communicationdomain

Archive for the ‘Komunikasi Antarpribadi’ Category

by: A.C.S.

 

PENDAHULUAN

Komunikasi Interpersonal (Interpersonal Communication) merujuk pada komunikasi yang terjadi secara langsung antara dua orang. Konteks ini sangat kaya akan hasil penelitian dan teori, dan mungkin merupakan konteks yang paling luas dibandingkan konteks lainnya. Konteks interpersonal banyak membahas tentang bagaimana suatu hubungan dimulai, bagaimana mempertahankan suatu hubungan, dan keretakan suatu hubungan (Berger, 1979; Dainton & Stafford, 2000).

Salah satu alasan mengapa peneliti dan teoritikus mempelajari relasi adalah karena relasi merupakan hal yang sangat kompleks dan beragam. Kita mungkin saat ini sedang berada dalam banyak relasi dengan orang lain, termasuk pasien-dokter, mahasiswa-dosen, orang tua-anak, supervisor-karyawan, dan sebagainya. Beronteraksi dalam tiap hubungan ini memberikan kesempatan kepada kmunikator untuk memaksimalkan fungsi berbagai macam saluran (penglihatan, pendengaran, sentuhan dan penciuman) untuk digunakan dalam sebuah interaksi. Dalam konteks ini, saluran-saluran ini berfungsi secara simultan bagi kedua partisipan interaksi: sebagai contoh, seorang anak mungkin akan menangis sambil berteriak mencari ibunya, dan ibunya akan menenangkan anaknya dengan elusan, memandang mata anaknya dan mendengarkan isakan mereka.

Konteks interpersonal sendiri terdiri atas beberapa subkonteks yang terkait. Peneliti komunikasi interpersonal telah mempelajari mengenai keluarga (Segrin & Flora, 2005), pertemanan (Chen, Dzewiecka, &Sias, 2001), pernikahan berusia panjang (Hughes & Dickson, dalam pers), hubungan dokter-pasien (Richmond, Smith, Heisel, & McCroskey, 2001), dan relasi di lingkungan kerja (Bruning, Castle, & Schrepfer, 2004). Selain itu, para peneliti juga tertarik akan banyak isu dan tema (contohnya, kompetensi, pembukaan diri, kekuasaan, gossip, kesukaan, ketertarikan, emosi dan sebagainya) berkaitan dengan hubungan-hubungan ini. Para peneliti juga mulai menaruh perhatian pada hubungan yang selama ini belum cukup diteliti, seperti hubungan gay dan lesbian, hidup bersama tanpa pernikahan, dan hubungan melalui jaringan computer (Galvin, 2004; Heinz, 2002; Peplau & Beals, 2004). Sebagaimana kita lihat, para peneliti telah menghasilkan banyak penelitian yang beraneka ragam dalam konteks komunikasi interpersonal, dan mempelajari hubungan serta apa yang terjadi di dalamnya memiliki daya tarik yang besar.

 

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Komunikasi antar pribadi mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut.

  • To learn about self, other, and world
  • To relate to others and to form relationship
  • To influence or control the attitudes and behavior of others
  • To play or enjoy one self
  • To help others

 

Salah satu fungsi komunikasi antar pribadi yang telah disebutkan diatas yaitu. To relate to others and to form relationship. Fungsi tersebut perlu didukung oleh teori-teori atau pendapat beserta contoh sehingga pernyataan atau proposisi yang telah disebutkan dapat diyakini secara ilmiah.

 

C. PEMBAHASAN

Setiap saat kita berinteraksi dengan manusia. Sebagian besar kegiatan komunikasi  yang kita lakukan adalah dalam konteks komunikasi interpersonal. Interaksi antarmanusia dilakukan dengan berkomunikasi. Tanpa komunikasi, interaksi antar manusia menjadi sesuatu hal yang muskil. Komunikasi interpersonal adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari. Komunikasi interpersonal tersebut berlangsung baik secara perorangan, kelompok maupun organisasi.

Berbicara dengan teman sekampus, menjawab pertanyaan dosen, mengirim pesan melalui SMS, menjawab e-mail dari seorang teman, memperbaiki hubungan dengan teman, putus hubungan dengan pacar, mengirim surat lamaran pekerjaan, memberikan perinta dan lain sebagainya merupakan komunikasi yang berlangsung dalam situasi komunikasi interpersonal. Memahami interaksi tersebut  merupakan bagian yang esensial dalam pokok bahasan ini.

Keahlian berkomunikasi interpersonal menjadi sesuatu yang mutlak dalam kehidupan manusia. Sebagi contoh, survey terhadap 1000 orang berumur diatas 18 tahun yang dilakukan di Amerika. Dalam survey tersebut 53% responden mengatakan ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif merupakan penyebab utama dari perceraian.

Selain itu, keahlian berkomunikasi interpersonal bagi para pekerja, manager maupun para professional juga memegang peranan penting. Sebuah studi yang dilakukan oleh Collegiate Employment Researches Institute of Michigan State University pada 500 pekerja, menyebutkan bahwa kemampuan berbicara dan menulis dengan baik, kemampuan berkomunikasi interpersonal dengan baik adalah kemampuan yang mutlak dimiliki oleh para lulusan.

 

Pengertian KAP

Dalam buku “The Interpersonal Communication Book” oleh Joseph A. Devito (1989), dijelaskan bahwa:

“Komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. (The process of sending and receiving messages between two persons, or among or small group of persons, with some effect and some immediate feedback)”

KAP mencakup aspek-aspek isi pesan dan relasi antarpribadi. Maksudnya isi pesan dipengaruhi oleh hubungan antara pihak yang berkomunikasi. Relasi antarpribadi adalah implikasi dari komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi mensyaratkan kedekatan fisik antar pihak yang berkomunikasi.

Dalam sudut pandang psikologis, KAP merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih yang memiliki tingkat kesamaan diri, misalnya mereka adalah mahasiswa komunikasi. Mereka secara individual dan serempak memperluas diri pribadi masing-masing dalam tindakan komunikasi melalui pemikiran, perasaan, keyakinan, atau dengan kata lain melalui proses psikologis mereka. Proses ini berlangsung terus menerus selama keduanya masih terlibat dalam komunikasi. Nantinya proses psikologis dari setiap individu pasti mempengaruhi komunikasi antarpribadi yang pada gilirannya juga mempengaruhi relasi antarpribadi.

Memahami komunikasi interpersonal secara mendalam, diperlukan pemahaman tentang karakteristik, bentuk dan fungsinya.

 

  • Karakteristik Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang (dyadic primacy), dua orang dalam suatu kelompok (dyadic coalitions) maupun hubungan antara dua orang dimana anda mempunyai kesadaran sebagai bagian dari sebuah hubungan (dyadic consciousness). Sebagai contoh : hubungan antara ibu dan anak, dua orang sahabat, sepasang kekasih, pegawai dengan atasannya dst. Komunikasi interpersonal juga dapat berlangsung antara orang asing atau orang yang tidak dikenal ketika ingin menanyakan situasi sekitarnya. Jadi tidak selalu terjadi antara dua orang yang kenal akrab.

