.