 

  • Bentuk Komunikasi Interpersonal

Seringkali komunikasi interpersonal dilakukan secara langsung atau tatap muka.Berbicara dengan teman, berbagi rahasia dengan sahabat, bertukar cerita di meja makan adalah salah satu interaksi yang sering kita lakukan secara langsung. Berkat kemajuan teknologi kita dimungkinkan melakukan percakapan secara on-line. Komunikasi on-line yang utama adalah e-mail, kelompok milis dan chat-group.

Dalam e-mail kita biasanya menuliskan pesan pada sebuah program e-mail dan megirimkannya dari komputer kita melalui modem yang menyalurkan pesan melalui serangkaian jaringan komputer menuju alamat orang yang kita tuju.

Kelompok milis terdiri atas sekelompok orang yang tertarik pada topik tertentu dan berkomunikasi melalui e-mail. Secara umum kita mendaftar pada sebuah list dan berkomunikasi dengan semua anggotanya melalui alamat e-mail pada saat yang bersamaan.

Chat group, terutama MIRC, merupakan kelompok dimana anggotanya dapat berkomunikasi secara langsung dalam kelompok. Terdapat ribuan grup yang berbeda, sehingga kita dapat menemukan topic yang kita sukai. Baik chat group maupun milis memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak pernah kita temui sebelumnya. Selain itu kita juga dapat belajar aturan-aturan maupun norma-norma budaya dari grup tersebut.

Fungsi Komunikasi Interpersonal

Fungsi komunikasi interpersonal diantaranya adalah :

  1. Sebagai sarana pembelajaran. Melalui komunikasi interpersonal kita belajar untuk lebih memahami dunia luar atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini. Walaupun sebagian besar informasi tersebut kita dapatkan melalui media massa, informasi tersebut dapat kita bicarakan melalui komunikasi interpersonal.
  2. Mengenal diri sendiri dan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal kita dapat mengenal diri kita sendiri. Dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada orang lain, kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Persepsi diri kita sebagian besar merupakan hasil interkasi kita dengan orang lain.
  3. Komunikasi interpersonal membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk sosial, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.
  4. Melalui komunikasi interpersonal kita dapat mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan.
  5. Melalui komunikasi interpersonal kita dapat mengakrabkan diri kita dengan orang lain.
  6. Bermain dan mencari hiburan. Dalam berkomunikasi tidak selamanya kita selalu berusaha mempengaruhi orang lain. Kita berkomunikasi juga untuk memperoleh kesenangan. Bercerita tentang film yang kita tonton, melontarkan lelucon, membicarakan hobi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperolah hiburan.

Fungsi KAP yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah point ke-3 fungsi komunikasi interpersonal tersebut diatas. To relate to others and to form relationships. Saya ulangi, komunikasi interpersonal membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk sosial, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.

Fungsi komunikasi interpersonal tersebut dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu :

  1. Fungsi tersebut dapat dilihat sebagai motivasi untuk melakukan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, kita melakukan komunikasi interpersonal untuk memenuhi kebutuhan dalam membentuk suatu hubungan.
  2. Fungsi tersebut dapat dilihat sebagai hasil yang ingin dicapai dari komunikasi interpersonal. Dengan demikian, kita melakukan komunikasi interpersonal untuk mengenal diri kita sendiri lebih baik, mengenal orang lain secara lebih baik pula, maupun untuk membuat hubungan yang lebih bermakna dan memperolah pengetahuan tentang dunia luar.

 

Hubungan Interpersonal

Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. “Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting,” tulis Anita Taylor et al. (1977:187). “Banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik di antara partisipan komunikasi. Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan yang jelek.”

Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan; kita juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Bukna hanya menentukan “content” tetapi juga “relationship”.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini. isinya sama: menanyakan nama, tetapi kadar hubungan interpersonal di dalamnya berbeda.

Sebutkan nama kamu !

Siapa nama Anda?

Bolehkah saya tahu siapa nama Bapak?

Sudi kiranya Bapak berkenan menyebutkan nama Bapak!

Kalimat-kalimat yang kita gunakan, sekali lagi, bukan hanya menyampaikan isi, tetapi juga mendefnisikan hubungan interpersonal.

Pandangan bahwa komunikasi mendefinisikan hubungan interpersonal telah dikemukakan Ruesch dan Bateson (1951) pada tahun 1950-an. Gagasan ini dipopulerkan di kalangan komunikasi oleh Watzlawick, Beavin dan Jackson (1976) dengan buku mereka Pragmatics of Human Communivation. Mereka melahirkan istilah baru untuk menunjukkan aspek hubungan dari pesan komunikasi ini – metakomunikasi. Mereka  menulis, “Every communication has content and a relationship aspect such that the latter classifies the former and is therefore metacommunications” (1976:154). Perlahan-lahan studi komunikasi interpersonal bergeser dari isi pesan pada aspek relational. Ada yang menyebutkan focus ini sebagai paradigm baru dalam penelitian komunikasi. Kini, kaum komunikolog menggeserkan perhatian “from the individual as the unit of analysis to the relationship as the unit of analysis (Parks and Wilmot, 1975:9). Gerarld R. Miller dalam kata pengantar yang dituliskan untuk buku Explorations in interpersonal Communication menyatakan:

Understanding the interpersonal communication process demands an understanding of the symbiotic relationship between communication and relational development: communication influences relational development, and in turn (simultaneously), relational development influences the nature of communication between parties to the relationship (Miller, 1976:15).

(Memahami proses komunikasi interpersonal menuntut pemahaman hubungan simbiotis antara komunikasi dengan perkembagan relasional: Komunikasi mempengaruhi perkembagan relasional, dan pada gilirannya (secara serentak), perkembangan relational mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut).

Para psikolog pun mulai menaruh minat yang besar pada hubungan interpersonal seperti tampak pada tulisan Fordon W. Allport (1960), Erich Fromm (1962), Martin Buber (1975) mengembangkan apa yang disebut sebagai ”relationship-enchancement methods” (metode peningkatan hubungan) dalam psikoterapi. Ia merumuskan metode ini dengan tiga prinsip: Makin baik hubungan interpersonal,

  1. Makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya.
  2. Makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog), dan
  3. Makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya.

Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara komunikan.

 

PENGEMBANGAN HUBUNGAN

Barangkali tidak ada yang lebih penting bagi kita selain kontak atau hubungan dengan sesama manusia. Begitu pentingnya kontaj ini sehingga bila kita tidak berhubungan dengan orang lain dalam waktu yang lama, rasa tertekan akan timbul, rasa ragu terhadap diri sendiri muncul, dan orang merasa sulit untuk menjalani kehidupan sehari-harinya. Desmond Morris, dalam Intimete behavior (1972), mencatat bahwa kontak dengan orang lain begitu pentingnya sehingga kultur kita telah membentuk segala macam subtitusi untuk menggantikan ketiadaan hubungan ini. Orang seringkali mengunjungi profesional seperti dokter, perawat, dan pemijat bukan karena sakit fisik, melainkan karena kebutuhan untuk kontak.

Setiap hubungan bersifat unik. Begitu juga, masing-masing dari kita membina hubungan karena alasan-alasan yang unik. Berikut beberapa alasan umum untuk mengembangkan sebagian besar hubungan: Mengurangi kesepian, mendapatkan rangsangan, mendapatkan pengetahuan-diri, dan memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan.

 

Mengurangi Kesepian

Kontak dengan sesama manusia mengurangi kesepian. Adakalanya kita mengalami kesepian karena secara fisik kita sendirian, walaupun kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Kali lain kita kesepian karena, meskipun mungkin kita bersama orang lain, kita mempunyai kebutuhan yang terpenuhi akan kontak yang dekat-kadang-kadang secara fisik, adakalanya secara emosional, dan lebih sering lagi kedua-duanya (Peplau & Periman, 1982; Rubenstein & Shaver, 1982).

Sementara orang, dalam upaya mengurangi kesepian, berusaha melingkungi dirinya dengan banyak kenalan. Kadang-kadang ini membantu, tetapi seringkali malah membuat rasa sepi makin parah. Satu hubungan yang dekat biasanya malah lebih baik. Kebanyakan diri kita mengetahui hal ini, dan itulah sebabnya kita berusaha membina hubungan antarpribadi (Perlman & Peplau, 1981).

 

Mendapatkan Rasangan

Manusia membutuhkan stimulasi. Jika kita tidak menerima stimulasi, kita mengalami kemunduran dan bisa mati. Kontak antarmanusia merupakan salah satu cara terbaik untuk mendapatkan stimulasi ini. Kita merupakan gabungan dari banyak dimensi yang berbeda-beda, dan semua dimensi kita embutuhkan atimulasi. Kita adalah makhluk intelektual, dan karenanya kita membutuhkan stimulasi intelektual. Kita membicarakan gagasan, mengikuti kegiatan kelas, dan berdebat tentang interpretasi yang berbeda mengenai film atau novel. Dengan cara itu kita mengasah kemampuan penalaran, analitik,dan interpretasi kita. Dengan melakukannya, kita meningkatkan, mempertajam, dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ini.

Kita juga makhluk fisik yang membutuhkan stimulasi fisik. Kita butuh membelai dan dibelai,memeluk dan juga dipeluk. Selanjutnya, kita adalah makhluk emosional yang membutuhkan stimulasi emosional. Kita perlu tertawa dan menangis, dan membutuhkan harapan dan kejutan, dan mengalami kehangatan dan afeksi. Kita membutuhkan latihan untuk emosi kita selain juga untuk kemampuan intelektual kita.

 

Mendapatkan Pengetahuan-Diri

Sebagian besar melalui kontak dengan sesama manusialah kita belajar mengeni diri kita sendiri. Dalam diskusi tentang kesadaran-diri telah dijelaskan bahwa kita melihat diri sendiri sebagian melalui mata orang lain. Jika kawan-kawan kita melihat kita sebagai orang yang hangat dan pemurah, misalnya, barangkali kita juga akan memandang diri sendiri sebagai hangat dan pemurah. Persepsi-diri kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini dipikirkan orang tentang diri kita.

 

Memaksimalkan Kesenagan, Meminimalkan Penderitaan

Alasan paling umum untuk membina hubungan, dan alasan yang dapat mencakup semua alasan yang lainnya, adalah bahwa kita berusaha berhubungan dengan manusia lain untuk memaksimalkan kesenangan kita dan meminimalkan penderitaan kita. Kita perlu berbagi rasa dengan orang lain mengenai nasib baik kita serta mengenai penderitaan emosi atau fisik kita. Barangkali kebutuhan yang terakhir ini bermula di masa kanak-kanak, ketika anda berlari mendekati ibu sehingga beliau dapat mengecup luka anda atau ikut menikmati kegembiraan anda. Sekarang anda sulit untuk berlari mendekati ibu, karenannya anda mencari orana lain, umumnya kawan-kawan yang akan memberikan dukungan yang sama seperti yang pernah dilakukan ibu di waktu yang lalu.

 

TEORI-TEORI HUBUNGAN INTERPERSONAL

Berjuta-juta dolar telah dihasilkan oleh para penulis buku mengenai bagaimana untuk memulai, mengembangkan, dan mempertahankan hubungan interpersonal. Sebagaimana dapat kita lihat, berbagai hubungan kita dengan teman, keluarga, mitra/pasangan, rekan kerja, pemuka agama, dan yang lainnya dipenuhi dengan dinamika. Karena pentingnya hubungan interpersonal ini, kita akan membicarakan beberapa teori tentang hubungan interpersonal. Teori-teori ini memberikan perspektif untuk memandang proses hubungan interpersonal dan memberikan penjelasan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan interpersonal. Selanjutnya kita akan membicarakan tahap-tahap hubungan interpersonal dan tiga faktor dalam komunikasi interpersonal yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik: Percaya (trust), sikap suportif (supportiveness), dan sikap terbuka (open-mindedness).

 

TEORI KEBUTUHAN HUBUNGAN INTERPERSONAL

Teori sistem dan komunikasi dalam hubungan Salah sastu bagian dalam lapangan komunikasi yang dikenal sebagai relational communication sangat dipengaruhi oleh teori sistem. Inti dari kerja ini adalah asumsi bahwa fungsi komunikasi interpersonal untuk membuat, membina, dan mengubah hubungan dan bahwa hubungan pada gilirannya akan mempengaruhi sifat komunikasi interpersonal.
Point ini berdasar pada gagasan bahwa komunikasi sebagai interaksi yang menciptakan struktur hubungan. Dalam keluarga misalnya, anggota individu secara sendirian tidak membentuk sebuah sistem, tetapi ketika berinteraksi antara satu dengan anggota lainnya, pola yang dihasilkan memberi bentuk pada keluarga. Gagasan sistem yang penting ini secara luas diadopsi dalam lapangan komunikasi.

Proses dan bentuk merupakan dua sisi mata uang; saling menentukan satu sama lain. Seorang Antropolog Gregory Bateson adalah pendiri garis teori ini yang selanjutnya dikenal dengan komunikasi relasional. Kerjanya mengarah pada pengembangan dua proposisi mendasar pada mana kebanyakan teori relasional masih bersandar. Pertama yaitu sifat mendua dari pesan: setiap pertukaran interpersonal membawa dua pesan, pesan “report” dan pesan “command”. Report message mengandung substansi atau isi komunikasi, sedangkan command message membuat pernyataan mengenai hubungan. Dua elemen ini selanjutnya dikenal sebagai “isi pesan” dan “pesan hubungan”, atau “komunikasi” dan “metakomunikasi”.

Pesan report menetapkan mengenai apa yang dikatakan, dan pesan command menunjukkan hubungan diantara komunikator. Isi pesan sederhana seperti “I love you” dapat dibawakan dalam berbagai cara, dimana masing-masing mengatakan sesuatu secara berbeda mengenai hubungan. Frasa ini dapat dikatakan dalam cara yang bersifat dominasi, submissive, pleading (memohon), meragukan, atau mempercayakan. Isi pesannya sama, tetapi pesan hubungan dapat berbeda pada tiap kasus.

Proposisi kedua Bateson yaitu bahwa hubungan dapat dikarakterisasi dengan komplementer atau simetris. Dalam hubungan yang komplementer, sebuah bentuk perilaku diikuti oleh lawannya. Contoh, perilaku dominan seorang partisipan memperoleh perilaku submissive dari partisipan lain. Dalam symmetry, tindakan seseorang diikuti oleh jenis yang sama. Dominasi ketemu dengan sifat dominan, atau submissif ketemu dengan submissif.

Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur dalam sistem. Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki. Sistem yang mengandung serangkaian pesan submissif akan sangat berbeda dengan yang mengandung rangkaian pesan yang besifat dominasi. Dan struktur pesan yang mencampur keduanya adalah berbeda pula. Meski Bateson seorang pakar antropologi, gagasannya dengan cepat dibawa kedalam psikiatri dan diterapkan pada hubungan patologis. Beberapa peneliti komunikasi memanfaatkan kerja Bateson dan kelompoknya. Aubrey Fisher, salah satu yang dikenal baik dari kelompok ini, sebagai pemimpin teoritisi sistem.

Dalam buku Perspectives on Human Communication dia menerapkan konsep sistem kedalam komunikasi. Analisa Fisher dimulai dengan perilaku seperti komentar verbal dan tindakan nonverbal sebagai unit terkecil analisa dalam sistem komunikasi. Perilaku yang dapat diamati ini dapat dilihat atau didengar dan merupakan satu-satunya ekspresi pemikiran bagi keterhubungan individu dalam sistem komunikasi. Dari sudut pandang sistem, perilaku itu sendiri adalah apa yang dihitung, dan struktur hubungan terdiri atas pola perilaku yang tersusun ini. Dengan kata lain, hubungan kita dengan orang lain ditentukan oleh bagaimana kedua kita bertindak dan apa yang kita katakan.

Pola komunikasi dibentuk oleh sekuen tindakan. Ketika kita berkomunikasi kita bertindak dan bereaksi dalam sekuen, jadi interaksi adalah arus pesan. Fisher percaya bahwa arus bicara dengan dirinya sendiri mengatakan sedikit mengenai komunikasi, sehingga harus dipecah kedalam unit-unit yang mengandung tindakan dan respon. Fisher mengembangkan metode untuk mengetahui semua pola percakapan, yang terdiri atas pesan-pesan penyandian, sehingga pola respon dapat ditetapkan.
Unit yang paling dasar dari komunikasi dipakai Fisher adalah interact, atau rangkaian dua pesan yang bersambungan diantara dua orang. Contohnya yaitu pertanyaan dari orang pertama diikuti oleh jawaban dari orang kedua. Pertanyaan yang diikuti oleh jawaban akan berbeda dari permintaan yang diikuti persetujuan.

Permintan yang diikuti oleh penawaran adalah berbeda dari suggestion atau saran yang diikuti oleh keberatan. Interaksi dikombinasikan kedalam unit yan glebih besar disebut double interact (tiga tindakan), dan selanjutnya dikombinasi lagi kedalam triple interact (empat tindakan). Struktur dari keseluruhan interaksi merupakan rangkaian interaksi yang makin lama makin membesar. Kebanyakan kerja Fisher melibatkan pembuatan keputusan dalam kelompok kecil. Dalam risetnya dia menyandi apa yang orang katakan dalam diskusi kelompok dan menganalisa interaksi ini dalam cara yang seluruh pola, atau struktur dari diskusi dapat digambarkan. Fisher menunjukkan bagaimana interaksi berkombinasi dengan bentuk fase pemuatan keputusan kelompok.

Diantara periset yang terkenal dalam komunikasi relasional adalah Edna Rogers dan Frank Millar. Kerja Millar dan Rogers merupakan aplikasi langsung dari gagasa Bateson dan konsisten dengan teori Fisher. Secara khusus, mereka bertanggung jawab bagi pengembangan metode riset mengenai pengkode-an dan pengelompokan pola relasional. Seperti Fishe, Millar dan Rogers mengamati percakapan dan kode tindakan komunikasi dalam suatu cara yang membiarkan mereka menemukan pola yang diciptakan melalui interaksi. Dari risetnya mereka mengembangkan teori yang menunjukkan bagaimana hubungan mengandung struktur kontrol, kepercayaan, dan keakraban.

 

SELF DISCLOSURE

Self disclosure atau proses pengungkapan diri yang telah lama menjadi focus penelitian dan teori komunikasi mengenai hubungan, merupakan proses mengungkapkan informasi pribadi kita kepada orang lain dan sebaliknya. Sidney Jourard (1971) menandai sehat atau tidaknya komunikasi antar pribadi dengan melihat keterbukaan yang terjadi dalam komunikasi. Mengungkapkan yang sebenarnya mengenai diri kita kepada orang lain yang juga bersedia mengungkapkan yang sebenarnya tentang dirinya, dipandang sebagai ukuran dari hubungan yang ideal.

Ahli lain Joseph Luft (Reardon; 1987;163) mengemukakan teori self disclosure yang didasarkan pada model interaksi manusia, yang disebut Johari Window. Menurut Luft, orang memiliki atribut yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, hanya diketahui oleh orang lain, diketahui oleh dirinya sendiri dan orang lain dan tidak diketahu oleh siapapun. Jenis-jenis pengetahuan ini menunjuk pada keempat kuadran dari Johari Window. Idealnya, kuadran satu yang mencerminkan keterbukaan akan semakin membesar/meningkat.

Jika komunikasi antara dua orang berlangsung dengan baik, maka akan terjadi disclosure yang mendorong informasi mengenai diri masing-masing kedalam kuadran “terbuka”. Kuadaran 4 sulit untuk diketahui, tetapi mungkin dapat dicapai melalui kegiatan seperti refleksi diri dan mimpi.

Meskipun self-disclosure mendorong adanya keterbukaan, namun keterbukaan sendiri ada batasnya. Artinya perlu kita pertimbangkan kembali apakah menceritakan segala sesuatu tentang diri kita kepada orang lain akan menghasilkan efek positif bagi diri kita dengan orang tersebut. Bebrapa penelitian menunjukan bahwa keterbukaan yang ekstrim akan memberikan efek negative bagi hubungan.

Seperti dikemukakan oleh Shirley Gilbert (Littlejohn;1989; 161) bahwa kepuasan dalam hubungan dan disclosure memiliki hubungan kurvalinear, yaitu tingkat kepuasanmencapai titik tertinggi pada tingkat disclosure yang sedang (moderate).

 

TEORI PERTUKARAN SOSIAL

Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan mempengaruhi kontribusi orang lainnya. Thibaut dan Kelley, pencetus teori ini, mengemukakan bahwa yang mengevaluasi hubungannya dengan orang lain. Dengan mempertimbangkan konsekuensinya, khususnya terhadap ganjaran yang diperoleh dan upaya yang telah dilakukan, orang akan tetap memutuskan untuk tetap tingal dalam hubungan tersebut atau meninggalkannya (mempertahankan hubungan datau mengakhirinya). Ukuran bagi keseimbangan antara ganjaran dan upaya ini disebut comparisons level, dimana di atas ambang ukuran tersebut orang akan merasa puas dengan hubungannya. Misalnya kita beranggapan bahwa dasar dari persahabatan adalah kejujuran. Kita mengetahui bahwa sahabat kita berusaha untuk menipu, maka kita akan mempertimbangkan kembali hubungan persahabayan dengannya. Mungkin kita akan memutuskan untuk mengakhiri hubungan demi kebaikan, dengan kejujuran sebagai ambang ukuran, kita merasa bahwa ganjaran yang kita peroleh tidak sesuai dengan upaya kita untuk mempertahankan kejujuran dalam hubungan.

Sementara itu comparison level of alternatives merupakan hasil terendah/terburuk dalam konteks ganjaran dan upaya yang dapat ditolerir seseorang dengan mempertimbangkan alternative-alternatif yang dia miliki. Jika seseorang tidak banyak memiliki alternative hubungan maka dia akan memberikan standar yang cukup itu seringkali dirasakan merugikan bagi dirinya, namun karena tidak banyak memiliki alternative hubungan, dia akan berusaha mempertimbangkan hubungan tersebut. Sedangkan orang yang banyak memiliki alternative akan lebih mudah meninggalkan suatu hubungan bila dirasakan bahwa hubungan tersebut sudah tidak memuaskan lagi. Konsekuansi suatu hubungan dan konsekuaensi yang digunakan akan berubah seiring dengan perjalanan hubungan tersebut.

Roloff (1981) mengemukakan bahwa asumsi tentang perhitungan antara ganjaran dan upaya (untung-rugi) tidak berarti bahwa orang selalu berusaha untuk saling mengeksploitasi, tetapi bahwa orang lebih memilih lingkungan dan hubungan yang dapat memberikan hasil yang diinginkannya. Tentunya kepentingan masing-masing orang akan dapat dipertemukan untuk dapat saling memuaskan daripada hubungan yang eksploitatif. Hubungan yang ideal akan terjadi bilamana kedua belah pihak dapat saling memberikan cukup keuntungan sehingga hubungan menjadi sumber yang dapat diandalkan bagi kepuasan kedua belah pihak.

 

TEORI PENETRASI SOSIAL

Salah satu proses yang paling luas dikaji atas perkembangan hubungan adalah penetrasi sosial. Secara garis besar, ini merupakan ide bahwa hubungan menjadi labih akrab seiring waktu ketika patner memberitahukan semakin banyak informasi mengenai mereka sendiri. Selanjutnya, social penetration merupakan proses peningkatan disclosure dan keakraban dalam hubungan.

Gerald Miller dan rekannya secara literal mengartikan komunikasi interpersonal dalam term penetrasi. Semakin bertambah yang saling diketahui oleh masing-masing komunikator, semakin bertambah karakter interpersonal yang berperan dalam komunikasi mereka. Semakin sedikit yang mereka ketahui tiap personnya, semakin impersonal komunikasi itu. Komunikasi interpersonal karenanya merupakan beragam proses penetrasi sosial. Teori penetrasi sosial yang paling terkenal yaitu milik Altman dan Taylor.

Original Social Penetration Theory. Irwin Altman dan Dalmas Taylor mengenalkan istilah penetrasi sosial. Manurut teori mereka, karena hubungan itu berkembang, komunikasi bergerak dari level yang relatif sedikit dalam, tidak akrab, menuju level yang lebih dalam, lebih personal. Personalitas komunikator dapat diperlihatkan melalui lingkungan dengan lapisan tiga dimensi; memiliki jarak (breadth) dan kedalaman (depth). Breadth merupakan susunan yang berurutan atau keragaman topik yang merasuk kedalam kehidupan individu. Depth adalah jumlah informasi yang tersedia pada tiap topik. Pada jarak terjauh akan merupakan level komunikasi yang dapat dilihat, seperti berpakaian dan bicara. Didalamnya merupakan detil privat yang meningkat mengenai kehidupan, perasaan, serta pikiran partisipan. Karena hubungan itu berkembang, patner berbagi lebih banyak atas diri, menyediakan breadth sebaik depth, melalui pertukaran informasi, perasaan dan aktivitas.

Komunikasi kemudian dibantu oleh pemakaian level-level. Pada saat level tertentu tercapai, dibawah kondisi yang memungkinkan sepasang patner berbagi dalam meningkatkan breadth pada level tersebut. Contohnya, setelah kencan beberapa saat pasangan yang menikah bisa mulai mendiskusikan tindakan berpasangan selanjutnya, dan makin bertambah informasi mengenai langkah berpasangan selanjutnya akan diperlihatkan / diberitahu sebelum bergerak bahkan menuju level disclosure yang lebih dalam semisal sejarah seksual.

Teori Altman dan Taylor didasarkan dalam sebagian besar dari satu ide yang paling populer dalam ilmu sosial –bahwa hubungan akan berhasil ketika secara relatif memperoleh ganjaran (rewarding) dan akan berhenti ketika secara relatif mengeluarkan biaya (cost). Proses ini dikenal sebagai pertukaran sosial. Menurut Altman dan Taylor, pasangan relasional bukan hanya mengandung reward dan cost atas hubungan pada saat tertentu, tetapi juga menggunakan informasi yang mereka cari untuk meramalkan reward dan cost di waktu mendatang.

Jika patner menilai bahwa reward secara relatif lebih besar dari cost, mereka akan beresiko lebih banyak disclosure yang mempunyai potensi gerakan partisipan menuju level keakraban yang lebih dalam. Semakin besar reward yang diketahui relatif terhadap cost, semakin cepat penetrasi. Altman dan Taylor menemukan bahwa penetrasi tercepat cenderung terjadi dalam langkah awal perkembangan ketika reward cenderung malampaui cost.

Terdapat empat langkah perkembangan hubungan. Orientation mengandung komunikasi impersonal, dimana seseorang memberitahu hanya informasi yang sangat umum mengenai dirinya sendiri. Jika tahap ini menghasilkan reward pada partisipan, mereka akan bergerak menuju tahap berikutnya, the exploratory affective exchange , dimana perluasaan / ekspansi awal informasi dan gerakan menuju level lebih dalam dari disclosure itu terjadi. Tahap ketiga, affective exchange memusatkan pada perasaan evaluatif dan kritis pada level yang lebih dalam. Tahap ini tidak akan dimasuki kecuali jika patner menyadari reward substansial yang relatif terhadap cost dalam tahap lebih awal. Akhirnya, stable exchange adalah keakraban yang sangat tinggi dan mengijinkan patner untuk meramalkan setiap tindakan pihak lain dan menanggapinya dengan sangat baik.

Altman dan Taylor menunjukkan bahwa perkembangan hubungan bukan hanya melibatkan peningkatan penetrasi sosial. Juga terlalu sering melibatkan keakraban yang menurun, ketidakteraturan, dan tanpa solusi. Altman dan Taylor menyarankan bahwa reward terkurangi dan cost meningkat pada level komunikasi yang lebih akrab, proses penetrasi sosial akan terbentuk dan hubungan akan mulai mengambil bagian.

Modifikasi terhadap penetrasi sosial. Teori penetrasi sosial orisinal penting dalam memusatkan perhatian kita pada pengembangan hubungan sebagai proses komunikasi. Terdapat banyak kebenaran terhadap ide bahwa hubungan menjadi lebih dekat jika informasi dibagi, dan bahwa perkembangan secara parsial merupakan proses peningkatan keakraban. Pada saat yang sama, teori original tersebut dianggap terlalu sederhana. Kebanyakan siswa perkembangan hubungan sekarang ini percaya bahwa penetrasi sosial sifatnya berputar, sebagai proses dialektis. Disebut berputar ( cyclical ) sebab berlangsung dalam bentuk siklus timbal-balik, serta disebut bersifat dialektis karena melibatkan pengaturan pertentangan / ketegangan antara lawan-lawannya.

Sebuah dialectic adalah ketegangan antara dua atau lebih elemen yang berlawanan dalam sistem yang pada akhirnya kadang-kadang meminta resolusi. Analisa dialektis melihat cara sistem berkembang atau berubah, bagaimana ia bergerak, dalam merespon ketegangan. Dan ia melihat strategi tindakan yang dipakai sistem untuk menyelesaikan kontradiksi.

Altman dan rekannya sekarang menyatakan bahwa dialektik ini biasanya diatur dalam sebuah istilah panjang hubungan oleh semacam siklus yang dapat diramalkan. Dengan kata lain, karena hubungan itu berkembang, keterbukaan dan ketertutupan yang berputar pada pasangan nikah mempunyai pengaturan tertentu atau ritme yang dapat diramalkan. Pada saat yang sama, dalam beberapa hubungan yang dikembangkan, perputaran yang terjadi lebih besar dibadingkan hubungan yang kurang dikembangkan. Hal ini sebab, konsisten dengan perkiraan dasar teori penetrasi sosial, hubungan yang dikembangkan rata-rata lebih diterima.

Untuk mengetes ide ini, analisa Arthur VanLear menunjukkan bahwa dalam percakapan pasangan nikah siklus keterbukaan terjadi dan beberapa sinkronisasi juga terjadi. Sebagai perbandingan, juga diamati kelompok pelajar yang ternyata juga mencerminkan hal yang sama. Kedua kajian tersebut menunjukkan bahwa siklus tersebut terjadi, bahwa sifatnya kompleks, bahwa patner mengenal siklus mereka, dan bahwa penggabungan dan sinkronisasi seringkali terjadi. Penting untuk dicatat, ternyata bahwa jumlah sinkroni tidak sama pada tiap pasangan, yang berarti bahwa terdapat perbedaan antar pasangan dalam kemampuan mereka untuk mengkoordinasi siklus self-disclosure.

 

TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN

Edie Banks dan Malcolm Rogers mengambil kelas filsafat yang sama di Universitas Urban dan terdaftar di bagian yang sama. Hingga hari ini, mereka belum berbicara satu sama lain, meskipoun mereka selalu bertemu di kelas setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat selama tiga bulan terakhir.malcolm telah mengamati Edie dan berpikir bahwa Edie adalah gadis yang menarik. Hari ini, ketika Edie meninggalkan kelas, ia melihat Malcolm memandangnya dari sudut ruangan di mana ia duduk dengan teman-temannya. Edie merasa sedikit tidak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh Malcolm, dan ia bergegas keluar dari ruangan kelas.

Sayangnya, teman Edie, Maggie, menghentikannya di depan pintu dengan sebuah pertanyaan mengenai tugas untuk minggu depan, sehingga Edie dam Malcolm mencapai lorong pada waktu bersamaan. Terdapat keheningan sesaat yang membuat rikuh ketika mereka tersenyum dengan ragu terhadap satu sama lain. Malcolm mendehem dan berkata, ”Hai. Hari ini pelajarannya cukup menarik, bukan?” Edie mengangkat bahunya, tersenyum kembali, dan menjawab, ”Saya tidak yakin mengerti apa yang diajarkan dalam kelas itu. Saya mengambil jurusan teknik, dan kelas ini hanyalah kelas pilihan untuk saya. Kadang saya berpikir mungkin sebaiknya saya mengambil kelas boling saja.: Malcolm tersenyum dan berkata, ”Saya cukup gembira semenjak memutuskan untuk mengambil filsafat. Tetapi mungkin saya akan memiliki reaksi yang sama denganmu jika saya berada di kelas teknik! Saya bahkan mungkin tidak dapat memahami hal yang sangat sederhana di sana.” Keduanya tertawa untuk beberapa saat. Kemudian Edie berkata, ”Saya harus pergi. Sampai ketemu lagi,” dan ia buru-buru melintasi lorong.

Malcolm berjalan ke kelas berikutnya dengan bertanya-tanya apakah mereka akan berbicara lagi, apakah Edie sedang merendahkan pilihan jurusannya, apakah Edie berpikir ia telah berkata tidak sopan mengenai jurusan pilihan Edie, apakah Edia menyukainya, apakah ia menyukai Edie, atau apakah Melcolm peduli dengan semua itu.

Kadang kala disebut teori Interasksi Awal (Initial Interaction Theory), Teori Pengurangan Ketidak Pastian (Uncertainty Reduction Theory-URT) dipelopori oleh Charles Berger dan  Richard Calabrese pada tahun 1975. Tujuan mereka dalammenyusun teori ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian di antara orang asing yang terlibat dalam pembicaraan satu sama lain untuk pertama kali. Berger dan Calabrese yakin bahwa ketika orang asing pertama kali bertemu, utamanya mereka tertarik untuk meningkatkan prediktibilitas dalam usaha untuk memahami pengalaman komunikasi mereka.

Ketika orang asing bertemu, fokus utama mereka adalah mengurangi tingkat ketidakpastian mereka dalam situasi tersebut karena ketidakpastian menyebabkan ketidaknyamanan. Orang dapat mengalami ketidakpastian pada dua level yang berbeda: perilaku dan kognitif. Mereka mungkin tidak yakin akan bagaimana harus berperilaku (atau bagaimana orang lain akan berperilaku), dan mereka mungkin juga tidak yakin apa yuang mereka pikirkan mengenai orang lain dan apa yang orang lain pikirkan mengenai mereka. Tingkat ketidakpastian yang tinggi dihubungkan dengan beragam perilaku verbal dan nonverbal.

AsumsinTeori Pengurangan Ketidakpastian

Asumsi-asumsi berikut ini membingkai teori ini:

  • Orang mengalami ketidakpastian dalam latar interpersonal.
  • Ketidakpastian adalah keadaan yang tidak mengenakkan, menimbulkan stres secara kognitif.
  • Ketika orang asing bertemu, perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka atau meningkatkan prediktibilitas.
  • Komunikasi Interpersonal adalah sebuah proses perkembangan yang terjaddi melalui tahapan-tahapan.
  • Komunikasi Interpersonal adalah alat yang utama untuk mengurangi ketidakpastian
  • Kuantitas dan sifat informasi yang dibagi oleh orang akan berubah seiring berjalannya waktu.
  • Sangat mungkin untuk menduga perilaku orang dengan menggunakan cara seperti hukum.

Tiap asumsi akan dibahas secara singkat. Pertama, di dalam sejumlah latar interpersonal, orang merasakan ketidakpastian. Karena terdapat harapan berbeda-beda mengenai kejadian interpersonal, maka masuk akal untuk menyimpulkan bahwa orang merasakan ketidakpastian atau bahkan cemas untuk bertemu orang lain. Sebagaimana dikatakan Berger dan Calabrese (1975), ”Ketika orang tidak mampu untuk memahami lingkunagan, mereka biasanya menjadi cemas”. Pertimbangkan kecemasan Malcolm ketika dia bertemu Edie setelah kelas berakhir sebagai contoh. Berger dan Calabrase menyatakan bahwa ia mengalami ketidakpastian ketika bertemu Edie, seorang teman sekelas yang membuatnya tertarik. Meskipun banyak tanda-tanda di sekitar yang membantu Malcolm untuk memahami interaksinya dengan Edie, terdapat juga banyak faktor yang menyulitkan. Contohnya, Malcolm mungkin melihat ketergesaan Edie untuk meninggalkan kelas. Terdapat beberapa alternatif penjelasa untuk perilaku ini, misalnya Edia masih menghadapi kelas lain yang jaraknya cukup jauh, suatu dugaan yang cukup umum mengenai ketergesaan seseorang seseorang, atau ia harus pergi ke kamar kecil, merasa lemas dan membutuhkan udara segar, ingin menghindari bertemu Malcolm di pintu, dan sebagainya. Dengan adanya semua alternatif ini, sangat mungkin bahwa Malcolm (atau orang lain dalam situasinya) merasa tidak pasti bagaimana menginterpretasikan perilaku Edie.

Asumsi kedua menyarankan bahwa ketidakpastian merupakan keadaan yang tidak engenakkan. Denan kata lain, berada d\i dalam ketidak pastian membutuhkan energi emosional dan psikologis yang tidak sedikit.

Asumsi berikutnya mengenai URT mengusung pertanyaan bahwa ketika orang asing bertemu, terdapat dua hal yang penting: mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan prediktibilitas. Sekilas, pernyataan ini terdengar wajar, tapi, sebagaimana disimpulkan oleh Berger (1995), ”Selalu terdapat kemungkinan bawa mitra berbicara seseorang akan memberikan respons secara tidak biasa pada pesan yang paling rutin sekalipun”.

Asumsi keempat URT menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses yang melibatkan tahapan-tahapaan perkembangan. Menurut Berger dan Calabrase, biasanya kebanyakan orang memulai interaksi dalam sebuah fase awal (entry phase), yang dapat didefinisikan sebagai tahapn awal interaksi antara orang asing. Fase awal dituntun oleh aturan dan norma implisit dan eksplisit, seperti membalas ketika orang mengatakan, ”Hai! Apa kabar?”. setelah itu, orang memasuki tahapan kedua, yang disebut sebagai fase personal (personal phase), atau tahap dimana partisipan mulai berkomunikasi dengan lebih spontan dan membuka lebih banyak informasi pribadinya. Fase personal dapat terjadi dalam perjumpaan awal, tetapi lebih banyak terjadi setelah dilakukan beberapa interaksi. Tahap ketiga, fase akhir (exit phase), merujuk pada tahapan selama di mana individu membuat keputusan mengenai apakah mereka ingiin untuk melanjutkan interaksi dengan pasangannya di masa yang akan datang. Meskipun senua orang tidak memasuki sebuah tahapan dengan cara yang sama satau tetap pada sebuah tahapan selama beberapa waktu, Berger dan Calabrase yakin bahwa sebuah kerangka universal terbentuk untuk menjelaskan bagaimana komunikasi interpersonal membentuk dan merefleksikan perkembangan hubungan interpersonal.

Asumsi kelima menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah alat untama bagi pengurangan ketidakpastian. Karena kita telah mengidentifikasi komunikasi interpersonal sebagai fokus URT, asumsi ini bukan merupakan hal yang mengherankan.

Asumsi berikutnya menggarisbawahi sifat waktu. Asumsi ini juga berfokus pada fakta bahwa komunikasi interpersonal adalah perkembangan. Teoretikus pengurangan ketidakpastian percaya bahwa interaksi awal adalah eelemen kunci dalam proses perkembangan ini.

Asumsi terakhir mengindikasikan bahewa perilaku orang dapat diprediksi dalam cara seperti hukum. Sebuah pola digambarkan, tetapi pemikiran deterministik menyatakan bahwa hukum natural agak sedikit lebih lenggar. Akan tetapi, tetap saja untuk mendekati tujuan dari pernyataan ’seperti hukum’ tampak menakutkan. Oleh karenanya, teori-teori seperti URT mulai dengan apa yang mungkin terlihat seperti pengamatan yang wajar dengan tujuan untuk membentuk keteraturan-keteraturan yang mengatur perilaku manusia. Teori cakupan hukum disusun untuk mengubah pernyataan yang sebelumnya diasumsikan sebagai benar (atau aksioma) menjadi pernyataan yang diturunkan dari kebenaran ini (atau teorema).

Aksioma Teori Pengurangan Ketidakpastian

Teori Pengurangan Ketidakpastian adalah teori yang aksiomatik. Ini  berarti bahwa Berger dan Calabrese memulai dengan sekumpulan aksioma, atau kebenaran yang ditarik dari penelitian sebelumnya dan akal sehat. Aksioma-aksioma ini, atau disebut sebagai proposisi oleh peneliti lainnya, tidak membutuhkan adanya bukti lebih selain pernyataan itu sendiri. Berger dan Calabrese mengambil pemikiran aksiomatik ini dari penelitian sebelumnya (Blalock, 1969), yang menyimpulkan bahwa hubungan kausal harus dinyatakan dalam bentuk aksioma. Aksioma adalah jantung dari sebuah teori. Aksioma harus diterima sebagai valid karena merupakan batu penyusun dalam teori. Tiap aksioma menggambarkan hubungan antara ketidakpastian (konsep teoretis sentral) dan satu konsep lainnya. URT mengemukakan adanya tujuh aksioma. Untuk memahami tiap aksioma, kita akan kembali pada contoh awak kita mengenai Edie dam Malcolm.

Aksioma 1 : Dengan adanya tingkat ketidakpastian yang tinggi pada permulaan fase awal, ketika jumlah komunikasi verbal antara dua orang asing meningkat, tingkat ketidakpastian untuk setiap –artisipan dalam suatu hubungan akan menurun. Jika ketidakpastian menurun, jumlah komunikasi verbal meningkat. Hal ini menyatakan adanya kebalikan atau hubungan negatif antara ketidakpastian dan komunikasi verbal.

Sehubungan dengan situasi Edie dan Malcolm dikaitkan dengan aksioma ini, teori ini menyatakan bahwa jika mereka berbicara lebih banyak dengan satu sama lain, mereka akan menjadi lebih pasti mengenal satu sama lain. Selanjutnya, ketika mereka berusaha untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik, mereka akan berbicara lebih banyak satu sama lain.

Aksioma 2: Ketika ekspresi afiliatif nonverbal meningkat, tingkat ketidakpastian menurun dalam situasi interaksi awal. Selain  itu, penurunan tingkat ketidakpastian akan menyebabkan peningkatan keekspresifan afiliatif nonverbal. Hal ini merupakan salah satu hubungan yang bersifat negatif.

Apabila Edie dan Malcolm saling mengekspresikan diri mereka dengan cara nonverbal yang hangat, mereka akan menjadi lebih pasti mengenal satu sama lain, dan saat mereka melakukan ini, mereka kan meningkatkan afiliasi nonverbal mereka satu dengan lainnya. Mereka mungkin akan lebih banyak menggunakan ekspresi wajah, atau mereka mungkin akan melakukan kontak mata yang lebih lama. Bahkan, keduanya mungkin akan mulai saling menyentuh dengan cara bersahabat ketika mereka mulai saling merasa nyaman.

 

Aksioma 3: Tingkat ketidakpastian yang tinggin menyebabkan penurunan tingkat keintiman dari isi komunikasi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat keintiman yang tinggi. Aksioma ini memperlihatkan hubungan yang negatif antara ketidakpastian dan tingkat keintiman.

Oleh karena ketidakpastian antara Edie dam Malcolm relatif tinggi, mereka mulai dengan pembicaraan yang ringan dan tidak secara nyata membuka diri. Keintiman dari isi komunikasi mereka rendah, maka ketidakpastian mereka kan berada pada tingkat tinggi. Aksioma keempat ini menyatakan bahwa juka mereka terus mengurangi ketidakpastian dalam hubungan mereka, maka komunikasi mereka akan terdiri atas tingkat-tingkat tingkat-tingkat keintiman yang lebih tinggi. Berger (1979) menyatakan, bahwa selama proses pembukaan diri ini, para partisipan harus menilai integritas dari keterbukaan itu. Apakah ada kemungkinan bahwa informasi yang diterima seorang individu bersifat bias, terlalu positif, atau terlalu negatifff? Beberapa penilaian ini mungkin akan menjadi problematis bagi kedua orang yang sedang berada dalam suatu perjumpaan.

 

Aksioma 5: Ketidakpastian yang tingkat tinggi menghasilkan tingkat resiprositas yang tinggi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat resiprositas rendah pula. Hubungan yang positif terjadi disini.

 

Menurut URT, selama Edie dan Malcolm merasakan ketidakpastian mengenai satu sama lain, mereka akan cenderung untuk meniru perilaku masing-masing. Resiprositas (reciprocity) menyatakan bahwa jika seseorang memberikan sedikit detail personal, lainnya akan melakukan hal yang sama. Setelah Edie mengatakan bahwa dia tidak begitu memahami apa yang diajarkan di kelas dan bahwa dia mengambil jrusan teknik, Malcolm memberitahukan jurusan yang diambilnya kepada Edie dan bahwa dia kemungkinan mempunyai masalah jika ia mengambil kelas teknik. Reprositas langsung semacam itu adalah sebuah tanda dari perjumpaan awal. Main banyak orang berbicara satu sam alain dan mengembangkan hubungan mereka, makin mereka percaya bahwa resiproritas akan terjadi suatu titik tertentu.

 

Aksioma 6: Kemiripan di antara orang akan mengurangi ketidakpastian, sementara ketidakmiripan akan meningkatkan ketidakpastian. Aksioma ini menyatakan sebuah hubungan yang negatif.

 

Oleh karena Edie dan Malcolm adalah mahasiswa di Universitas Urban, mereka mungkin mempunyai kesamaan yang m,engurangi beberapa ketidakpastian mengenai satu sama lain secara cepat. Akan tetapi, mereka berbeda jenis kelamin dan berbeda jurusan-ketidakmiripan yang mungkin memengaruhi tingkat ketidakpastian mereka.

 

Aksioma 7: Peningkatan tingkat ketiodakpastian akan menghasilka penurunan dalam kesukaan; penurunan dalam ketidakpastian menghasilkan peningkatan dalam kesukaan. Lagi-lagi hubungan negatif diperlihatkan oleh aksioma ini.

 

Ketika Edie dan Malcolm mengurangi ketidakpastian mereka, mereka akan meningkatkan kesukaan mereka satu dengan lainnya. Jika mereka terus merasakan ketidakpastian yang tinggi mengenai satu sama lain, mereka  kemungkinan tidak akan menyukai satu sama lain. Aksioma ini menerima beberapa dukungan empiris yang tidak langsung. Dalam sebuah studi yang mempelajari mengenai hubungan antara kepuasan komunikasi dan pengurangan ketidakpasrtian, James Neuliep dan Erica Grohskopf (2000) menemukan bahwa partisipan yang menjadi pewawancara dalam sebuah permainan oeran organisasi lebih memperlihatkan perasaan positif terhadap partisipan yang berperan sebagai pencari kerja (dan akan cenderung memutuskan untuk mempekerjakan mereka) ketika ketidakpastian mereka rendah.

Teori Pengurangan Ketidakpastian telah memberikan kontribusi penting bagi bidang komunikasi, walaupun telah menimbulkan kontroversi dan perdebatan teoritis. Selain itu, meskipun teori ini mungkin bersifat linear. Teori ini telah mendorong munculnya banyak komentar dan penelitian, dan teori ini menempatkan komunikasi dalam posisi yang utama. Teori ini menandai mulanya para peneliti komunikasi berfokus pada disiplin mereka sendiri untuk penjelasan teoritis daripada meminjam teori dari disiplin lainnya. Selanjutnya, teori memunculkan dialog berkelanjutan ketika para peneliti meneruskan debat mereka mengenai validitas pada pengurangan ketidakpastian sebagai sebuah masalah utama dalam pengembangan hubungan.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MENUMBUHKAN HUBUNGAN INTERPERSONAL DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan. Tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Lalu apa saja faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik? Seperti telah disebutkan di muka, tulisan ini akan membahas tiga hal: percaya, sikap suportif, dan sifat terbuka.

Percaya (Trust)

Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:

  • Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
  • Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
  • Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.

Perilaku Suportif

Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:

  • Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
  • Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cara mencapai tujuan.
  • Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.

Sikap Terbuka

Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll. Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.

 

D. PENUTUP

Setelah menjabarkan teori-teori dan pendapat-pendapat dari para pakar komunikasi, akhirnya didapat kesimpulan guna meyakini proposisi KAP mempunyai fungsi seperti To relate to others and to form relationship secara ilmiah.

Komunikasi interpersonal membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk sosial, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.

Fungsi tersebut dapat dilihat sebagai motivasi untuk melakukan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, kita melakukan komunikasi interpersonal untuk memenuhi kebutuhan dalam membentuk suatu hubungan, dan juga dapat dilihat sebagai hasil yang ingin dicapai dari komunikasi interpersonal. Kita melakukan komunikasi interpersonal untuk mengenal diri kita sendiri lebih baik, mengenal orang lain secara lebih baik pula, maupun untuk membuat hubungan yang lebih bermakna dan memperolah pengetahuan tentang dunia luar.

Uraian di atas menunjukan bahwa manusia tidak dapat menghindar dari jalinan hubungan dengan sesamanya. Kita mungkin memiliki kadar yang berbeda dalam membutuhkan orang lain, demikian pula mengenai nilai penting kuantitas dan kualitas hubungan antarpribadi. Meskipun demikian, secara pasti dapat dikatakan bahwa kita memerlukan hubungan antarpribadi.

 

DAFTAR RUJUKAN

Rakhmat, Jalaludin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Littlejohn, Stephen W. 2005. Theories of Human Communication. Belmont, California: Thomson Wadsworth Publishing Company.

Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Profesional Books.

West, Richard. Turner Lynn. 2007. Introducing Communication Theory. NY: Mc Graw Hill.

John Fiske, Introduction to Communication Studies, Sage Publications, 1996.

Lederer, W.K..1984. Creating a Good Relationship. New York: Norton.

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.